Chicago: Harga emas dunia melonjak ke rekor tertinggi baru pada perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga. Sementara investor terus mencari perlindungan dari ketidakpastian geopolitik.
Mengutip Yahoo Finance, Kamis, 15 Januari 2026, harga emas berjangka naik satu persen menjadi USD4.643,80 per ons. Sementara harga spot naik 0,9 persen menjadi USD4.634,45, setelah menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di USD4.639,42 sebelumnya pada sesi tersebut.
Kepala Analis Pasar di KCM Trade Tim Waterer mengatakan angka inflasi terbaru telah mendorong harapan akan pelonggaran kebijakan moneter.
"Angka indeks harga konsumen AS menunjukkan inflasi tetap relatif terkendali di angka 2,6 persen (yoy), dan aset berisiko mungkin berharap untuk pembacaan indeks harga produsen yang serupa agar ekspektasi tetap hidup untuk pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut," jelas dia.
Baca juga: Meski Tergelincir, Emas Diyakini Masih Kuat 'Berlari Kencang'
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Fed diperkirakan pangkas suku bunga dua kali
Adapun, harga konsumen inti di AS naik 0,2 persen pada Desember 2025 dibandingkan dengan bulan sebelumnya, di bawah perkiraan kenaikan 0,3 persen dan tingkat tahunan 2,7 persen. Data harga produsen inti untuk Desember akan dirilis pada Rabu.
Pasar memperkirakan dua kali penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini, dengan penurunan pertama diperkirakan terjadi paling cepat pada Juni 2026.
Diketahui, emas yang tidak menawarkan imbal hasil, biasanya diuntungkan dari lingkungan suku bunga rendah serta periode ketidakpastian geopolitik atau ekonomi.
ANZ menyatakan dalam sebuah catatan, mereka memperkirakan harga emas akan diperdagangkan di atas USD5.000 per ons pada paruh pertama 2026.
