EtIndonesia. Situasi keamanan di Iran mengalami eskalasi sangat cepat dan kini berada pada titik yang dinilai paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir. Dalam dua hari terakhir, sejumlah negara—termasuk Amerika Serikat, Australia, Swedia, Polandia, India, dan beberapa negara Eropa—secara resmi mengeluarkan peringatan darurat dan mendesak seluruh warganya untuk segera meninggalkan Iran.
Langkah evakuasi massal ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran global terhadap kemungkinan konflik militer terbuka serta memburuknya situasi keamanan domestik akibat gelombang protes nasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Israel Naikkan Status Siaga: Serangan AS Tinggal Menunggu Waktu
Menurut laporan Channel 12 Israel, dalam beberapa jam terakhir Israel telah menaikkan tingkat kewaspadaan ke status siaga tertinggi khusus. Lembaga keamanan Israel menyatakan bahwa serangan Amerika Serikat terhadap Iran kini bukan lagi persoalan apakah akan terjadi, melainkan kapan akan terjadi.
Peningkatan status siaga ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap kemungkinan serangan balasan Iran, khususnya dalam bentuk serangan rudal jarak jauh terhadap wilayah Israel.
Demonstrasi Diaspora Iran: Kedutaan di Denmark Diterobos
Di Eropa, gejolak Iran juga memicu aksi langsung. Pada 13 Januari, sekelompok diaspora Iran menerobos masuk ke Kedutaan Besar Iran di Kopenhagen, Denmark. Para demonstran menyatakan bahwa gedung kedutaan tersebut “bukan milik rezim, melainkan milik rakyat Iran.”
Dalam aksi tersebut, potret Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei dan pendiri Republik Islam, Ruhollah Khomeini disobek di tempat, sebagai simbol penolakan terhadap kekuasaan teokrasi yang telah berkuasa hampir setengah abad.
Qatar Berpihak ke AS, Iran Kehilangan Sekutu Kunci
Iran kini menghadapi tekanan dari berbagai arah. Selain ancaman militer Amerika Serikat dan sanksi berat Barat, bahkan sekutu tradisionalnya di kawasan Teluk mulai mengambil jarak.
Pada 13 Januari, media pertahanan independen Defense Blog melaporkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) telah mendirikan pusat koordinasi pertahanan udara di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar.
Sebanyak 17 mitra regional terlibat dalam mekanisme ini, yang dirancang untuk membangun respons darurat terpadu terhadap ancaman rudal Iran.
Pengamat geopolitik Timur Tengah, Mario Nawfal menilai langkah ini sebagai sinyal jelas bahwa dunia Teluk telah membaca arah konflik. Qatar—yang selama ini dikenal memiliki hubungan relatif lebih baik dengan Iran dibanding Arab Saudi dan Uni Emirat Arab—kini memilih berpihak secara strategis kepada Amerika Serikat.
Penerbangan Mahan Air dari Tiongkok Picu Kecurigaan Global
Pada hari yang sama, 13 Januari, warganet global memantau data real-time dari Flightradar24 dan menemukan bahwa dua pesawat milik Mahan Air terbang dari Tiongkok menuju Teheran.
Mahan Air, maskapai swasta terbesar Iran yang didirikan pada 1992, dikenal memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Sepanjang sejarahnya, maskapai ini berulang kali dituduh menggunakan penerbangan sipil untuk mengangkut senjata, amunisi, dan personel militer ke kawasan konflik Timur Tengah.
Karena itu, Mahan Air telah lama menjadi target sanksi Departemen Keuangan AS dan Uni Eropa. Dalam konteks eskalasi protes dan penindasan brutal di Iran, dunia internasional mencurigai bahwa penerbangan tersebut membawa bantuan senjata dan logistik untuk menopang rezim Khamenei.
Iran Membara: Teheran dan Isfahan Jadi Medan Tempur
Di dalam negeri, situasi berkembang semakin liar. Pada malam 12 Januari, berbagai rekaman video menunjukkan bahwa jalan-jalan Teheran berubah menjadi medan perang. Para demonstran menggunakan bom molotov rakitan untuk melawan aparat militer dan kepolisian bersenjata lengkap.
Penindasan bersenjata tidak lagi efektif meredam kemarahan publik. Pada 13 Januari, Teheran kembali diguncang demonstrasi besar-besaran, dengan estimasi sekitar satu juta orang turun ke jalan. Aparat keamanan dilaporkan menghilang dari sejumlah titik strategis.
Di Isfahan, kota terbesar ketiga Iran, massa membakar kendaraan dan memblokade jalan utama guna memutus jalur bala bantuan IRGC.
Serangan Terhadap IRGC di Kermanshah
Pada 13 Januari dini hari, organisasi oposisi Partai Kebebasan Kurdistan mengumumkan bahwa mereka melancarkan serangan terhadap pangkalan IRGC di Kermanshah, Iran barat. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah personel IRGC, sementara sisanya melarikan diri. Pangkalan tersebut diklaim berhasil dihancurkan.
Partai ini didirikan pada 1991 dan selama lebih dari 30 tahun aktif menentang pemerintahan Iran, memperjuangkan kemerdekaan etnis Kurdi di wilayah barat laut negara itu.
Krisis Kemanusiaan: Air dan Makanan Menipis
Seorang sumber dari Iran mengatakan kepada jurnalis konservatif Amerika, Laura Loomer bahwa toko-toko di Iran kini kehabisan makanan dan air bersih. Tanpa air, manusia dapat meninggal dalam waktu 3–5 hari.
Laura Loomer menilai kelangkaan ini kemungkinan merupakan strategi IRGC untuk mematahkan protes. Ia memperingatkan bahwa situasi Iran sudah memasuki fase darurat kemanusiaan dan membutuhkan tindakan segera.
Trump Kirim Sinyal Keras: “Bantuan Sedang dalam Perjalanan”
Pada 13 Januari, Donald Trump menulis di platform Truth Social bahwa ia telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran dan menyatakan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan.”
Dalam wawancara dengan CBS pada hari yang sama, Trump mengeluarkan peringatan keras: “Jika mereka benar-benar mengeksekusi para demonstran, kami akan mengambil tindakan yang sangat kuat. Lihat apa yang terjadi pada Baghdadi. Lihat juga Soleimani.”
Dia menambahkan: “Ketika puluhan ribu orang dibantai, lalu mereka masih berpura-pura? Kita akan lihat konsekuensi apa yang harus mereka hadapi.”
Pengamat politik Tang Jingyuan menilai pernyataan ini sebagai sinyal bahwa peringatan verbal telah berakhir, dan dunia kini memasuki fase aksi nyata.
Starlink Jadi Jalur Harapan Terakhir
Di tengah pemutusan komunikasi besar-besaran, Elon Musk dilaporkan telah menginstruksikan para insinyur SpaceX untuk bekerja siang dan malam guna membantu rakyat Iran menghindari gangguan terhadap jaringan Starlink.
Langkah ini dinilai sebagai urat nadi terakhir komunikasi rakyat Iran dengan dunia luar.
Kesimpulan
Periode 12–13 Januari menandai titik balik paling krusial dalam krisis Iran. Dengan dunia mengevakuasi warganya, sekutu berbalik arah, oposisi bersenjata bergerak, dan Amerika Serikat mengirim sinyal keras, Iran kini berdiri di ambang perubahan besar—baik melalui runtuhnya rezim, maupun konflik regional berskala luas.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473684/original/015489900_1768452402-Laras.jpeg)


