Belajar dari Kisah Broken Strings, Ini 7 Cara Lindungi Anak dari Child Grooming

katadata.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Kisah dalam buku Broken Strings kembali menempatkan isu child grooming sebagai perhatian serius di ruang publik. Memoar karya Aurelie Moeremans tersebut mengungkap bagaimana manipulasi emosional dapat berlangsung sejak usia remaja tanpa disadari oleh korban maupun lingkungan sekitar. 

Memasuki awal 2026, pembahasan mengenai child grooming semakin perlu dipelajari kembali karena pola kejahatan ini kerap dilakukan secara halus dan manipulatif. Berbeda dengan kekerasan fisik yang terlihat kasatmata, grooming merupakan proses panjang yang bertujuan membangun kepercayaan sebelum berujung pada eksploitasi seksual. 

Apa Itu Child Grooming?
apa itu child grooming (unsplash.com)

 

Secara psikologis, child grooming merupakan teknik yang dilakukan orang dewasa untuk memanipulasi pikiran anak atau remaja. Tujuan akhirnya adalah mengeksploitasi atau melecehkan korban secara seksual.

Dalam praktiknya, grooming dapat terjadi secara langsung maupun melalui media digital. Pelaku berupaya membangun kepercayaan dan ikatan emosional sehingga korban merasa aman, dimengerti, dan bergantung. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan mental, tetapi juga fisik anak dalam jangka panjang.

Proses Child Grooming yang Jarang Disadari

Kasus child grooming umumnya tidak terjadi secara instan. Pelaku yang sering disebut predator seksual menargetkan anak dengan kondisi emosional tertentu, seperti kepercayaan diri rendah atau sedang mengalami konflik keluarga. Proses manipulasi dilakukan secara perlahan agar korban patuh dan mudah dikendalikan.

Pelaku memposisikan diri sebagai sosok yang paling memahami perasaan anak. Empati, perhatian berlebihan, dan kedekatan emosional dibangun hingga korban merasa diistimewakan. Dalam kondisi ini, korban kerap tidak menyadari bahwa dirinya sedang diarahkan menuju eksploitasi.

Jika kepercayaan sudah terbentuk, pelaku lebih leluasa melakukan pelecehan atau intimidasi. Ancaman, rasa takut, hingga upaya memisahkan korban dari keluarga sering digunakan agar korban tetap bungkam.

Dampak Child Grooming bagi Anak

Pengalaman child grooming dapat meninggalkan dampak serius bagi anak. Secara psikologis, korban berisiko mengalami gangguan kecemasan, depresi, hingga post-traumatic stress disorder. Gangguan tidur, kesulitan konsentrasi, dan masalah makan juga kerap muncul.

Dalam kasus yang berlanjut menjadi kekerasan seksual, risiko penyakit menular seksual juga meningkat. Selain itu, perubahan sikap seperti menarik diri, mudah marah, dan ketergantungan pada pelaku sering terlihat.

7 Cara Mencegah Child Grooming

Pencegahan Child Grooming membutuhkan peran aktif dari lingkungan sekitar. Deteksi dini dapat dilakukan dengan memahami tanda-tanda yang muncul pada anak, seperti perubahan perilaku, ketergantungan pada sosok dewasa tertentu, atau sering menerima hadiah.

Berikut tujuh cara yang dapat diterapkan orang tua untuk melindungi anak dari child grooming

1. Membangun Kerja Sama dengan Lingkungan

Pencegahan child grooming memerlukan kerja sama antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. Edukasi mengenai hal ini perlu disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami oleh anak dan pendidik. Lingkungan yang peka dapat menjadi lapisan perlindungan pertama bagi anak.

2. Menjadi Pendengar yang Baik Bagi Anak

Komunikasi terbuka menjadi kunci utama dalam mencegah grooming. Anak yang merasa didengar akan lebih berani menyampaikan ketidaknyamanan tanpa rasa takut.

Langkah ini memungkinkan orang dewasa memahami kondisi emosional anak. Dalam Broken Strings, keterbatasan ruang bercerita memperpanjang proses manipulasi.

3. Mewaspadai Perubahan Perilaku

Perubahan perilaku sering menjadi sinyal awal terjadinya child grooming Anak dapat menjadi lebih tertutup, sering menyembunyikan ponsel, atau terus membicarakan sosok dewasa tertentu.

Perhatian terhadap tanda-tanda ini penting agar intervensi dapat dilakukan lebih cepat sebelum dampaknya semakin berat.

4. Memantau Aktivitas Digital Anak

Pengawasan aktivitas digital menjadi langkah krusial yang perlu dilakukan orang tua. Edukasi mengenai interaksi aman di dunia maya perlu dilakukan melalui dialog yang konsisten dengan anak.

Langkah ini membantu anak memahami risiko berkomunikasi dengan orang asing tanpa menimbulkan rasa diawasi secara berlebihan.

5. Mengajarkan Batasan Tubuh

Pendidikan mengenai batasan tubuh dan privasi perlu dikenalkan sejak dini. Anak harus memahami bahwa mereka memiliki kendali atas tubuhnya dan berhak menolak sentuhan yang membuat tidak nyaman.

6. Membiasakan Anak untuk Melapor

Anak perlu didorong untuk melapor apabila mengalami hal tidak menyenangkan. Saluran komunikasi dengan orang dewasa yang terpercaya harus selalu tersedia. Anak juga perlu diajari bahwa melapor bukanlah suatu bentuk kesalahan, melainkan langkah berani untuk melindungi diri. 

7. Menjadi Sahabat bagi Anak

Remaja di bawah usia 17 tahun sering menjadi target grooming karena kondisi emosional yang belum stabil. Untuk itu, orang tua perlu menjadi sosok sahabat bagi Anak agar mudah melakukan pengawasan. 

Dengan kedekatan emosional yang sehat, orang dewasa dapat memahami dinamika kehidupan anak tanpa mereka merasa tertekan. 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ijazah hingga Mobil Mewah Ludes, Sahroni Curhat Luka Terbesar di Balik Penjarahan Rumah Rp80 Miliar
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Hampir Rp1 Triliun Habis, Air Tidak Mengalir, Susno Duadji Bongkar Dugaan Korupsi Proyek Irigasi Pagar Alam
• 17 jam lalufajar.co.id
thumb
Avengers: Doomsday Rilis Teaser 4, Ini Detail Pertemuan Shuri dan The Thing
• 18 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Kuliner Kereta Hadir di TikTok Shop dan Tokopedia, Mudah Dinikmati
• 4 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Kisah Aurelie Moeremans Buka Luka Lama, Nikita Willy Jadi Sorotan Publik
• 2 jam lalueranasional.com
Berhasil disimpan.