Pasar Cipadu di Tangerang, Banten, selama ini dikenal sebagai pusat perdagangan tekstil terbesar di kawasan tersebut. Pada masa jayanya, pasar ini menjadi tujuan utama warga Tangerang dan sekitarnya untuk membeli beragam jenis kain, mulai dari bahan pakaian, sprei, hingga hordeng. Namun kini, denyut aktivitas di pasar tersebut kian melemah, ditandai dengan sepinya pengunjung.
Pantauan kumparan di Pusat Tekstil Cipadu pukul 10.58 WIB pada Kamis (15/1), menunjukkan suasana pasar yang lengang tanpa kehadiran pembeli. Area pasar lebih banyak diisi pedagang yang menghabiskan waktu dengan aktivitas lain, seperti menyeruput kopi, merokok, atau sekadar berbincang dengan sesama pedagang, ketimbang menawarkan dagangan.
Aril, salah satu pedagang tekstil di pusat tersebut, menyebut kondisi sepi telah berlangsung sejak pandemi COVID-19 melanda. Menurutnya, lesunya pasar sejak saat itu sampai sekarang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
“Sepi. Sepinya kayak (keadaan) online kak. Dari corona-lah ya,” ucap Aril kepada kumparan di lapak dagangannya, Pusat Tekstil Cipadu, Tangerang, Kamis (15/1).
Aril menjelaskan penjualan secara daring kerap menimbulkan persoalan, seperti barang yang dikembalikan pembeli meski sudah dipotong, sehingga menyebabkan kerugian. Karena alasan itu, Aril memilih tetap mengandalkan penjualan secara langsung di toko.
“Masih ada (yang beli ke online) tapi mungkin frekuensinya lebih dikit daripada sebelumnya. Biasanya ada orang daerah datang sini belanja, sekarang enggak,” kata Aril.
Di lapaknya, Aril menjual berbagai jenis kain, baik produksi lokal maupun impor. Ia menyebut, kain dengan harga tertinggi merupakan jenis bodi halus yang dibanderol sekitar Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per meter, bergantung kualitas dan asal barang. Sementara untuk satu roll kain dengan panjang sekitar 60 yard, harganya bisa menembus Rp 2,5 juta.
“Paling murah ini kain polos. Per meter (Rp) 15.000,” ungkap Aril.
Keluhan serupa juga dirasakan Mahendra. Ia mengatakan kondisi pasar yang terus melemah memaksanya mengurangi jumlah karyawan. Jika sebelumnya satu toko bisa mempekerjakan satu hingga dua orang, kini ia harus mengelola usaha seorang diri.
“Sekarang sudah turun tangan sendiri. Dulu 1 toko ini biasanya 2-3 orang. Ya gimana menggaji karyawan lagi. Pemasukan enggak sesuai kadang,” tutur Mahendra.
“Sekarang mulai ini sendiri. Ini kan gaji karyawan juga susah. Gaji pake apaan kan,” tambahnya.
Mahendra menuturkan pasokan kain yang sebelumnya rutin datang dari pabrik-pabrik di Bandung, Solo, dan sejumlah wilayah di Jawa, kini semakin jarang. Jika dahulu gudang bisa memasok barang satu hingga dua kali dalam sebulan, saat ini pasokan tersebut nyaris terhenti. “Sekarang udah jarang. (Penambahan stok) udah merosot banget,” kata Mahendra.
Sekitar satu kilometer dari lapak Aril dan Mahendra, kondisi serupa juga dialami oleh Edison. Pedagang yang telah berjualan di kawasan tersebut sejak 2005 itu menyebut suasana pasar kini jauh berbeda dibandingkan masa lalu.
Ia menilai penurunan aktivitas perdagangan mulai terasa sejak 2022 atau usai pandemi COVID-19 dan berlangsung secara signifikan.
“Untuk saat ini toko aja sekarang banyak yang kosong nih. Memang susah pasar sekarang itu kalau lihat dari kondisi ini kan, paling laris aja Rp 10 ribu, Rp 15 ribu, Rp 20 ribu. Kita bertahan saja di sini,” tutur Edison.
Untuk tetap bertahan, Edison juga mencoba menjajal penjualan secara daring meski dalam skala terbatas. Ia mengungkapkan pasokan barang dagangannya berasal dari industri rumahan dan pabrik garmen, tetapi banyak produsen kecil tersebut kini telah berhenti beroperasi.
Menjelang Lebaran 2026, Edison tidak melihat adanya lonjakan permintaan seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia menilai lesunya pasar dipicu oleh melemahnya aktivitas produksi, sehingga kebutuhan bahan baku ikut menurun.
“Biasanya 1 mobil, sekarang 3 rol, 2 rol diantar. Nggak banyak, harga juga jauh. Dari harga Rp 10 ribu, (jadi) Rp 5 ribu sekarang. Ini bertahan karena butuh makan saja,” kata Edison.





