Skuisi nama mainan itu. Meskipun pola penyerapan fonetik sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia itu belum baku, saya lebih memilihnya daripada mengikuti padanan terjemahan squishy yang menunjukkan sifat benda itu, seperti “mainan empuk” (tekstur mudah ditekan), “mainan kenyal” (dapat kembali ke bentuk semula), atau “mainan pereda stres” (merujuk fungsi psikologisnya).
Alasannya pragmatis saja. Penyebutannya agak panjang. Akan terjadi hambatan word of mouth. Ada kecenderungan, terutama pada anak-anak, lebih nyaman menginformasikan kepada teman sebayanya tentang mainan dengan nama sependek mungkin. Jika tidak, mereka akan kesusahan merekomendasikan secara lisan.
Nah, karena itu saya menyebut mainan itu skuisi. Kendati lema “skuisi” belum tercantum di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan, ia bisa mendapatkan tempat sebagai versi pengucapan dari kata bahasa Inggris squishy yang menurut International Phonetic Alphabet adalah /ˈskwɪʃi/. Bila transkripsi fonetis ini dituliskan lagi ke huruf Latin, maka akan ditemukan kata “skuisi”.
Lalu apa itu skuisi? Ia merupakan sejenis mainan (toy). Ada yang menyebutnya dengan nama teknis slow rising toy. Mengacu pada sifat skuisi yang setelah mengalami peremasan dengan tangan (sehingga ada perubahan bentuk), akan kembali dengan sendirinya secara perlahan ke bentuk semula.
Sejarah SkuisiSkuisi menggunakan materi dasar poliuretan (polyurethane). Ilmuwan Jerman Otto Bayer (4 November 1902 - 1 Agustus 1982) menemukannya pada tahun 1937 sebagai hasil bentukan reaksi kimia antara isosianat dan poliol. Poliuretan merupakan bahan polimer serbaguna, semacam “jembatan” karet dengan plastik. Sifatnya fleksibel seperti karet, tapi memiliki kekerasan dan daya tahan plastik.
Hingga dekade 1940-an dan 1950-an belum ditemukan mainan skuisi seperti yang dikenal dewasa ini. Meskipun demikian, ada sejumlah mainan yang menunjukkan karakteristik hampir serupa yang hadir pada bentangan era itu. Seperti Silly Putty, dengan bahan campuran polimer silikon (sekitar 70%) dan asam borat serta pigmen warna.
Sementara itu, bahan pengisi untuk mainan Silly Putty berupa tanah liat atau kalsium karbonat. Keunikan sifat mainan ini, yakni dapat mengalir seperti cairan tapi dapat memantul seperti padatan. Dalam titian sejarah penciptaan toy, ini merupakan penemuan yang terjadi tanpa perencanaan terlebih dahulu dalam upaya mencari pengganti karet pada masa Perang Dunia II (1939 - 1945).
Mainan Silly Putty mulai dijual pada tahun 1950. Selain itu, ada Squeaky Toys, mainan karet berdecit. Tersaji dengan berbagai warna dan biasanya berbentuk binatang. Populer pada dua dasawarsa ini. Sifatnya memang kenyal, hanya tidak segera kembali ke bentuk awal dan ada bunyi decit tatkala diremas.
Pada dekade 1960-an hingga 1980-an muncul mainan-mainan yang terbuat dari karet padat atau vinil lembut berongga. Ada yang berupa boneka karakter berlisensi a tau hewan kecil. Walaupun tidak “lambat mengembang” (slow-rising) seperti skuisi modern, mainan itu kenyal dan bisa menerima dengan khusyuk gemas remasan.
Kemudian pada dekade 1980-an, terdapat sejumlah mainan bola atau boneka karakter yang berbahan busa polietilen. Lebih padat dari gabus atau styrofoam. Menghadirkan sensasi hasil remasan yang lebih segera pulih kembali ke bentuk semula, jika kita mengomparasikannya dengan skuisi modern yang berbahan busa poliuretan.
