Muh. Ikbal, Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM)
FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Kalau Isra Mi’raj biasanya kita dengar sebagai “kisah perjalanan agung” yang penuh hikmah, dari sisi pragmatik ceramah Isra Mi’raj itu menarik karena sebenarnya bukan cuma cerita. Ceramah adalah momen ketika bahasa benar-benar “bekerja”. Kata-kata dipakai untuk mengajak, menegur, menenangkan, bahkan “mengikat” jemaah pada niat tertentu. Ini sejalan dengan gagasan klasik J. L. Austin — ketika orang berbicara, ia bukan cuma menyampaikan informasi, tetapi juga melakukan tindakan lewat ucapan. Jadi, di mimbar, kalimat bukan sekadar kalimat—ia adalah aksi.
Austin membagi tindakan bahasa jadi tiga lapis. Pertama, apa yang diucapkan (lokusi) — ceramahnya berisi kisah Isra Mi’raj, ayat/hadis, dan pelajaran. Kedua, apa yang dilakukan lewat ucapan itu (ilokusi) — penutur sedang menasihati, mengajak, memperingatkan, atau menguatkan. Ketiga, efek yang diharapkan (perlokusi) — jamaah jadi tergerak, tersentuh, atau punya semangat baru untuk memperbaiki ibadah. Kalau ceramah terasa “kena”, biasanya karena lapis kedua dan ketiga ini jalan dengan pas—bukan semata karena materinya banyak.
Nah, kalau kita pakai klasifikasi Searle, jenis tindak tutur yang paling sering muncul di Isra Mi’raj itu direktif. Ajakan dan arahan. Misalnya, “Mari kita perbaiki salat,” “Jangan tunda taubat,” “Ayo jaga lisan,” atau “Hendaknya kita lebih disiplin.” Menariknya, ajakan semacam ini jarang disampaikan seperti komando militer. Biasanya dipoles biar terdengar ramah dan kolektif — pakai “mari”, “ayo”, “kita”, “hendaknya”. Tujuannya sederhana — pesan tetap tegas, tapi tidak bikin orang merasa dihakimi. Di pragmatik, ini soal strategi supaya ajakan tidak terasa mengancam “harga diri” pendengar.
Lalu ada tindak tutur ekspresif: ucapan yang mengekspresikan rasa—syukur, kagum, haru. “Alhamdulillah,” “Subhanallah,” “MasyaAllah,” dan doa-doa itu bukan sekadar pemanis. Itu semacam pengatur suasana. Ketika suasana sudah hangat dan khidmat, ajakan moral yang datang setelahnya biasanya terasa lebih masuk. Jadi ekspresif itu seperti “membuka pintu”, lalu direktif masuk membawa pesan.
Ada juga komisif, yaitu bahasa yang “mengikat” pada komitmen. Ini biasanya muncul dalam bentuk tekad bareng-bareng —“Mulai malam ini kita niatkan lebih menjaga salat,” “Kita bertekad berubah,” “Kita jadikan momentum ini untuk lebih baik.” Walau tidak pakai kalimat “saya berjanji”, sebenarnya itu janji versi kolektif. Efeknya kuat, karena komitmen yang lahir di ruang ramai dan sakral biasanya terasa lebih berat dibanding komitmen yang kita ucapkan sendirian.
Terus, kenapa ajakan dari ustaz terasa lebih sah daripada ajakan yang sama dari teman kita? Ini bukan soal “magis”, tapi soal konteks. Dalam pragmatik, siapa yang bicara, di ruang apa, dan pada momen apa itu menentukan kekuatan ucapan. Di mimbar, penutur punya posisi sosial yang diakui jemaah. Itu yang membuat kalimat “jangan tinggalkan salat” terasa seperti nasihat yang punya bobot, bukan sekadar opini. Momen Isra Mi’raj juga memberi “panggung” khusus — orang datang memang untuk mendengar, suasana sudah religius, hati lebih siap menerima. Jadi daya dorongnya berlipat karena konteksnya mendukung.
Di titik ini, teori kesantunan Brown dan Levinson juga nyambung. Ajakan itu pada dasarnya “mengganggu kebebasan” pendengar (karena menyuruh melakukan sesuatu), jadi kalau disampaikan dengan cara kasar, orang bisa defensif. Maka banyak penceramah memakai trik bahasa: pakai “kita” bukan “kamu”, memakai “mari” bukan “harus”, dan menyisipkan alasan atau kisah yang membuat ajakan terasa manusiawi. Ini bukan basa-basi—ini strategi komunikasi supaya pesan sampai tanpa melukai.
Yang sering kita lupa — respons jemaah juga bagian dari praktik bahasa. “Amin”, “MasyaAllah”, anggukan, atau diam yang khusyuk itu bukan reaksi kosong. Itu bentuk pengesahan sosial: jemaah ikut “mengunci” pesan, sehingga nasihat tidak berhenti di mulut penceramah, tetapi terasa menjadi komitmen bersama. Bahkan diam pun bisa berarti menerima, terutama dalam situasi sakral. Jadi ceramah itu bukan sepenuhnya satu arah; e ikut membangun momentumnya.
Kalau dirangkum, Isra Mi’raj itu menarik secara linguistik karena kita bisa melihat bagaimana agama, emosi, dan aksi sosial dipertemukan lewat bahasa. Ceramahnya bekerja lewat kombinasi ajakan yang halus tapi tegas, ekspresi yang membangun suasana, dan komitmen yang dipantik bersama.
Pragmatik membantu kita sadar: yang membuat ceramah “berdampak” bukan cuma apa yang disampaikan, tapi bagaimana kata-kata itu dipakai untuk menggerakkan. Dan di situ juga ada tanggung jawab besar: bahasa bisa membina orang agar berubah dengan sadar, tapi bahasa juga bisa jadi alat menekan kalau ajakan berubah jadi menghakimi.
Isra Mi’raj, lewat cara kita bertutur, bisa menjadi momen refleksi: bukan hanya tentang perjalanan Nabi, tetapi juga tentang bagaimana kata-kata membentuk perjalanan batin kita sendiri. (*)




