Pola Lantai Tari Indang adalah Horizontal, Ini Sejarah dan Maknanya

mediaindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, salah satunya tercermin dalam seni tari tradisional. Dari sekian banyak tarian yang ada di Nusantara, Tari Indang atau yang sering dikenal dengan sebutan Tari Dindin Badindin menjadi salah satu ikon budaya dari Sumatra Barat. Bagi pelajar maupun penikmat seni, memahami struktur tarian ini sangatlah penting. Secara spesifik, pola lantai tari Indang adalah garis lurus atau horizontal, di mana para penari berbaris ke samping dari kiri ke kanan atau sebaliknya.

Tarian ini tidak hanya menampilkan keindahan gerak yang dinamis, tetapi juga menyimpan nilai-nilai filosofis dan sejarah penyebaran agama Islam di tanah Minangkabau. Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai pola lantai, sejarah, hingga perbedaannya dengan tarian sejenis agar Anda mendapatkan pemahaman yang komprehensif.

Pola Lantai Tari Indang: Garis Lurus Horizontal

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, karakteristik utama dari formasi pola lantai tari Indang adalah horizontal. Dalam pertunjukannya, para penari akan duduk berjejer dalam satu baris lurus (bersaf). Pola ini bersifat sederhana namun memiliki makna yang sangat dalam.

Pola lantai horizontal pada Tari Indang memberikan kesan:

  • Kebersamaan dan Kekompakan: Posisi duduk yang rapat dan sejajar menuntut penari untuk melakukan gerakan yang serempak dan seirama.
  • Kesetaraan: Tidak ada penari yang posisinya lebih tinggi atau lebih depan secara hierarki visual yang mencolok, menyimbolkan bahwa setiap individu memiliki derajat yang sama.
  • Keteraturan: Barisan yang lurus mencerminkan kedisiplinan dan tatanan sosial yang rapi dalam masyarakat Minangkabau.
Sejarah dan Asal-Usul Tari Indang

Tari Indang berasal dari daerah Pariaman, Sumatra Barat. Kata "Indang" sendiri merujuk pada sebuah alat musik tepuk sejenis rebana kecil yang dulunya digunakan untuk mengiringi tarian ini. Namun, seiring perkembangan zaman, penggunaan alat musik indang sering digantikan oleh tepukan tangan penari ke badan atau lantai yang menghasilkan bunyi ritmis.

Sejarah mencatat bahwa tarian ini erat kaitannya dengan penyebaran agama Islam di Sumatra Barat, khususnya yang dilakukan oleh Syekh Burhanuddin pada abad ke-13 atau ke-14 Masehi. Tarian ini awalnya digunakan sebagai media dakwah. Syair-syair yang didendangkan dalam tarian ini berisi puji-pujian kepada Allah SWT, selawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta nasihat-nasihat kehidupan dan nilai moral.

Makna Filosofis di Balik Pola Lantai Horizontal

Mengapa pola lantai tari Indang adalah garis lurus? Pemilihan pola ini bukan tanpa alasan. Dalam konteks budaya Minangkabau dan nilai keislaman, pola horizontal merepresentasikan hubungan antarmanusia atau Hablum Minannas.

Berikut adalah penjabaran makna filosofisnya:

  1. Semangat Gotong Royong: Gerakan yang saling mengisi dan berinteraksi antarpenari di sebelahnya menyimbolkan kerja sama yang erat dalam masyarakat.
  2. Persatuan Umat: Barisan lurus mengingatkan pada saf dalam salat berjamaah, yang menyimbolkan persatuan dan kesatuan umat Islam.
  3. Keterbukaan: Formasi yang melebar ke samping menyiratkan keterbukaan masyarakat Pariaman dalam menerima tamu dan ajaran baik.
Perbedaan Tari Indang dan Tari Saman

Seringkali masyarakat awam keliru menyamakan Tari Indang dengan Tari Saman dari Aceh. Meskipun keduanya memiliki kemiripan, yakni dimainkan dalam posisi duduk berbaris dan mengandalkan gerak tangan serta nyanyian, terdapat perbedaan mendasar yang perlu diketahui:

1. Asal Daerah dan Bahasa

Tari Saman berasal dari Gayo, Aceh, dan menggunakan bahasa Gayo dalam syairnya. Sementara itu, Tari Indang berasal dari Pariaman, Sumatra Barat (Minangkabau), dan syairnya menggunakan bahasa Minang serta bahasa Melayu.

2. Gerakan

Gerakan Tari Saman umumnya lebih cepat, eksplosif, dan memiliki tingkat kerumitan tinggi dalam hal kecepatan dan sinkronisasi vertikal-horizontal tubuh. Sedangkan Tari Indang, meskipun dinamis, gerakannya cenderung lebih santai, luwes, dan banyak memainkan variasi tepukan serta jentikan jari.

3. Iringan Musik

Tari Saman murni mengandalkan suara dari penari (tepukan dada, tangan, dan nyanyian) tanpa alat musik eksternal. Sebaliknya, Tari Indang pada versi aslinya menggunakan alat musik rebana kecil (indang), meskipun kini sering diiringi oleh musik eksternal seperti lagu populer "Dindin Badindin".

Gerakan Khas dalam Tari Indang

Selain pola lantai yang horizontal, keunikan Tari Indang terletak pada variasi gerakannya. Penari melakukan gerakan yang disebut dengan "tukok" atau gerakan memukul indang (atau menepuk tangan/lantai). Gerakan ini dilakukan secara bergantian dan bersahut-sahutan, menciptakan ritme yang harmonis.

Gerakan kepala dan badan yang meliuk ke kiri dan ke kanan secara serempak juga menjadi ciri khas. Dinamika gerakan ini dimulai dari tempo yang lambat, kemudian perlahan menjadi semakin cepat seiring dengan memuncaknya emosi lagu dan semangat pertunjukan, sebelum akhirnya kembali melambat di bagian akhir.

Dengan memahami bahwa pola lantai tari Indang adalah horizontal beserta sejarah dan filosofinya, kita dapat lebih mengapresiasi kekayaan seni budaya Indonesia. Tarian ini mengajarkan kita tentang pentingnya kerja sama, kesetaraan, dan nilai spiritual yang dibalut dalam keindahan seni pertunjukan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jadwal Lengkap Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Wamen LH ingatkan peran penting desa dalam upaya pengelolaan sampah
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Usai Vakum Panjang, Britney Spears Ungkap Tak Mau Lagi Tampil di AS
• 23 jam lalueranasional.com
thumb
Menengok "Bangkai" Gerbong KRL di Depo Depok, Artefak Transportasi Jabodetabek
• 20 jam lalukompas.com
thumb
Bank Mandiri (BMRI) Optimistis Konsumsi Topang Pertumbuhan Awal Tahun
• 21 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.