Sudah itu, akhir dekade 1980-an hingga awal 1990-an, hadir Splish Splosh. Mainan berisikan gel atau air, kebanyakan berbentuk hewan laut atau makhluk fantasi. Sangat kenyal dan mengangsurkan tawaran pengalaman sensorik yang berlainan. Tidak terlalu jauh kemiripannya dengan beberapa jenis skuisi modern yang mengandung manik-manik air.
Pada akhir dekade 1970-an hingga awal 1990-an, ada Goo-Goo Dolls atau Stretch Armstrong. Sekalipun biasanya lebih fokus untuk ditarik-tarik, mainan yang di dalamnya ada cairan kental atau sirop jagung itu, bisa juga menghadirkan sentuhan sensasi tersendiri ketika diremas lantaran unik dan berat.
Seterusnya, pada akhir dekade 1990-an hingga awal 2000-an, bola stres dan sejumlah mainan promosi mulai melibatkan pemakaian busa poliuretan. Bahan ini mempunyai kemiripan yang dekat dengan bahan untuk mainan skuisi modern. Hanya kerap kali cenderung lebih padat.
Capaian popularitas yang melambung tinggi mainan skuisi yang menunjukkan respons “lambat mengembang” (slow-rising), yang bentuknya kerap kali berupa makanan dan mendapat sertaan kelengkapan aroma, baru betul-betul menemukan momen puncak eksistensinya pada medio hingga akhir dekade 2010-an.
Inovasi JepangDan, konsep modern mainan skuisi beranjak dari inovasi di Jepang pada awal 2010-an. Bangsa dari Negeri Seribu Otaku, yang menjadi kiblat perhatian para penggemar anime, manga, video gim (otaku) itu, telah menginovasi skuisi dengan mengintegrasikan estetika kawaii (imut, lucu), tekstur yang lembut, dan fungsionalitasnya sebagai pereda kegelisahan. Kerap kali dengan sentuhan keunikan yang berpusat pada manusia dan budaya.
Terdapat sejumlah aspek yang mendapat jamahan dari inovasi bangsa yang negerinya menjadi tempat bunga-bunga sakura bermekaran pada musimnya itu. Mulai dari pemakaian bahan dengan kualifikasi mutu tinggi, sehingga dapat memfokuskan diri pada upaya pengkreasian produk dengan “sentuhan yang sangat lembut”. Memanfaatkan bahan dari busa yang unggul, seperti poliuretan atau memory foam yang masuk ke dalam kategori aman dan tidak mengandung racun.
Inovasi mainan skuisi modern tersebut, oleh karena itu juga menerapkan standar keamanan ketat, seperti Japanese Industrial Standards D 4000 (JIS D 4000). Mengacu pada spesifikasi yang terkait dengan rancangan untuk memastikan produk mainan tersebut betul-betul aman tatkala para konsumen menggunakannya.
Inovasi Jepang terhadap mainan skuisi adalah mempertegas tekstur slow-rising dengan sertaan suara busa halus, populer dengan rekaman Autonomous Sensory Meridian Response (ASMR). Sensasi kesemutan menyenangkan berkat rangsangan audio seperti bisikan lembut dan kerap dengan ikutan perasaan relaksasi mendalam. Hal ini menambah dimensi sensorik baru pada mainan tersebut.
Tidak sedikit mainan skuisi hasil inovasi Jepang yang mendapatkan sentuhan rancangan agar tampak dan terbaui persis seperti benda aslinya. Misalnya tampak seperti roti dan baunya laksana si pemegang mainan skuisi itu sedang berada di toko roti. Desainnya realistis, acapkali berbentuk buah-buahan atau karakter kawaii yang memantik pesona anak-anak dan bahkan orang dewasa.
Di samping menempati fungsi sebagai mainan, skuisi juga juga merupakan peranti untuk meredakan kecemasan yang efektif di segala usia. Di Negeri Matahari Terbit itu, telah dibentuk Asosiasi Skuisi Jepang. Pendirian organisasi ini menunjukkan bukti pengakuan secara kultural, bahwa mainan tersebut memiliki peran dalam upaya pencapaian kesejahteraan emosional.
