Nilai Tukar Rupiah Ditutup Ambrol ke Rp16.895,5 kala Dolar AS Melaju

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke posisi Rp16.895,5 pada perdagangan hari ini, Kamis (15/1/2026). Di sisi lain, greenback tercatat mengalami apresiasi. 

Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 30,50 poin atau 0,18% ke Rp16.895,5 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS menguat 0,15% menuju level 99,20.

Sementara itu, mayoritas mata uang di Asia ditutup melemah. Yen Jepang terdepresiasi 0,13% bersama won Korea sebesar 0,47%. Selanjutnya, ringgit Malaysia dan rupee India melemah 0,20% dan 0,12% terhadap dolar AS. 

Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Kamis 15 Januari 2026

Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa indeks dolar AS menguat seiring dengan meredanya ketegangan antara Washington dan Teheran. 

Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang meyakini otoritas Iran akan menghentikan eskalasi terhadap demonstran telah meredam kekhawatiran pelaku pasar akan adanya respons militer segera.

Sementara itu, dari sisi data ekonomi, rilis Penjualan Ritel AS melampaui perkiraan dan mengindikasikan rumah tangga AS tetap kuat dalam berbelanja. 

Ibrahim menuturkan bahwa kendati Indeks Harga Produsen (PPI) masih di atas target 2%, para pelaku pasar tetap optimis bahwa bank sentral AS tetap berada pada jalur pemangkasan suku bunga pada tahun ini.

“Hari ini fokus pasar adalah klaim pengangguran awal untuk minggu yang berakhir pada 10 Januari, dengan perkiraan 215.000 warga Amerika mengajukan tunjangan pengangguran, di atas 208.000 yang terlihat pada minggu sebelumnya,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (15/1/2026). 

Sementara itu, dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti kondisi konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. 

Dia mencatat kelompok kelas menengah di Indonesia saat ini berada dalam kondisi tertekan dan mulai bergeser menjadi kelompok masyarakat rentan. Untuk itu, dia menilai perlu adanya stimulus bagi kelas menengah. 

“Perlunya stimulus yang lebih banyak diberikan kepada kelas menengah untuk menjaga kondisi daya belinya. Sebab, kelas menengah merupakan kelompok yang terhimpit di tengah kondisi gejolak perekonomian, padahal merupakan pondasi pertumbuhan ekonomi,” pungkas Ibrahim. 

Selama ini, lanjutnya, stimulus fiskal lebih banyak menyasar kelompok rumah tangga miskin melalui bantuan sosial (bansos) dan BLT. Sementara untuk kelas menengah, insentif pajak PPh 21 yang baru diterapkan oleh pemerintah disebut masih terbatas pada lima sektor padat karya dan pariwisata. 

Ibrahim pun menilai bahwa diperlukan adanya perluasan bentuk stimulus bagi kalangan menengah agar daya beli nasional tetap terjaga stabil. 

Untuk perdagangan pekan depan, Senin (19/1/2026), Ibrahim memproyeksikan bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp16.890 hingga Rp16.920 per dolar AS.

INDONESIAN RUPIAH / U.S. DOLLAR - TradingView

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Satgas PKH Kuasai Kembali 4,09 Juta Hektare Kawasan Hutan
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
Buruh Gelar Demo di DPR dan Kemnaker Hari Ini, Tuntut Revisi UMP DKI-Jabar
• 10 jam laludetik.com
thumb
Kim Ji Young Heart Signal 4 Umumkan Segera Menikah dengan Pasangan Non-Selebriti
• 7 jam lalubeautynesia.id
thumb
Diteror, Aktivis Greenpeace dan Kreator Konten Lapor Polisi
• 15 jam lalurctiplus.com
thumb
Ini Argumen Penggugat Pasal Penghinan Presiden dan Wapres di KUHP Baru
• 23 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.