Demam "Dubai Chewy Cookie", Tren Dessert Terbaru yang Mengguncang Korea Selatan

mediaindonesia.com
8 jam lalu
Cover Berita

SETELAH sensasi global cokelat Dubai yang berisi krim pistachio dan renyahnya knafeh, kini giliran Korea Selatan yang menciptakan tren versinya sendiri. Dikenal dengan sebutan Dubai chewy cookie, camilan ini telah menjadi fenomena luar biasa di Negeri Gingseng, bahkan merambah ke restoran yang biasanya tidak menjual makanan panggang.

Meski disebut cookie, tekstur penganan ini justru lebih menyerupai kue beras atau mochi. Camilan ini dibuat dengan mengisi marshmallow cokelat dengan krim pistachio dan potongan knafeh yang renyah. Saking populernya, toko-toko melaporkan ratusan produk habis terjual hanya dalam hitungan menit.

Efek Jang Won-young dan Viralitas Sosmed

Ledakan tren ini bermula pada September lalu, setelah Jang Won-young dari girlband ternama Ive mengunggah foto chewy cookie tersebut di akun Instagram pribadinya. Sejak saat itu, permintaan melonjak tajam. Saat ini, harga per buah berkisar antara 5.000 hingga 10.000 won (sekitar Rp58.000 hingga Rp116.000), dan diprediksi akan terus meningkat.

Baca juga : Mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol Dituntut Hukuman Mati

Fenomena ini tidak hanya terbatas pada toko kue. Restoran sushi hingga kedai mi dingin mulai menawarkan menu penutup ini demi menarik minat pelanggan. Jaringan minimarket terkenal, CU, bahkan telah menjual sekitar 1,8 juta unit "kue beras kenyal Dubai" sejak peluncurannya Oktober lalu.

"Kapasitas produksi pabrik kami tidak dapat mengimbangi permintaan," ujar perwakilan perusahaan kepada Yonhap News.

Dampak Ekonomi dan Munculnya Produk Tiruan

Obsesi masyarakat Korea terhadap camilan ini begitu tinggi hingga muncul peta digital yang melacak ketersediaan stok di berbagai toko secara real-time. Di sisi lain, tingginya konsumsi pistachio menyebabkan harga kacang tersebut melonjak 20% di supermarket besar tahun ini.

Baca juga : Hana Bank Salurkan Beasiswa Rp100 Juta untuk Siswa Berprestasi di JIKS

Namun, kepopuleran ini juga membawa masalah baru: munculnya produk tiruan yang mengecewakan konsumen.

"Saya membeli dua seharga 11.000 won, tetapi tidak ada knafeh di dalamnya, dan bagian luarnya bukan marshmallow. Ini memilukan," tulis seorang konsumen dalam ulasan yang dikutip oleh The Chosun Daily.

Mengutamakan Visual yang Megah

Beberapa kritikus makanan menilai bahwa kesuksesan Dubai chewy cookie berkaitan erat dengan budaya estetika di Korea Selatan. Teksturnya yang tebal dan padat dianggap sangat menarik secara visual untuk dibagikan di media sosial.

"Ini mencerminkan budaya makanan Korea, di mana kemegahan visual lebih penting daripada keseimbangan atau harmoni bahan dan rasa," ungkap kritikus makanan Lee Yong-jae kepada The Chosun Daily.

Saking panasnya tren ini, beberapa toko mulai memberlakukan pembatasan jumlah pembelian per pelanggan untuk memastikan distribusi yang lebih merata. (BBC/Z-2)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Seskab Ajak Umat Islam Jadikan Isra Mikraj Sebagai Momentum Peneguhan Iman dan Takwa
• 4 jam lalupantau.com
thumb
Jenazah Syafiq Ali Ditemukan, BPBD Ungkap Evakuasi Sempat Terkendala Cuaca
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Istana Beberkan Koreksi Prabowo untuk Pembangunan IKN
• 23 jam laluliputan6.com
thumb
Satgas Percepatan Rehabilitasi Pascabencana Sumatra Gelar Rakor Hari Ini
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
DPR Bicara Keras soal Child Grooming, Soroti Sistem Kementerian Perempuan & Anak
• 1 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.