Jamahan inovasi mainan skuisi di Jepang juga menyasar pada desain, perhatian pada detail, dan memainkan konsep produksi dalam jumlah terbatas untuk mengantarkan mainan skuisi pada posisi keberadaannya sebagai benda koleksi untuk kalangan pencinta berat di seantero jagat. Guna menaikkan derajat pesonanya sebagai benda koleksi, ada sentuhan kolaborasi melalui upaya mengetengahkan karakter anime, manga, dan budaya pop Dai Nippon (大日本) lainnya.
Di Harajuku, sebuah kawasan yang menjadi pusat budaya di Distrik Shibuya, Provinsi Tokyo, ada sejumlah toko yang memberikan pengalaman unik. Para pelanggan boleh berkreasi mewarnai dan memberi aksesori menurut selera masing-masing. Tawaran ini mempersembahkan pemungkinan bagi konsumen dalam memersonalisasi performa mainan skuisi yang hendak mereka beli dan bawa pulang dalam keterlibatan suatu proses kreatif.
Mooosh Squishy Harajuku merupakan salah satu toko tersohor yang memberi kesempatan kepada mereka yang berkeinginan menikmati sensasi keunikan membuat skuisi dengan tangan sendiri. Langka proses kerjanya, yaitu pelanggan memilih skuisi yang belum tersentuh warna. Bentuknya berupa donat, roti, atau karakter yang lucu.
Setelah itu para pelanggan dapat mewarnai sendiri dengan menggunakan cat khusus (puffy paint) dan menambahkan dengan hiasan bahan dekoratif sesuai dengan selera masing-masing. Pihak toko yang menyediakan cat dengan aneka warna pilihan dan pernik-pernik aksesorinya.
Setelah selesai pewarnaan dan pemberian aksesori pada mainan skuisi, tahapan berikitnya adalah proses pengeringan. Durasi waktu pengeringan dapat mengambil rentang yang cukup lama, bahkan bisa hingga satu hari. Untuk mengatasi hal ini, pihak toko biasanya berinisiatif mengemas mainan skuisi yang masih dalam proses pengeringan itu dengan cara memberinya dengan kemasan kotak transparan, sehingga pelanggan dapat membawanya pulang dalam keadaan masih relatif basah. Dan, tampak seperti produk yang sudah final.
Terlibat dalam proses pewarnaan dan pemberian aksesori mainan skuisi ini, memberi celah pemungkinan kepada pengunjung, terlebih bagi anak-anak dan remaja meski tidak jarang juga berlaku bagi orang dewasa, guna memersonalisasi ekspresi artistik. Dengan demikian, dapat memunculkan aura keunikan dan keperseorangan yang tersendiri, dan yang berbeda dari mainan skuisi dari hasil pembelian di toko-toko mainan biasa.
Di kalangan wisatawan mancanegara dan juga wisatawan lokal, pemberian kesempatan untuk mencerna pengalaman artistik ini menjadi begitu mengasyikkan. Sebab, pengalaman ini menjadi titian langkah untuk mengintegrasikan tren kawaii (imut, lucu) dengan aktivitas fisik keterampilan yang menyenangkan dan kreatif.
Dengan berpegang pada inovasi yang menganut asas kontinuitas, berkat sokongan kuat dari anutan prinsip kaizen (pembenahan secara terus-menerus), Jepang mampu memodifikasi mainan yang sebetulnya sederhana saja. Kemudian menghadirkan fenomena global yang sangat menarik karena kemampuan hasil modifikasi itu menghidupkan peran serta indra penciuman, indra peraba (taktil), dan indra penglihatan (visual) dari para penggunanya.
Mainan skuisi hasil inovasi Jepang mulai populer dalam skala global sekitar titimangsa 2017. Sebelumnya mulai 2014, sudah terlebih dahulu populer di kalangan para pelajar di Negeri Kesatria Samurai itu. Di awal, tujuannya untuk membantu mereka meredakan kecemasan. Pengoperasiannya, dengan cara meremas-remas mainan skuisi itu berulang-ulang, sehingga ganjalan kecemasan atau perasaan yang mengganggu lainnya dapat menemukan pelampiasannya nan elegan.
