Hal yang dapat dipelajari dari artikel ini:
1. Seperti apa target pertumbuhan ekonomi lima tahun ke depan?
2. Apakah target pertumbuhan 6 persen pada 2026 itu realistis?
3. Apa saja indikator yang menunjukkan ekonomi masih lesu?
4. Mengapa pemerintah tetap optimistis ekonomi tumbuh 6 persen tahun ini?
5. Sektor apa yang akan diandalkan untuk mengejar target pertumbuhan 6 persen?
Berdasarkan skenario Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, ekonomi Indonesia ditargetkan tumbuh 5,3 persen pada 2025, lalu naik menjadi 6,3 persen pada 2026.
Pada tahun-tahun selanjutnya, pertumbuhan ekonomi ditakar di atas 7 persen. Pada 2027, ekonomi ditargetkan tumbuh 7,5 persen, pada 2028 sebesar 7,7 persen, dan pada akhir pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming di 2029 ekonomi ditargetkan sudah tumbuh 8 persen.
Banyak pihak menilai pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2026 merupakan sasaran yang sangat berat, bahkan tidak realistis di tengah masih lesunya berbagai komponen utama pendorong ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi tahun 2025 masih akan stagnan di kisaran 5 persen sehingga bakal sulit untuk melonjak di atas 6 persen hanya dalam waktu satu tahun.
Meski Badan Pusat Statistik belum merilis angka pertumbuhan ekonomi 2025, pemerintah sudah memprediksi hasilnya akan meleset dari target APBN 2025 yang sebesar 5,2 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan ekonomi akan tumbuh 5,45 persen pada triwulan IV-2025 sehingga kemungkinan hanya tumbuh sekitar 5,12 persen sepanjang 2025.
Konsumsi rumah tangga sebagai mesin utama pertumbuhan masih menghadapi tekanan berat akibat daya beli yang masih melemah hingga akhir 2025. Sejumlah indikator penjualan semen, sepeda motor, mobil, konsumsi data, hingga penjualan rumah masih lesu.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pun konsisten berada di bawah 5 persen selama dua tahun terakhir. Tekanan terhadap konsumsi masyarakat kian berat oleh besarnya outstanding pinjaman daring (pinjol) dan judi daring yang menyedot daya beli masyarakat.
Di sisi lain, pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2025 hanya tumbuh 7,7 persen secara tahunan, jauh di bawah kondisi normal di kisaran 12-15 persen. Angka-angka ini menunjukkan sektor usaha belum siap berekspansi dan daya beli masyarakat masih rendah.
Menkeu Purbaya menilai, apabila kebijakan fiskal dan moneter dapat tersinkronisasi erat, target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2026 itu dapat dicapai. Ia meyakini, dampak kebijakan yang lebih selaras mulai terlihat sejak awal tahun ini dengan pertumbuhan ekonomi ditargetkan sudah bisa mendekati 6 persen pada triwulan I-2026.
Sejumlah ekonom menilai wajar bila pemerintah memilih untuk optimistis karena itu bagian dari peran pemerintah. Namun, pemerintah diingatkan agar tidak terjebak pada optimisme buta yang tidak ditopang realitas. Itu berisiko menggerus kredibilitas kebijakan.
Pemerintah akan menjadikan investasi sebagai modal untuk menopang pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Capaian realisasi investasi sepanjang 2025 tercatat Rp 1.931,2 triliun atau tumbuh 12,7 persen dibandingkan capaian 2024. Realisasi investasi itu menyerap sekitar 2,7 juta tenaga kerja, naik dari penyerapan tenaga kerja pada 2024 yang sebanyak 2,4 juta orang.
Untuk itu, langkah-langkah perbaikan iklim investasi akan ditempuh demi mendorong pertumbuhan ekonomi berkualitas pada 2026.
Pemerintah kini sedang menyiapkan satuan tugas percepatan dan debottlenecking guna mengatasi hambatan investasi dan mendorong sektor riil. Selain investasi, pemerintah juga akan mempercepat belanja negara.




