Menghangatkan Jiwa Penyintas Bencana, Menjaga Harapan di Tengah Ketidakpastian

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Wajah Nasya (8) nampak sumringah. Ia tertawa sambil mengikuti setiap gerakan yang ditunjukkan oleh relawan kesehatan yang bertugas di pos pengungsian di Desa Sukajadi, Aceh Tamiang, Rabu (14/1/2025).

“Coba digosok-gosokan tangannya sampai terasa hangat. Lalu tempelkan ke pipi kalian. Hangat kaaan?” kata Nofi Tri Lestari, relawan kesehatan yang membantu pelayanan di posko tersebut.

“Setelah itu, coba sekarang gosokan lagi dan pegang bahu teman sampingnya. Jadi sekarang kalian bisa saling menghangatkan yaa..” tambahnya.

“Iyaaaa..” teriak anak-anak, termasuk Nasya yang terlihat tertawa dengan sedikit meremas gemas bahu teman di sampingnya.

Saat itu, sekitar 20 anak berkumpul di dalam tenda berwarna putih berukuran 4x6 meter. Meski cuaca sedang panas dan terik, anak-anak tetap semangat bergerak dan bernyanyi bersama-sama. Rata-rata usia mereka di bawah 10 tahun.

Baca JugaLambannya Penanggulangan Bencana Bisa Memantik Konflik Sosial

Mereka yang berkumpul di situ merupakan anak-anak yang belum bersekolah atau yang belum bisa bersekolah karena sekolahnya terdampak banjir bandang Sumatera yang terjadi akhir November lalu.

Desa Sukajadi merupakan salah satu wilayah di Aceh Tamiang yang paling parah terdampak banjir. Hampir semua rumah rusak, bahkan tidak sedikit rumah yang lenyap tersapu banjir.

Sejak banjir bandang terjadi, sebagian besar warga masih tinggal di tenda-tenda darurat. Itu berarti sudah hampir dua bulan mereka tinggal di tenda darurat dengan air bersih terbatas, makanan terbatas, dan sanitasi yang tidak memadai.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh relawan kesehatan seolah menjadi obat pelipur lara bagi anak-anak yang terdampak banjir. Setidaknya, selama satu jam kegiatan berlangsung, hanya tawa dan canda yang muncul di antara mereka.

Kegiatan pemulihan trauma atau dukungan kesehatan jiwa dan psikososial merupakan bagian pendekatan yang dilakukan relawan kesehatan di pos-pos pengungsian. Selain permainan dan edukasi terkait dukungan kesehatan jiwa, para relawan kesehatan melakukan pemeriksaan kesehatan, pemberian vitamin A, dan pemberian gizi tambahan bagi anak-anak yang berada di pos pengungsian.

Masih banyak anak-anak yang trauma. Ada yang masih takut saat hujan dan ada yang merasa kedinginan atau kepanasan karena tidak nyaman tinggal di tenda.

Relawan kesehatan yang juga dokter umum Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Rasidin Padang, Muhammad Fahriza menyampaikan, kegiatan pemulihan trauma setidaknya dilakukan dua kali dalam seminggu. Lewat kegiatan ini diharapkan trauma yang dialami anak-anak bisa diatasi dengan baik.

“Masih banyak anak yang trauma. Banyak yang bercerita pada kami bahwa pada minggu pertama pascabencana, mereka ada yang belum bisa bertemu orangtua mereka. Ada yang masih takut saat hujan dan ada yang merasa kedinginan atau kepanasan karena tak nyaman tinggal di tenda,” tuturnya.

Baca JugaMembawa Kesehatan Jiwa ke Garis Depan Tanggap Bencana

Namun seiring berjalannya waktu dan dengan dukungan psikososial yang diberikan, kondisi anak-anak kini mulai pulih. Kondisi mental anak-anak juga membaik. Anak-anak sudah lebih tampak ceria, berani bermain bersama teman-temannya, dan mulai kembali berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Usia dewasa

Selain anak-anak, Fahriza menyebutkan, dukungan kesehatan jiwa dan psikososial juga diberikan untuk kelompok usia lain, seperti remaja, dewasa, dan lansia. Dukungan yang diberikan pada kelompok usia tersebut berbeda dengan yang diberikan pada anak-anak.

