Bisnis.com, BANDA ACEH — Laksamana Keumalahayati adalah sosok panglima laut perempuan pertama di dunia yang memimpin angkatan laut Kesultanan Aceh Darussalam dan memainkan peran penting dalam perang, diplomasi, serta politik kawasan Selat Malaka pada akhir abad ke-16.
Keumalahayati muncul pada masa Aceh berada di puncak kekuatan maritim dan menjadi benteng utama menghadapi tekanan bangsa Eropa, khususnya Portugis dan Belanda. Perannya tidak hanya sebagai prajurit, tetapi juga sebagai pemimpin strategis yang menentukan arah kebijakan kerajaan.
Berdasarkan buku “Laksamana Keumalahayati” karya Saifullah yang diterbitkan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh (16/01/2026), menyatakan bahwa Keumalahayati berasal dari keluarga bangsawan dan militer Aceh. Ayah dan kakeknya tercatat sebagai laksamana Kesultanan Aceh, sehingga jiwa bahari telah tertanam kuat sejak kecil.
Dia hidup pada akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16, meski tahun kelahiran dan wafatnya tidak tercatat secara pasti dalam sumber sejarah.
Pendidikan Keumalahayati ditempa secara serius melalui lembaga pendidikan agama seperti meunasah, rangkang, dan dayah. Ia kemudian melanjutkan pendidikan militer di Akademi Mahad Baitul Makdis, sebuah akademi militer Kesultanan Aceh yang memiliki jurusan angkatan darat dan laut dengan instruktur dari berbagai wilayah, termasuk Turki.
Di akademi militer tersebut, Keumalahayati dikenal sebagai taruna berprestasi. Ia memilih jurusan angkatan laut dan menguasai berbagai ilmu kemiliteran serta pelayaran. Keunggulan fisik, kecerdasan, dan keteguhan sikap membuatnya menonjol di lingkungan yang didominasi laki-laki.
Setelah lulus, Keumalahayati menikah dengan seorang perwira angkatan laut Aceh. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Suaminya gugur dalam pertempuran laut melawan Portugis di Teluk Haru. Peristiwa ini menjadi titik balik dalam hidup Keumalahayati.
Dilanda duka sekaligus amarah, Keumalahayati mengajukan permintaan kepada Sultan Alaiddin Riayat Syah al-Mukammil untuk membentuk pasukan khusus yang anggotanya terdiri dari para janda prajurit yang gugur. Permintaan itu dikabulkan dan lahirlah Armada Inong Balee dengan Keumalahayati sebagai panglimanya.
Armada Inong Balee berkembang menjadi kekuatan laut yang disegani. Pasukan ini memiliki ratusan kapal perang dan bermarkas di Teluk Krueng Raya. Keumalahayati juga membangun Benteng Inong Balee sebagai pertahanan strategis untuk mengawasi jalur masuk ke wilayah Aceh.
Nama Keumalahayati semakin dikenal setelah keberhasilannya memukul armada Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman pada 1599. Dalam pertempuran tersebut, Cornelis de Houtman tewas, sementara saudaranya, Frederick de Houtman, ditawan. Kemenangan ini mengangkat wibawa Aceh di mata dunia.
Selain sebagai panglima perang, Keumalahayati juga berperan sebagai diplomat ulung. Dia dipercaya menangani hubungan luar negeri, termasuk perundingan dengan Belanda dan Inggris. Melalui pendekatan tegas namun cerdas, Keumalahayati berhasil menjaga kepentingan Aceh tanpa kehilangan martabat kerajaan.
Keumalahayati juga tercatat berperan dalam dinamika politik internal kesultanan. Ia mendukung pergantian kepemimpinan yang kemudian melahirkan Sultan Iskandar Muda, penguasa yang membawa Aceh ke masa kejayaan.
Hingga kini, nama Laksamana Keumalahayati diabadikan sebagai simbol keberanian dan kepemimpinan perempuan Nusantara. Ia bukan hanya pahlawan Aceh, tetapi juga bukti bahwa sejarah maritim dunia pernah dipimpin oleh seorang perempuan dari ujung barat Indonesia.