Tren popularitas mainan skuisi selanjutnya menerbangkan pengaruh hingga skala global, menerobos pasar Amerika Serikat dan seantero dunia pada kisaran musim semi tahun 2017. Pengaruh platform digital dan media sosial, seperti YouTube dan Instagram, menjadi pemulus jalan bagi mainan skuisi hasil inovasi Jepang itu menemukan denyut popularitas dan sensasi viralitas pada skala internasional yang mendunia.
Terdapat sejumlah variasi populer mainan skuisi hasil inovasi para anak bangsa Negeri Teater Tradisional Kabuki itu. Ada jenis slow rising, yang memerlukan hanya beberapa detik untuk kembali ke bentuk semula setelah pasrah menerima gemas remasan.
Ada pula jenis Mochi Squishy yang berbahan karet termoplastik atau silikon yang lebih kenyal dan lengket seperti halnya tekstur kue moci Jepang. Terbuat dari beras ketan yang ditumbuk hingga lembut dan lengket, dibentuk bulat. Biasa disajikan saat perayaan tradisional Mochitsuki yang diselenggarakan menjelang Tahun Baru (Oshōgatsu).
Perusahaan mainan asal Amerika Serikat, Kelly Toys, yang berdiri di Los Angeles, California, pada 1986 (pada 2020, Jazwares, perusahaan mainan lainnya, mengakuisisinya), pada tahun 2017 meluncurkan produk Squish Mallows, variasi boneka mewah (plush toy) yang konon menangguk inspirasi dari produk-produk lembut dari Jepang.
Di Indonesia, tren skuisi menduduki singgasana kepopulerannya pada kisaran tahun 2016 - 2017. Kondisi tersebut berkat dorongan dari para kreator konten digital Tanah Air yang mengulas dan memperlihatkan koleksi skuisi mereka. Begitulah, berkat kemasifan konten tentang mainan skuisi, menyebabkan anak-anak hingga orang dewasa di Negeri Zamrud Khatulistiwa ini berbondong-bondong memanfaatkannya sebagai sarana relaksasi.
Manfaat MedisKeberadaan mainan skuisi, berdasarkan sejumlah penelitian dan tinjauan medis, ternyata memiliki manfaat medis atau fungsi klinis. Terapi bermain skuisi terbukti efektif untuk mengelola rasa nyeri pada anak-anak yang tengah menjalani prosedur medis, seperti pengambilan darah.
Bisa juga bermain skuisi untuk menurunkan tingkat kecemasan saat anak-anak mengalami hospitalisasi. Proses menginap di rumah sakit saat akan menjalani suatu perawatan medis, secara terencana atau darurat. Pengalaman ini sarat tekanan dan krisis. Ada transisi dari kehidupan orang sehat ke lingkungan orang yang memerlukan perawatan dokter. Hal ini memerlukan adaptasi psikologis dan fisik.
Selanjutnya pemanfaatan mainan skuisi dalam latihan Range of Motion (ROM). Teknik menggerakkan sendi untuk menjaga fleksibilitas, kekuatan otot, dan sirkulasi darah dalam langkah rehabilitasi pascastroke.
Meremas-remas skuisi dapat meningkatkan kekuatan otot tangan. Juga mengatasi ekstremitas atas, pada lengan (bahu, lengan atas, lengan bawah, tangan) yang mengalami gangguan fungsi akibat stroke, seperti lemah (hemiparesis), kaku (spastisitas), atau kehilangan gerakan yang mengganggu aktivitas kehidupan keseharian.
Menurut perspektif medis, meremas-remas skuisi merupakan salah satu cara untuk melakukan relaksasi terhadap otot yang mengalami ketegangan, merangsang saraf tangan yang terhubung ke otak, dan membelokkan perhatian dari pikiran negatif ke arah positif atau setidaknya netral.
Di samping itu, meremas-remas skuisi juga merupakan salah satu wujud tindakan simulasi sensorik. Dapat menuntun anak-anak mengelola emosi menaikkan derajat fokusnya lewat aktivitas sensorik yang dapat menghadiahkan ketenangan hati. Pun bisa menyorongkan stimulasi taktil (dapat terasa indra peraba dengan sentuhan) yang menolong untuk menenangkan anak-anak, teristimewa bagi mereka yang mempunyai kebutuhan sensorik khusus atau autisme.