Pada remaja dan usia dewasa biasanya para relawan melakukan pendekatan secara personal. Pendekatan dilakukan saat sedang bersantai di masing-masing tenda pengungsian atau saat sedang duduk sembari minum kopi bersama.

Menurut dia, dampak trauma pada usia dewasa justru lebih besar daripada anak-anak. Sebagian besar orang dewasa pun lebih sulit mengekspresikan perasaannya dan memilih memendam trauma yang dialami.

“Terutama pada ibu-ibu yang harus memikirkan nasib keluarganya atau bapak-bapak yang kehilangan mata pencahariannya karena banjir. Banyak juga yang selama ini berjualan sekarang tidak lagi bisa berjualan karena seluruh barang-barangnya hilang. Ketidakpastian ini membuat mereka takut akan kehidupan ke depannya,” tutur dia.

Hal itu setidaknya disampaikan oleh Suyati (66), warga desa Simpang Empat, Aceh Tamiang. Sebelum banjir terjadi, ia bekerja sebagai penjaja makanan di kantin sekolah.

Namun setelah banjir, seluruh barang dagangannya hilang dan hanyut bersama dengan banjir. Saat ini pun sekolah tempat ia menjual makanan belum beroperasi.

Baca JugaPenyembuhan Trauma dan Ingatan Pascapandemi

“Hilang sudah semuanya. Tidak ada sisa. Cuma tinggal sampah-sampah yang ada. Rumah juga sudah tidak bisa ditinggali. Sekarang kita cuma bisa mengandalkan bantuan. Tapi bantuan kan tidak selamanya,” katanya.

Beban kesehatan jiwa

Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) yang juga relawan kesehatan dalam penanganan dampak banjir Sumatera, Era Catur Prasetya, menuturkan, banjir di Sumatera memberikan dampak kesehatan jiwa bagi masyarakat dalam bentuk distres psikososial. Banyak warga mengalami kelelahan fisik dan mental.

Sebagian besar penduduk juga mengeluhkan gangguan tidur, kecemasan, serta penurunan rasa aman akibat kehilangan rumah, mata pencaharian, dan rutinitas hidup. Pada saat sama, masyarakat belum sepenuhnya keluar dari fase ancaman karena hujan masih berlangsung di Sumatera.

“Setiap hujan dapat memicu kecemasan berulang dan kewaspadaan berlebihan, yang sebenarnya merupakan respons wajar terhadap risiko banjir susulan. Karena itu, dukungan kesehatan jiwa dan psikososial sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas psikologis, memulihkan fungsi hidup, dan memperkuat ketahanan komunitas,” tutur Catur.

Di setiap usia, gangguan psikososial yang dialami bisa berbeda-beda. Pada anak-anak, tanda gangguan yang terjadi seringkali ditunjukkan dengan rasa ketakutan berlebihan, gangguan tidur, dan regresi perilaku terutama saat hujan turun. Pada remaja cenderung mengalami kecemasan, mudah marah, dan menarik diri.

Sementara pada usia dewasa lebih banyak yang mengalami distres emosional, kelelahan mental, dan gangguan penyesuaian akibat tekanan ekonomi dan peran dalam keluarga. Pada warga lanjut usia, mereka lebih rentan mengalami kecemasan, depresi, dan penurunan fungsi.

Baca JugaTrauma dan Kemanusiaan Melebur di Daerah Bencana

Tanda awal yang mesti diwaspadai pada semua kelompok usia tersebut yakni apabila terjadi perubahan perilaku yang menetap, gangguan tidur berkepanjangan, penarikan diri dari lingkungan sosial, serta keluhan fisik berulang tanpa penyebab medis yang jelas.

