Gedung Putih menyatakan bahwa otoritas Iran telah membatalkan 800 eksekusi mati di bawah tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas tindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstran.
"Presiden memahami hari ini bahwa 800 eksekusi mati yang dijadwalkan dan seharusnya dilakukan kemarin telah dihentikan," kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt kepada wartawan pada Kamis (15/1) waktu setempat, dilansir kantor berita AFP, Jumat (16/1/2026).
Meski begitu, dia mengatakan bahwa tindakan militer AS tetap menjadi pilihan Trump.
"Semua opsi tetap terbuka bagi presiden," kata pejabat Gedung Putih itu, seraya menambahkan bahwa Trump telah memperingatkan Teheran tentang "konsekuensi serius" jika pembunuhan demonstran terus berlanjut.
Sebelumnya, pemerintah Iran menepis klaim rencana eksekusi mati terhadap para demonstran di tengah gelombang protes.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Rabu (15/1) mengatakan tidak ada rencana hukuman gantung atau eksekusi mati terhadap pengunjuk rasa. Pernyataan itu ia sampaikan dalam wawancara dengan media Amerika Serikat, Fox News.
"Tidak ada hukuman gantung, hari ini atau besok. Saya bisa katakan dengan yakin, tidak ada rencana untuk melakukan hukuman gantung sama sekali," kata Menlu Iran itu.
(ita/ita)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5424895/original/066971600_1764165120-persib.jpg)