Dalam tarikan manfaat medis, bermain skuisi bisa pula melatih dan menolong untuk membentuk keterampilan kognitif dan motorik halus yang sangat penting dalam perkembangan anak-anak. Selain itu, bagi orang dewasa dan anak-anak, bermain skuisi pun dapat mempertemukan dengan fungsinya sebagai pengalih perhatian yang menyenangkan. Atau, menolong untuk menegaskan fokus, misalnya ketika berada dalam situasi menempuh perjalanan jauh.
Bermain skuisi juga memperoleh pengakuan manfaat medisnya karena bisa menolong seseorang saat hendak berupaya merelaksasi ketegangan otot. Mengusir kecemasan dan emosi yang kurang nyaman dari pikiran. Serta, tindakan terapeutik yang mirip dengan bola pereda stres.
Akan tetapi, selain banyak manfaat medis sebagaimana terpapar pada uraian di atas, pada mainan skuisi juga melekat adanya kekhawatiran medis. Hal ini terkait dengan keamanan bahan kimia yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian di sejumlah negara (satu di antara Denmark) menunjukkan kebenaran akan adanya kekhawatiran medis tersebut.
Pada beberapa (tidak semua) skuisi terdapat kandungan senyawa organik volatil atau volatile organic compounds (VOCs) yang berupa gas, seperti dimethylformamide, styrene, dan toluene dalam konsentrasi tinggi. Paparan yang berkepanjangan dapat menimbulkan iritasi mata dan saluran pernapasan. Lebih parah lagi, berisiko mengakibatkan kerusakan hati, ginjal, sistem saraf, hingga merembet ke gangguan reproduksi.
Pada jenis fidget toys atau gel-filled squishy yang di dalamnya ada gel atau cairan, seperti polivinil alkohol dan air, ketika pecah cairan itu dapat menimbulkan iritasi kulit atau luka bakar kimia. Kemudian, jika ada bagian kecil dari skuisi terlepas dan tertelan pada anak-anak usia di bawah usia tiga tahun, risiko tersedak pun tak terelakkan bisa terjadi.
Guna mengantisipasi kekhawatiran medis itu, ada sejumlah poin rekomendasi untuk memastikan penggunaan mainan skuisi itu aman.
Pertama, memilih produk skuisi yang berlabel keamanan, seperti Standar Nasional Indonesia (SNI), Conformité Européenne (CE), China Compulsory Certification (CCC), dan Japanese Industrial Standards D 4000 (JIS D 4000) atau Japanese Product Safety Consumer Mark (PSC Mark), untuk memperoleh jaminan bahwa kadar zat kimianya betul-betul di bawah ambang batas berbahaya.
Kedua, menghindari aroma bau kimia pada produk mainan skuisi yang kelewat menyengat, karena itu merupakan indikasi emisi zat berbahaya yang tinggi. Ketiga, menghindari meletakkan mainan skuisi di tempat tidur karena risiko inhalasi zat kimia saat anak-anak tidur.
Keempat, tidak membiarkan anak menggigit atau memasukkan mainan skuisi ke dalam mulut. Kelima, segera membuang mainan skuisi jika rusak terkoyak atau mengeluarkan bau kimia yang menyengat hidung.
Demikian pembicara singkat dari berbagai aspek tinjauan tentang mainan skuisi. Dewasa ini, kendati tren puncaknya sudah relatif lama lewat, mainan skuisi masih banyak dijual di Indonesia. Ada beberapa jenis skuisi yang masih berada dalam rengkuh kegemaran masyarakat baik untuk kepentingan koleksi maupun mainan pereda kecemasan dan aksesori lucu.
Sebut saja Taba Squishy, jenis skuisi dengan tekstur lebih lengket atau lebih kenyal daripada model busa tradisional. Desain yang sering hadir adalah telapak kaki kucing atau makanan. Kemudian Licensed Squishy, jenis skuisi yang menjadi buruan para kolektor berkat kelembutan ekstrem dan aroma wanginya. Dan, Do It Yourself (DIY) Squishy Kits, berupa paket membuat skuisi sendiri.



/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2025%2F10%2F20%2Fbe367ac9-4c7f-4b7b-a9c2-3cca538bfa9f_jpg.jpg)