Jika masalah kesehatan tersebut tidak segera ditangani, dampak jangka panjang dari trauma pascabanjir bisa menjadi kecemasan dan depresi yang menetap, gangguan stres pascatrauma, serta penurunan fungsi sosial.

Secara biologis, kondisi stres berkepanjangan dapat membuat otak terus siaga sehingga hormon stres tetap tinggi. Pada anak, kondisi tersebut bisa mendorong otak pada mode pertahanan atau survival yang membuat perkembangan belajar, emosi, dan kecerdasan menjadi kurang optimal.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, Kementerian Kesehatan telah mengerahkan relawan psikolog klinis ke wilayah terdampak bencana untuk mengatasi trauma akibat dampak bencana di Sumatera. Setiap pengiriman relawan kesehatan, setidaknya ada 30-35 psikolog klinis yang bertugas.

Pemulihan kesehatan mental dilakukan seiring dengan pemulihan kesehatan fisik masyarakat. “Yang kita beresin bukan hanya kesehatan fisik, tapi juga kesehatan jiwanya,” ucapnya.

Kepastian hidup

Menurut Catur, selain pendampingan kesehatan jiwa dan psikososial, intervensi kesehatan jiwa paling mendesak saat ini yakni menjaga stabilitas hidup dan mencegah krisis di masyarakat. Pastikan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tetap mendapat pendamping dan pengobatan. Putus obat pada ODGJ bisa memicu relaps dan krisis perilaku.

Sementara pada anak-anak, pastikan kehidupan mereka bisa kembali terstruktur lewat ruang aman dan sekolah darurat yang berjalan. Dengan cara itu, rasa takut tidak mendominasi tumbuh kembang anak.

Pada remaja, intervensi bisa dilakukan dengan memberikan peran nyata dan rasa berguna lewat keterlibatan di posko atau kegiatan produktif lainnya. Diharapkan, kecemasan mereka tentang masa depan tidak berubah menjadi perilaku yang berisiko.

Baca JugaJiwa-jiwa Baik di Sepanjang Liputan Bencana

Sementara pada warga lanjut usia atau lansia, pendampingan personal dan rutinitas yang stabil perlu dihadirkan. Kehilangan rumah dan rasa tidak aman yang dialami perlu dikelola agar tidak berkembang menjadi kecemasan berat atau penurunan fungsi perilaku.

“Untuk orang dewasa, yang paling dibutuhkan adalah pendampingan yang berjalan seiring dengan kejelasan bantuan dana, hunian, dan pemulihan penghasilan. Karena tanpa kepastian ini tekanan psikologis akan terus menumpuk,” ujar Catur.

Pada akhirnya, pemulihan bencana tak cukup dengan penyaluran bantuan atau perbaikan infrastruktur sementara. Para penyintas membutuhkan kepastian akan rasa aman dan harapan hidup berkelanjutan. Kepastian tempat tinggal, pekerjaan, dan pendampingan kesehatan jiwa menjadi kunci agar warga bisa kembali bangkit secara utuh.

Dua bulan mungkin terasa cepat bagi sekelompok orang. Namun bagi penyintas bencana di Sumatera, dua bulan terakhir jadi waktu panjang untuk bertahan di tenda pengungsian. Di tengah panas terik atau hujan yang belum juga reda, saat air mata bahkan tak lagi mampu menetes, mereka terus bertahan sambil berharap akan masa depan yang lebih baik.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gubernur Mualem: 50.000 Hektare Lahan Sawan di Aceh Masih Tertutup Lumpur
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Restorative Justice untuk Eggi Sudjana dan Damai Lubis, ReJO Prabowo-Gibran Soroti Peran Jokowi
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Gempa Dangkal Guncang Gayo Lues, Aceh
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Legenda Vietnam Le Cong Vinh Merasa Timnas Indonesia Akan Menjadi Lawan yang Sangat Sulit di Piala AFF 2026
• 8 jam lalubola.com
thumb
Kata Produser, Biaya Produksi Danur: The Last Chapter Bisa Bikin 3 Film Horor
• 18 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.