Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim pembunuhan terhadap demonstran di Iran telah dihentikan dan rencana eksekusi dibatalkan. Pernyataan itu disampaikan Trump di Gedung Putih pada Rabu (14/1), di tengah kekhawatiran global atas penindakan keras terhadap gelombang protes di Iran.
“Sumber penting di pihak lain mengatakan pembunuhan telah berhenti dan eksekusi tidak akan dilakukan. Seharusnya hari ini ada banyak eksekusi, tetapi itu tidak akan terjadi—kita akan lihat apakah benar,” kata Trump, dikutip dari AFP.
Klaim tersebut diamini Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang menegaskan pemerintah berada dalam “kendali penuh”.
“Tidak akan ada hukuman gantung hari ini atau besok. Saya yakin tidak ada rencana eksekusi,” ujarnya kepada Fox News, seraya menyebut situasi telah kembali tenang.
Namun, laporan kelompok HAM bertolak belakang. Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa eksekusi terhadap Erfan Soltani (26)—seorang pria Iran yang ditangkap saat gelombang protes—tidak jadi dilakukan sesuai jadwal, berdasarkan keterangan keluarga korban. Namun, situasi di lapangan masih sulit diverifikasi akibat pemadaman internet selama lima hari di Iran.
Iran Human Rights mencatat sedikitnya 3.428 demonstran tewas dan lebih dari 10 ribu orang ditangkap, sementara Amnesty International menuduh aparat melakukan pembunuhan massal dalam skala besar.
Pemantauan NetBlocks juga mencatat pemadaman internet selama sekitar 144 jam, yang menyulitkan verifikasi klaim meredanya protes. Meski begitu, Institute for the Study of War mencatat adanya penurunan tajam laporan aktivitas protes, yang dinilai sebagai dampak dari represi keamanan yang sangat keras.
Sementara laporan aktivitas demonstrasi disebut menurun, ketegangan belum reda. Trump menegaskan opsi militer belum sepenuhnya dicoret, sementara negara-negara G7 menyatakan keprihatinan serius dan membuka peluang sanksi tambahan, menandakan tekanan internasional terhadap Iran masih terus berlanjut.





