Penderita kusta kerap kali mendapatkan stigma negatif dan dikucilkan dari masyarakat. Hal ini disebabkan gejala fisik yang terlihat berbeda serta kesalahpahaman bahwa kusta merupakan penyakit yang mudah menular.
Dalam diskusi yang digelar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan tema “Ending Leprosy Without Stigma”, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa stigma tersebut terus tumbuh karena informasi yang jelas tidak sampai ke masyarakat.
"Tantangannya paling besar, nomor satu leprosy (kusta) ini jadi stigma. Kenapa stigma? Karena informasinya tidak pernah jelas sampai ke masyarakat," kata Budi dalam paparannya pada talkshow di Kantor Kementerian Kesehatan, Kamis (15/1).
Budi menyatakan bahwa penyakit kusta bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Untuk memperkuat pernyataan tersebut, ia menjelaskan karakteristik penyakit kusta.
"Bahwa penyakit ini adalah penyakit yang sebenarnya bukan kutukan. Ini penyakit yang memang disebabkan oleh bakteri. Nomor dua, penyakit ini memang menular, tetapi penularannya lama. Dan yang ketiga, penyakit ini sudah ada obatnya, pasti sembuh. Dan kalau sudah diberi obat, tidak sampai seminggu sudah tidak menular. Dan yang keempat, fatalitasnya hampir nol, sangat rendah," ucap Budi.
"Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk takut jika terkena penyakit ini," tambahnya.
Budi mengungkapkan Kemenkes memiliki iktikad agar penyakit kusta tidak terjadi lagi di Indonesia. Ia menargetkan penyakit kusta dapat dieliminasi pada awal dekade 2030-an.
"Jadi bagi kami targetnya itu, kita mau eliminasi ini. Kalau tidak bisa tahun 2030, ya 2032. Kalau tidak bisa, 2035," ujar Budi.
Untuk mengatasi penyakit kusta di Indonesia, termasuk stigma dan pencapaian target tersebut, Kemenkes berkolaborasi dengan Sasakawa Foundation milik Yohei Sasakawa. Sasakawa Foundation akan membantu Indonesia dalam distribusi obat penyembuhan penyakit kusta.
"Sasakawa-san membantu secara langsung dan juga lewat WHO untuk memastikan obat-obatan tersedia karena ini sangat penting dan efektif. Kedua, kita juga dibantu oleh Sasakawa-san secara pribadi, karena itu sebabnya beliau mau datang dan membantu pendanaan untuk memberikan tambahan anggaran," ucap Budi.
Kolaborasi ini diintensifkan hingga Maret di sejumlah wilayah Indonesia, di antaranya Bekasi, Tangerang, Brebes, hingga Jayapura.
Untuk mendukung target tersebut, Sasakawa hadir ke Indonesia dan akan berkunjung hingga enam kali dalam setahun. Ia mengaku berkehendak membantu Indonesia agar stigma terhadap penyakit kusta tidak terjadi lagi.
"Menteri Kesehatan telah menunjukkan ketentuan dan komitmen, tetapi kami juga ingin mendampingi Indonesia agar tidak ada lagi stigma atau diskriminasi yang merupakan isu hak asasi manusia terkait penyakit ini," kata Sasakawa.
"Jadi kami ingin melakukan yang terbaik agar dapat bekerja sama dan menurunkan jumlah kasus penyakit ini sebanyak mungkin," pungkasnya.





