JAKARTA, KOMPAS - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan rekor baru di awal 2026. Penguatan ini ditopang oleh arus dana asing yang konsisten, serta dukungan kebijakan pemerintah dan sinergi antarotoritas pasar modal.
Pada perdagangan Kamis (15/1/2026), IHSG dibuka di level 9.033. Pada pukul 10.20 WIB, IHSG sempat menembus level 9.100,8. Kenaikan harga indeks komposit ini dipimpin saham-saham sektor konsumen non-primer atau consumer cyclicals (sektor yang kinerjanya sensitif terhadap siklus ekonomi).
Capaian ini melanjutkan tren positif perdagangan Rabu (14/1/2025), ketika IHSG menguat 84,28 poin atau 0,94 persen dan mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high (ATH). Bahkan, secara intraday atau selama jam perdagangan, indeks sempat menyentuh level 9.049,30.
Kiwoom Sekuritas Indonesia, dalam laporan analisis pasar pagi ini, mengatakan, penguatan IHSG didorong oleh arus masuk dana asing yang masih konsisten. Pada perdagangan Rabu, investor asing mencatatkan foreign net buy, yaitu pembelian bersih setelah dikurangi penjualan, senilai Rp 1,16 triliun di seluruh pasar.
Dalam sepekan terakhir, total pembelian bersih asing mencapai Rp 4,46 triliun. Sementara sejak awal tahun hingga Rabu, nilainya mencapai Rp 6,35 triliun. “Arus dana asing ini turut membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, meskipun masih berada pada level yang rentan di kisaran Rp 16.852 per dolar AS,” sebut Tim Analis Kiwoom Sekuritas.
Kemarin, indeks saham konsumen siklikal juga menjadi penggerak utama dengan kenaikan 3,21 persen. Saham-saham sektor bahan baku atau basic materials seperti PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi incaran investor asing dengan nilai transaksi di atas Rp 100 miliar.
Minat asing juga tercatat pada saham berkapitalisasi besar atau large market capitalization (large cap) seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), serta PT Astra International Tbk (ASII).
Meski demikian, Kiwoom mengingatkan potensi kejenuhan pasar. Secara teknikal, IHSG dinilai sudah berada di area resistance, yaitu level harga yang sulit ditembus karena tekanan jual, dengan indikasi negative divergence pada indikator Relative Strength Index (RSI)—kondisi ketika harga naik tetapi kekuatan momentumnya melemah.
“Strategi trailing stop, yakni menaikkan batas jual seiring kenaikan harga untuk mengunci keuntungan, tetap disarankan sambil membiarkan profit berjalan. Wajar jika portofolio mulai menyusut saat pasar mulai terlihat terlalu panas,” kata mereka.
Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai, IHSG yang tembus level 9.000 mencerminkan kepercayaan investor yang semakin kuat terhadap prospek perekonomian nasional pada 2026. Ini terlihat sejak 2025. Saat itu, pada akhir 2025, IHSG ditutup menguat 22,10 persen di level 8.644,26 dan mencatatkan 24 kali rekor ATH.
BEI menekankan peran kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi serta sinergi BEI dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan self-regulatory organization (SRO) lain, seperti PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dalam memperkuat ekosistem pasar modal.
“Sepanjang 2025, pasar modal Indonesia mencatat berbagai rekor, mulai dari jumlah investor yang mencapai 20,3 juta hingga pencatatan 26 saham baru dengan dana initial public offering (IPO)—penawaran saham perdana ke publik—sebesar Rp 18,1 triliun,” ujar Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi Nurahmad, dalam rilis yang dikutip hari ini.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, kepada wartawan, menilai prospek pasar saham domestik masih konstruktif meskipun dihadapkan pada tantangan inflasi yang tinggi, pelemahan rupiah, dan tekanan eksternal global.
“Pasar saham tetap bergerak positif karena pelaku pasar melihat prospek ekonomi yang lebih baik ke depan, terutama jika kebijakan moneter dan fiskal dapat diselaraskan,” ujar Rully.
Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat meningkat menjadi 5,3 persen pada 2026, dibandingkan sekitar 5,1 persen pada 2025.
Dalam jangka menengah hingga panjang, sektor komoditas dan pertambangan, serta sektor telekomunikasi dan infrastruktur telekomunikasi dinilai masih berpotensi menjadi penopang IHSG.




