FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Eks
Mantan Menteri Agama sekaligus yang ditetapkan sebagai tersangka kuota haji, Yaqut Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut buka suara ke publik soal kasus ini.
Diketahui, sebelumnya KPK mengumumkan mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas dan mantan staf khususnya Ishfah Abidal Aziz sebagai tersangka, pada Jumat (9/1/2026).
Kasus ini berkaitan dengan pembagian kuota tambahan 20 ribu jamaah haji untuk musim haji 2024, saat Yaqut masih menjabat sebagai Menteri Agama.
Dimana, untuk kuota tambahan jamaah haji ini didapatkan Indonesia di era mantan Presiden Joko Widodo masih memimpin.
Tambahan kuota itu diberikan dengan tujuan mengurangi masa tunggu jamaah haji reguler Indonesia, yang di sejumlah daerah dapat mencapai lebih dari 20 tahun.
Nyata kuota tambahan ini tidak dialokasikan. Namun, kuota tambahan itu justru dibagi rata oleh Kementerian Agama menjadi 10 ribu untuk haji reguler dan 10 ribu untuk haji khusus.
Padahal, Undang-Undang Penyelenggaraan Ibadah Haji mengatur kuota haji khusus maksimal sekitar 8 persen dari total kuota nasional.
Kasus yang semakin memanas dan ramai desakan dari publik, membuat Gus Yaqut pun angkat bicara soal hal ini.
Lewat unggahan podcast di channel YouTube Ruang Publik, Gus Yaqut membuat pengakuan.
Ia mengaku dirinya tidak menerima sepeser pun dari proses pembagian kuota dari kabar yang beredar
Tegasnya, menyebut tidak ada yang berkaitan dengan yang mendapatkan sepeser pun dari pembagian kuota itu.
Mau itu jam’iyah, Nadhatul Ulama (NU) maupun ansor yang saat itu punya hubungan dengan Gus Yaqut.
“Jadi saya harus tegas, saya tidak menerima sepeser pun dari proses pembagian kuota itu, tidak ada,” katanya.
“Baik itu untuk diri saya sendiri, untuk jam’iyah, Nadhatul Ulama (NU) maupun ansor yang waktu itu masih saya pimpin,” tegasnya.
Gus Yaqut dalam kesempatan ini juga mengaku dirinya sama sekali tidak pernah berpikir soal adanya keuntungan sendiri yang didapatkan olehnya.
Tidak ada pikirannya soal keuntungan dan uang, karena menurutnya yang utama adalah hidunnafas.
“Tidak ada, sekali lagi saya tidak pernah berpikir soal keuntungan, saya tidak pernah berpikir soal uang,” jelasnya.
“Yang saya pikirkan dan utama adalah hidunnafas,” terangnya.
(Erfyansyah/fajar)




