Pakar Komunikasi Unair Nilai Stand Up Comedy Pandji Pragiwaksono Tak Pantas dan Tak Elok

tvonenews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Surabaya, tvOnenews.com - Materi Stand Up Comedy komika Pandji Pragiwaksono "Mens Rea" tengah menjadi sorotan publik.

Pandji dituding telah melakukan penghinaan kepada pejabat negara. Namun tidak sedikit pula yang mendukung materi komika Pandji tersebut. 

Sejumlah pihak juga telah melaporkan Pandji ke aparat kepolisian karena dituding telah melakukan penghinaan. 

Lantas seperti apa penilaian dari pakar komunikasi Universitas Airlangga (Unair) terkait Stand Up Comedy Pandji Pragiwaksono ini?

Pakar komunikasi publik Universitas Airlangga, Dr. Suko Widodo
Sumber :
  • tvOne - sandi irwanto

Heboh di awal tahun 2026 ini terkait Stand Up Comedy komika Pandji Pragiwaksono, yang bertajuk  Mens Rea menyedot perhatian publik. 

Tak hanya itu, Stand Up Comedy Pandji ini juga menuai kontroversi di tengah masyarakat karena dinilai terlalu berani dan menghina pejabat di negeri ini. 

Tak tanggung-tanggung Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran, menjadi bahan "cibiran" Pandji.

Pakar Komunikasi Publik Universitas Airlangga Suko Widodo menilai, Stand Up Comedy yang dilakukan Pandji ini memang berani. 

Suko Widodo menyebut dalam komunikasi ada tiga level yang perlu diperhatikan.

"Yakni pertama, terkait benar atau salah fakta yang disampaikan. Kedua, adalah pantas atau tidak pantas hal tersebut disampaikan. Dan yang ketiga, apakah elok (indah) atau tidak, hal ini dalam etika komunikasi perlu diperhatikan," ungkap Suko. 

Menurutnya, Stand Up Comedy Pandji ini dalam perspektif hukum yang digali adalah benar atau salah. 

Namun, pada komunikasi yang ditekankan adalah pantas atau tidak pantas hal yang disampaikan

"Jadi saya bukan ahli hukum. Kalau hukum itu yang dicari kan benar atau salah. Tapi kalau komunikasi itu penekannya pada pantas atau tidak, yang nantinya publik memberikan penilaian semua itu," imbuhnya. 

Bagi Suka Widodo dalam berkomunikasi yang perlu dicermati adalah persoalan empati, pantas atau tidak dan indah atau buruk, sehingga tidak ada yang terluka dan tersinggung.

"Empati itu penting dalam berkomunikasi karena itu menjadi kontrol sehingga ketika kita bicara tidal ada yang tersinggung, terluka dan merasa disakiti oleh omongannya," ujarnya. 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sutiyoso Dorong Penertiban Tiang Monorel Senayan, DPRD Buka Opsi Alih Fungsi
• 6 jam lalusuara.com
thumb
Merasa Dirugikan, Ayah Farel Prayoga Buat Pengaduan ke Bareskrim Polri
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Lonjakan Judi Online Anak Dorong Pendekatan Persuasif dan Restorative Justice oleh Aparat
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Ekonomi RI Ditarget Tumbuh 5,4% di 2026, Airlangga Akan Lakukan Ini
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
AHY Prioritaskan Rehabilitasi Hulu DAS Pascabencana Sumatera
• 13 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.