Bisnis.com, JAKARTA - Bank sentral Korea Selatan mempertahankan suku bunga acuannya dan menutup peluang pemangkasan dalam waktu dekat, menandai pergeseran kebijakan moneter ke arah netral.
Melansir Bloomberg, Bank of Korea (BOK) menahan suku bunga repo tujuh hari di level 2,5% untuk kelima kalinya berturut-turut dalam rapat kebijakan pada Kamis (15/1/2026) waktu setempat.
Keputusan tersebut sejalan dengan proyeksi seluruh 21 ekonom yang disurvei Bloomberg. Penahanan suku bunga tersebut memperpanjang jeda pelonggaran moneter yang dimulai pada Juli, setelah bank sentral memangkas suku bunga sebanyak empat kali sejak Oktober 2024.
“Seiring inflasi yang diperkirakan stabil secara bertahap, pertumbuhan ekonomi terus membaik dan risiko terhadap stabilitas keuangan tetap ada. Oleh karena itu, Dewan Gubernur akan menetapkan kebijakan moneter dengan tetap mendukung pemulihan ekonomi, sambil mencermati secara saksama dinamika kebijakan domestik dan global," tulis BOK dalam pernyataannya.
Sebelumnya, BOK menyatakan akan menentukan apakah dan kapan penurunan suku bunga acuan selanjutnya akan dilakukan. Frasa tersebut kini dihapus dari pernyataan resmi.
Ekonom Nomura Holdings Jeong-Woo Park menilai bank sentral bergerak lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.
Baca Juga
- Menuju 2026, BI dan Bank Sentral Thailand Uji Ruang Pelonggaran Moneter
- Beda Arah dengan BI Rate, Bank Sentral Thailand Pangkas Bunga ke Level Terendah Sejak 2022
- Bank Sentral China (PBOC) Makin Gencar Dorong Internasionalisasi Yuan
“Bank of Korea tampaknya menutup pintu ekspektasi pemangkasan suku bunga di tengah meningkatnya tekanan nilai tukar. Ini mengindikasikan tekanan yang cukup besar dari pelemahan mata uang," ujarnya.
Keputusan tersebut diambil setelah perekonomian Korea Selatan menunjukkan ketahanan, meskipun prospek perdagangan global masih dibayangi kebijakan proteksionis.
Pada November lalu, BOK menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 1,8%, dengan dukungan ekspor yang solid dan pemulihan konsumsi swasta secara bertahap. Proyeksi inflasi juga dinaikkan menjadi 2,1%.
Rapat Kamis ini menyusul pergeseran sikap kebijakan yang lebih netral pada November, ketika BOK lebih dulu menghapus referensi mengenai kecenderungan pemangkasan suku bunga.
Gubernur BOK Rhee Chang-yong saat itu menyebutkan para pembuat kebijakan terbelah antara yang menilai pemangkasan suku bunga bisa dilakukan dalam tiga bulan dan yang berpandangan bank sentral perlu mempertahankan suku bunga. Menurutnya, level suku bunga saat ini sudah mendekati posisi yang tidak lagi bersifat restriktif maupun stimulatif.
Di tengah upaya menjaga momentum pemulihan ekonomi, perhatian pembuat kebijakan belakangan lebih tertuju pada potensi ketidakstabilan pasar keuangan, khususnya yang terkait sektor properti dan pelemahan won.
Nilai tukar won tercatat sebagai mata uang dengan kinerja terlemah di Asia sepanjang tahun ini, meningkatkan risiko inflasi melalui kenaikan harga impor. Isu tersebut turut disorot Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam pertemuannya dengan Menteri Keuangan Korea Selatan Koo Yun-cheol di Washington.
Dalam pernyataannya, Departemen Keuangan AS menyebutkan bahwa Bessent menilai depresiasi won tidak sejalan dengan fundamental ekonomi Korea Selatan yang kuat dan menegaskan bahwa volatilitas berlebihan di pasar valuta asing tidak diinginkan.
Sementara itu, reli pasar perumahan terus berlanjut meski pemerintah telah mengeluarkan serangkaian kebijakan untuk meredam permintaan. Harga apartemen di Seoul tercatat naik selama 49 pekan berturut-turut, berdasarkan data terbaru.
Pertumbuhan total kredit rumah tangga pada kuartal Juli–September melambat menjadi 0,8%, meskipun saldo kredit secara keseluruhan mencapai rekor tertinggi. Pada kuartal sebelumnya, laju pertumbuhan kredit merupakan yang tercepat sejak 2021.
Inflasi sejauh ini masih bergerak sejalan dengan proyeksi bank sentral, yang secara teori memberi ruang manuver kebijakan. Namun, BOK memperingatkan pelemahan mata uang dapat memicu risiko kenaikan inflasi ke depan.
Dalam strategi kebijakan pertumbuhan tahun ini, pemerintah Korea Selatan memasang target pertumbuhan ekonomi 2%, sedikit lebih optimistis dibanding proyeksi bank sentral. Meski demikian, pemerintah mengingatkan tanpa reformasi struktural, potensi pertumbuhan ekonomi dapat turun mendekati 1% pada 2030-an, bahkan mendekati nol setelahnya.
Sektor semikonduktor diperkirakan tetap menjadi motor utama pertumbuhan. Namun, Gubernur Rhee menekankan bahwa momentum di luar sektor teknologi masih lemah, dengan pertumbuhan non-TI jauh tertinggal dari angka agregat, sehingga memperumit arah kebijakan moneter.
Rhee dijadwalkan memberikan keterangan pers pada Kamis, di mana pasar akan mencermati penjelasan lebih lanjut mengenai prospek kebijakan, termasuk apakah terdapat suara berbeda dalam rapat Dewan Gubernur dan sejauh mana bank sentral mempertahankan pergeseran ke arah sikap netral dengan menekankan risiko stabilitas keuangan.




