Angin Segar Emiten OASA, TOBA hingga MHKI dari Rencana Groundbreaking Proyek WtE

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Proyek pengelolaan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy disebut akan dimulai dengan pemancangan tiang pertama atau groundbreaking pada Maret 2026. Sentimen tersebut memberikan angin sejuk bagi sejumlah emiten bidang usaha WtE di pasar modal Indonesia.

Adapun proyek WtE merupakan salah satu dari 18 proyek hilirisasi strategis yang akan mulai dikerjakan tahun ini dengan nilai investasi mencapai Rp 600 triliun. Realisasi investasi proyek-proyek tersebut akan dipimpin langsung oleh Danantara Indonesia.

Di pasar modal Indonesia, ada beberapa emiten yang menggarap bisnis WtE, di antaranya adalah PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) dan PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI).

Kemudian ada PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) serta PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA).

Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani mengatakan, proyek tesebut WtE akan digarap oleh perusahaan yang memenangkan tender yang telah dilaksanakan Danantara beberapa bulan lalu. Dia mengatakan, proses penilaian para calon tender dilakukan dengan terbuka dan setiap proyek akan menggandeng mitra lokal.

Rosan juga mengatakan tak menutup kemungkinan Danantara akan membuka kembali tender proyek Wte jika terdapat daerah yang memiliki lokasi dibangunnya fasilitas WtE, teknologi sudah memadai dan sudah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Begitu ada yang siap, lokasi sudah ada, kemampuan sampai sudah ada, teknologinya juga, oke tender. Jadi gak nunggu-nunggu kita. Begitu dari Lingkungan Hidup sudah bilang ini siap, kita tenderkan,” kata Rosan dalam diskusi bertajuk Peran Danantara Indonesia Mendorong Pertumbuhan Berkualitas di Jakarta, Rabu (14/1).

Rosan menjelaskan, rencana proyek WtE akan dibangun di 34 kabupaten/kota atau di 34 titik. Adapun syarat lokasi tersebut dapat dibangun proyek WtE adalah memiliki sampah dengan bobot minimal 1.000 ton per hari. Dari sisi skema bisnis, Danantara sudah menetapkan harga dan parameter teknologinya sejak awal untuk menghindari proses negosiasi berlarut-larut.

Rosan juga menyinggung skala persoalan sampah yang hendak ditangani. Ia mencontohkan Jakarta yang menghasilkan 8.000–8.500 ton sampah per hari, sementara Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantar Gebang menampung sekitar 55 juta ton sampah yang setara 16.500 lapangan bola.

Karena itu, sistem WtE yang diminta tidak hanya menyerap sampah harian, tetapi juga mengolah sampah lama (landfill). Teknologi yang diminta pun tidak mensyaratkan pemilahan sampah di awal, mengingat praktik pemilahan di Indonesia masih terbatas.

Adapun proyek WtE merupakan proses pengolahan sampah yang tidak dapat didaur ulang melalui teknologi untuk menghasilkan energi, seperti panas, listrik atau bahan bakar alternatif. Teknologi ini diharapkan dapat mendukung kemandirian energi nasional, mengurangi volume sampah terbuka, serta menekan ketergantungan terhadap energi konvensional seperti batu bara. 

Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah memandang, program besutan Danantara ini merupakan langkah yang tepat. Sebab menurut dia, satu sisi Indonesia membutuhkan energi dan di sisi lain sampah menjadi permasalahan yang harus diselesaikan. 

“Jadi bagaimana kita mengelola limbah itu adalah sebuah keharusan,” kata Piter kepada Katadata, Rabu (14/1).

Piter menilai pengelolaan limbah menjadi energi sudah semestinya mulai dijalankan secara serius. Meski implementasinya dinilai terlambat dibandingkan negara lain seperti Singapura, ia tetap menyebut langkah ini patut diapresiasi.

“Seharusnya limbah itu bisa dimanfaatkan untuk menjadi salah satu solusi, khususnya dalam kita membangun alternatif energinya kita,” kata dia.

Prospek Saham Emiten WtE

NH Korindo Sekuritas Indonesia dalam risetnya memprediksi sejumlah saham berpotensi diuntungkan dengan proyek waste to energy. Emiten TOBA mendapat perhatian besar dari investor setelah melakukan akuisisi Sembcorp Enviro yang akan memfokuskan bisnisnya pada pengelolaan sampah.

Selanjutnya OASA tengah membangun PLTSa di Jakarta Timur dan estimasi beroperasi pada Q1-2026 serta proyek PLTSa Cipeucang, Tangerang Selatan dengan kapasitas 25 MW. Adapun MHKI yang merupakan pengelola limbah di Bantargebang, Bekasi, berencana melakukan ekspansi bisnis ke bidang pengelolaan sampah baru serta memperluas cakupan operasi ke Lamongan, Jawa Timur.  

Katalis MHKI dalam pengelolaan sampah juga terlihat dari fasilitas kredit dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp 4,95 miliar pada September lalu. MHKI menyebutkan dana yang diperoleh akan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional perseroan.  

MHKI merupakan entitas pengelola limbah industri di Bantargebang, Bekasi yang baru melantai di BEI pada 16 April 2024 lalu. Perseroan juga diketahui menjalin kerja sama dengan perusahaan sektor energi pelat merah seperti PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara hingga PT Pembangkit Listrik Tenaga Uap.   

Direktur Utama MHKI Alwi menyatakan, fasilitas baru ini akan didukung teknologi pengolahan limbah modern dan efisien. “Kami berkomitmen memberikan solusi terbaik dalam pengelolaan limbah industri, sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan secara berkelanjutan,” ujar Alwi dalam keterangan resmi perusahaan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Selundupkan 57 Kontainer Batubara Ilegal, 2 Warga Surabaya Dihukum 3 Tahun
• 13 jam laluberitajatim.com
thumb
Istri Anggota DPRD Kupang Geram Kasus Penelantaran oleh Suaminya Mandek
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Maling Curi Pelat Baja Gorong-gorong Perumahan di Depok
• 19 jam lalukompas.com
thumb
Bongkar PBB PT Wanatiara Persada, KPK Ungkap Ada Dugaan Aliran Dana Kasus Pajak ke DJP
• 19 jam lalusuara.com
thumb
Gaji Pokok Nol Rupiah, Hakim Ad Hoc Curhat Pilu: Meninggal Dunia Pun Harus Urunan
• 22 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.