Bank Woori Saudara (BWS) memperluas akses produk funding bagi nasabah perusahaan melalui Installment BWS, tabungan angsuran yang dirancang untuk membantu perencanaan keuangan korporasi dengan fleksibilitas setoran dan imbal hasil yang kompetitif. Produk ini ditujukan untuk memperkuat penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) sekaligus menjaga likuiditas bank.
Melalui Installment BWS, nasabah perusahaan dapat menyetorkan dana secara angsuran tetap setiap bulan dalam jangka waktu tertentu, dengan tanggal setoran yang telah ditetapkan. Dana tersebut dapat ditarik kembali sesuai kontrak pada saat jatuh tempo. Produk ini memungkinkan perusahaan menyusun perencanaan keuangan jangka menengah hingga panjang secara lebih terstruktur.
Installment BWS memberikan keleluasaan bagi nasabah perusahaan dalam menentukan jangka waktu simpanan dan jumlah setoran bulanan. Selain fleksibilitas tenor dan nominal, produk ini juga menawarkan tingkat suku bunga tabungan yang lebih menarik dibandingkan tabungan reguler, dengan pembayaran bunga yang dilakukan saat jatuh tempo.
Baca Juga: Perbankan Paling Banyak Tersangkut Perkara Penyidikan OJK
Nasabah perusahaan juga dapat memilih mata uang setoran, baik dalam rupiah maupun valuta asing dolar Amerika Serikat (AS). BWS membebaskan biaya administrasi untuk produk ini, sehingga diharapkan dapat menekan biaya pengelolaan dana bagi korporasi.
Adapun syarat dan ketentuan Installment BWS antara lain jangka waktu tabungan minimal enam bulan, dengan setoran bulanan minimal Rp1.000.000 atau USD100. Nasabah juga diwajibkan membuka rekening Tabungan Woori Saudara dalam mata uang rupiah atau dolar AS sebagai rekening relasi sekaligus rekening penampungan pencairan dana pada saat jatuh tempo.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Daniel Widjaya, menilai Installment BWS sebagai strategi funding yang relevan di tengah dinamika industri perbankan saat ini. Menurutnya, produk tersebut menggabungkan karakteristik tabungan dengan fitur yang menyerupai deposito.
“Strateginya seperti savings tapi juga punya fitur seperti deposito. Ini bisa menjadi strategi tepat untuk menghimpun dana dari nasabah perusahaan, optimalisasi biaya dana sekaligus menjaga likuiditas bank,” ujar Daniel.
Baca Juga: OJK Ungkap Kredit Perbankan Tumbuh 7,74% pada November 2025
Daniel menambahkan, di tengah era suku bunga dan kebijakan moneter yang lebih akomodatif, perbankan memiliki momentum untuk menghadirkan inovasi produk funding yang tetap berfokus pada struktur DPK, biaya dana, dan likuiditas, tanpa mengabaikan fungsi intermediasi.
“Untuk bank-bank dengan skala lebih kecil memang perlu lebih jeli dalam melakukan inovasi produk funding agar tetap kompetitif di industri dan mampu merespons dinamika persaingan serta regulasi yang ada saat ini,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan optimisme bahwa bank yang konsisten melakukan inovasi produk dan memperkuat struktur DPK akan memiliki daya saing yang lebih baik di tengah persaingan industri perbankan nasional.




