JAKARTA, KOMPAS.com – Pagi menjelang siang di Halte Tegal Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026), arus lalu lintas belum menunjukkan tanda-tanda melandai.
Kompas.com berdiri di tepi jalan, tepat di depan pelican crossing yang membelah jalur kendaraan menuju kawasan permukiman Jakarta Selatan.
Deru mesin motor dan mobil bersahut-sahutan tanpa jeda.
Arus kendaraan mengalir rapat, dengan sepeda motor mendominasi setiap celah yang tersedia.
Di tengah kepadatan itu, pelican crossing menjadi satu-satunya penopang keselamatan bagi pejalan kaki yang hendak berpindah sisi jalan.
Baca juga: Pelican Crossing Sarinah Dipastikan Tetap Ada meski JPO Akan Dibangun Lagi
Kompas.com mencoba menjajal langsung menyeberangi jalan menggunakan pelican crossing tersebut.
Berdasarkan pengamatan di lokasi, lampu penyeberangan pejalan kaki kini menyala lebih lama dibanding sebelumnya yang hanya sekitar lima detik.
Saat tombol pelican crossing ditekan, kami menunggu di tepi trotoar. Beberapa detik berselang, lampu lalu lintas kendaraan mulai berubah.
KOMPAS.com/HAFIZH WAHYU DARMAWAN Motor terlihat melaju saat lampu hijau untuk menyeberang masih menyala di pelican crossing Halte Tegal Mampang,Rabu (14/1/2026).
Kendaraan dari kejauhan terlihat melambat, meski tidak semuanya berhenti serempak.
Lampu hijau untuk pejalan kaki akhirnya menyala. Hitungan mundur menunjukkan durasi sekitar 20 detik, waktu yang cukup untuk menyeberang dengan langkah normal.
Namun, begitu melangkahkan kaki pertama, ada keraguan yang muncul di benak.
Refleks kami menoleh ke kanan dan kiri. Meski lampu sudah berpihak pada pejalan kaki, beberapa kendaraan masih tampak bergerak.
Baca juga: Pelican Crossing Tegal Mampang Pernah Hanya Lima Detik, Pejalan Kaki Dipaksa Berlari
Langkah kaki tak langsung mantap, seolah menunggu kepastian bahwa seluruh arus benar-benar berhenti.
Pada hitungan detik awal, sebagian besar mobil memang berhenti di belakang garis marka. Namun, situasinya berbeda pada pengendara sepeda motor.