JAKARTA, KOMPAS – Pemugaran sejumlah situs di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, akan dilanjutkan tahun ini. Pemugaran diharapkan mendorong wisata budaya dan religi di situs Buddhis terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, pemugaran KCBN Muarajambi merupakan bentuk penghargaan terhadap cagar budaya Nusantara. Hal ini sekaligus upaya untuk melindungi peninggalan sejarah yang akan diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Menurut dia, kawasan percandian seluas 3.981 hektar itu berpotensi menjadi living heritage (warisan budaya yang hidup) yang dapat mendorong wisata budaya dan religi. Potensi itu didukung oleh rancangan pemugaran di sekitar kawasan Muarajambi untuk menunjang ritual keagamaan dan budaya.
“Pembangunan ini kita harapkan dipercepat karena nanti Muarajambi akan menjadi satu living heritage yang mendatangkan banyak umat Buddha dan juga turis dari seluruh dunia. Potensi kawasan Muarajambi juga sangat besar di mana nantinya menjadi ekosistem yang hidup. Saya yakin Muarajambi akan berkembang, museumnya juga akan berkembang,” ujarnya melalui siaran pers, Jumat (16/1/2026).
Dalam beberapa tahun terakhir, pemugaran dan penataan kawasan gencar dilakukan di KCBN Muarajambi. Dua situs yang dipugar adalah Candi Kotomahligai dan Candi Parit Duku. Sementara penelitian pemugaran dilakukan di Candi Sialang dan Menapo Alun-alun.
Candi Kotomahligai berdiri di atas lahan berukuran sekitar 110 x 90 meter. Proses mengekskavasi mengungkap sejumlah struktur bata yang sebelumnya tertimbun tanah. Dalam proses penggalian ditemukan sejumlah temuan arkeologis, salah satunya adalah arca Awalokiteswara.
Di masa lalu, pengaruh Muarajambi tak cuma di Sumatera atau Indonesia. Pengaruhnya luas karena mempunyai hubungan dengan tempat pengajaran agama Buddha lainnya, salah satunya Nalanda di India.
Sementara pemugaran Candi Parit Duku mengungkap sedikitnya 23 struktur bata di situs berukuran 80 x 80 meter itu. Situs ini diidentifikasi sebagai kompleks stupa dengan temuan bata berornamen yang sangat beragam. Sesuai namanya, situs tersebut dikelilingi parit dan banyak ditumbuhi pohon duku.
Selain merekonstruksi situs, saat ini juga masih berlangsung pembangunan museum di KCBN Muarajambi. Pembangunan museum dimulai pada Juni 2024. Museum ini nantinya tidak hanya memiliki ruang pameran, tetapi juga amfiteater, pelataran, ruang komunitas, dan ruang mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menampilkan kekayaan budaya di desa-desa penyangga.
Saat mengunjungi museum itu pada pertengahan Desember 2025, Fadli menyampaikan, aktivasi pengembangan KCBN Muarajambi akan terus didorong lewat dukungan para pihak. Menurut dia, Muarajambi memiliki skala peninggalan yang luar biasa sehingga ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional sejak 2013.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V Agus Widiatmoko menyebutkan, riset di KCBN Muarajambi berpotensi terus berkembang di masa depan. Pemugaran untuk menguak struktur candi juga akan mengungkap berbagai warisan kearifan peradaban yang selama ini terpendam.
“Kawasan ini memiliki sedikitnya 115 situs. Namun, hingga saat ini, baru 12 situs yang sudah dipugar,” katanya.
Lewat berbagai temuan terbaru, Muarajambi diperkirakan dibangun pada abad ke-6 dan bertahan setidaknya hingga abad ke-13. Di masa lalu, pengaruh Muarajambi tak cuma di Sumatera atau Indonesia. Pengaruhnya luas karena mempunyai hubungan dengan tempat pengajaran agama Buddha lainnya, salah satunya Nalanda di India.
Pemugaran tahun ini akan difokuskan di Candi Kedaton dan Candi Kotomahligai. Kedaton merupakan salah satu situs terbesar di Muarajambi dengan luas lebih dari 4 hektar. Selain struktur bata, di dalamnya juga terdapat sumur tua yang sumber airnya masih mengalir hingga saat ini.
“Tim kami sudah melakukan kajian pendahuluan terkait kawasan Muarajambi, seperti tipologi candi dan artefak-artefak terdahulu. Untuk pemugaran ini tentunya perlu mendatangkan ahli crafstmanship karena detailnya cukup banyak untuk pemugaran kawasan Muarajambi,” ujar Prof Kemas Ridwan Kurniawan selaku tim pengawas pemugaran kawasan Muarajambi.
Pemugaran ini turut didukung sejumlah pihak, salah satunya, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi). Ketua Umum Walubi Siti Hartati Murdaya mengapresiasi pemugaran kawasan candi yang terletak di tepi Sungai Batanghari itu.
“Saya dan kelompok umat Buddha merasa sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan untuk berkontribusi dan mendukung pemerintah dalam pemugaran kawasan Muarajambi,” ucapnya.





