Bijak tapi Kosong: Ketika Nasihat Tak Lagi Butuh Integritas

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Berapa banyak dari kita yang pernah mendengar kalimat ini. Di mimbar, di kelas, atau berseliweran di media sosial: “Dengarlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan.”

Kalimat itu terdengar bijak, netral, dan seolah dewasa secara intelektual. Ia sering dipakai untuk menutup kritik terhadap seorang penceramah, tokoh publik, atau influencer yang ucapannya bagus tetapi perilakunya problematik. Namun jika ditelaah lebih dalam, benarkah nasihat ini sesederhana dan seaman itu?

Masalah pertama dari kalimat tersebut adalah legitimasi. Banyak orang mengutipnya seolah-olah ia berasal dari hadis atau ucapan sahabat Nabi, bahkan sering dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib. Sayangnya, ketika ditanya sumbernya, rujukan itu kerap menguap.

Tidak jelas sanadnya, tidak jelas konteksnya, bahkan tidak jelas apakah ia benar-benar pernah diucapkan. Kalimat yang tampak religius dan filosofis ini justru sering berdiri tanpa dasar otoritatif yang kuat. Bijak, tapi kosong.

Masalah kedua, dan ini yang lebih serius, adalah implikasi logisnya. Jika kita diminta hanya mendengar pesannya tanpa mempedulikan siapa yang menyampaikan, maka standar moral dan akuntabilitas runtuh.

Dengan logika ini, seorang penipu boleh berbicara tentang kejujuran, seorang pelaku kekerasan boleh berkhotbah tentang kasih sayang, dan seorang koruptor sah-sah saja berpidato soal integritas. Selama katanya indah, publik diminta menutup mata terhadap perilakunya.

Di sinilah letak bahayanya. Nasihat semacam ini, disadari atau tidak telah memberi karpet merah bagi kemunafikan. Ia menjadi tameng moral bagi mereka yang piawai berbicara tetapi gagal hidup sesuai ucapannya. Dalam ekosistem media sosial, logika ini semakin subur.

Pencitraan menjadi raja. Siapa pun yang fasih merangkai kata dapat tampil sebagai panutan, meskipun rekam jejaknya penuh kontradiksi.

Padahal, dalam tradisi Islam sendiri, persoalan ini justru ditegaskan secara keras. Al-Quran secara eksplisit mengecam ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan. Dalam Surah Ash-Shaff ayat 2–3 disebutkan:

Ini bukan sekadar nasihat moral biasa. Ini adalah teguran langsung dari Tuhan, dengan bahasa yang tegas dan tanpa ambigu.

Ayat ini menunjukkan bahwa integritas personal bukan aksesori, melainkan inti dari pesan itu sendiri. Dalam konteks ini, siapa yang berbicara menjadi relevan, bahkan krusial. Bukan untuk meniadakan kebenaran sebuah pesan, tetapi untuk menilai kelayakan moral dan kejujuran si penyampai. Sebab pesan yang benar di tangan orang yang salah bisa berubah fungsi: dari pencerahan menjadi manipulasi.

Tentu, ini bukan berarti kebenaran harus ditolak hanya karena disampaikan oleh orang yang bermasalah. Namun membedakan antara “kebenaran pesan” dan “otoritas moral pembicara” adalah hal yang wajib. Kita bisa mengambil ilmunya, tetapi tetap berhak.

Bahkan berkewajiban mengkritik kemunafikannya. Menormalisasi ketidakkonsistenan dengan dalih “yang penting pesannya” adalah bentuk kemalasan berpikir.

Pada akhirnya, masyarakat yang sehat bukan hanya butuh kata-kata indah, tetapi juga keteladanan. Ucapan dan perbuatan harus saling menguatkan, bukan saling meniadakan. Jika tidak, kita sedang membangun budaya yang memuja retorika sambil memaafkan kebohongan. Dan itu, dalam ukuran moral apa pun, adalah kekalahan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Astra International (ASII) Setop Buyback Saham Rp 2 Triliun Lebih Awal
• 17 jam lalukatadata.co.id
thumb
Masdar UEA: PLTS Cirata beroperasi sesuai rencana, jadi sorotan dunia
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
PELNI Logistics targetkan pendapatan usaha Rp568,44 miliar pada 2026
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Mau Long Weekend di Yogya? Sepertinya Kali ini Lebih Longgar tak Padat
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
IHSG Sesi I Naik 0,89 Persen ke 9.028, Saham KOCI, ACST, hingga DOOH Melesat
• 15 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.