OTORITAS Iran secara resmi mulai membatasi akses ruang udara mereka bagi penerbangan internasional di tengah meningkatnya ketegangan regional. Berdasarkan data dari Flightradar24, Iran menutup ruang udaranya untuk semua rute, kecuali bagi penerbangan internasional tertentu yang memiliki izin khusus untuk masuk atau keluar dari negara tersebut.
Pantauan data pelacakan langsung menunjukkan maskapai komersial dunia mulai menghindari wilayah udara Iran. Hingga berita ini ditulis, hanya terpantau empat pesawat komersial yang berada di langit Iran, sementara sejumlah pesawat lain terlihat melakukan manuver putar balik untuk menghindari area tersebut.
Lufthansa Hindari Wilayah KonflikMaskapai raksasa Jerman, Lufthansa, menjadi salah satu yang bereaksi cepat terhadap situasi ini. Grup Lufthansa, yang membawahi Austrian, Brussels Airlines, Discover, Eurowings, Swiss, dan ITA Airways, menyatakan akan menghindari ruang udara Iran dan Irak "hingga pemberitahuan lebih lanjut".
Baca juga : Iran Ancam Balasan ke AS dan Israel di Tengah Sinyal Serangan Trump
"Keputusan ini diambil karena situasi terkini di Timur Tengah," tulis pernyataan resmi grup tersebut yang dikutip dari AFP.
Lufthansa juga menjadi maskapai besar pertama yang memberikan sinyal penarikan diri secara signifikan dari wilayah udara Israel. Manajemen telah menginstruksikan staf untuk bersiap keluar dari negara tersebut dan mengumumkan penangguhan penerbangan secara luas demi alasan keamanan.
Untuk rute menuju Israel dan Yordania, Lufthansa mengubah jadwal menjadi penerbangan siang hari mulai Kamis hingga Senin pekan depan. Langkah ini dilakukan guna memastikan awak pesawat tidak perlu bermalam di lokasi yang terdampak ketegangan.
Baca juga : Ali Khamenei Tegaskan Iran takkan Menyerah kepada Siapapun
Bayang-bayang Ancaman Militer ASKetegangan di ruang udara ini terjadi bertepatan dengan retorika keras Presiden AS Donald Trump terhadap Iran. Sejak gerakan protes besar mengguncang Iran pada akhir Desember lalu, Trump berulang kali mengancam akan melakukan intervensi militer.
Pada Rabu (14/1), Trump tetap bersikap samar mengenai prospek intervensi militer, namun menegaskan bahwa Washington akan terus memantau situasi dengan sangat ketat. "Kita akan lihat apa yang terjadi," ujarnya mengenai potensi tindakan militer AS.
Gelombang demonstrasi yang sedang berlangsung di Iran saat ini disebut sebagai yang terbesar sejak Republik Islam diproklamasikan tahun 1979. Kondisi keamanan yang tidak menentu ini membuat otoritas penerbangan sipil di berbagai negara mulai mengeluarkan rekomendasi keamanan guna menghindari risiko dari eskalasi konflik yang sewaktu-waktu bisa memanas. (AFP/The Guardian/Z-2)





