Langit Kecil Bernama Keluarga

kumparan.com
15 jam lalu
Cover Berita

Dalam sebuah keluarga, semesta kecil itu, ayah kerap hadir seperti matahari.

Ia keras. Terang. Terlalu terang, bahkan. Tatapannya jarang bisa ditahan lama. Suaranya tegas, keputusannya mutlak, dan kehangatannya sering terasa seperti panas. Bukan pelukan. Anak-anak tumbuh dengan jarak tertentu darinya, sebagaimana manusia belajar berjalan sambil menyipitkan mata di bawah terik siang. Matahari tidak pandai membelai. Ia tidak berbisik. Ia menyinari tanpa kompromi.

Namun, justru di sanalah rahasianya.

Matahari adalah pusat. Tanpa banyak bicara, ia menahan segalanya tetap pada orbitnya. Ia tidak meminta disukai. Ia hanya memastikan hidup tetap berjalan. Dari panasnya tumbuh padi, dari cahayanya daun belajar hijau, dari gravitasinya bumi tahu ke mana harus setia berputar.

Ayah, dalam diamnya, sering melakukan hal yang sama. Bekerja tanpa puisi, mencinta tanpa metafora, hadir tanpa tepuk tangan. Ia jarang dielu-elukan, tapi tanpanya, segalanya runtuh pelan-pelan.

Lalu ada ibu, yang hadir seperti bulan.

Ia lembut. Dingin yang menenangkan. Sinar yang tidak menyilaukan, tapi cukup untuk membuat malam terasa aman. Bulan adalah tempat manusia menitipkan rindu, doa, dan lagu-lagu sendu. Orang-orang tidak takut menatapnya. Mereka justru menunggu purnamanya. Seperti ibu, yang wajahnya menjadi tempat pulang, suaranya menjadi tempat mengadu, dan diamnya menjadi ruang paling ramah untuk menangis.

Namun, bulan punya rahasia yang jarang dibicarakan dengan lantang.

Ia tidak memiliki cahaya sendiri. Keindahannya adalah pantulan. Sinar lembut yang kita kagumi itu sejatinya datang dari matahari yang siang hari kita keluhkan. Ayah yang keras itu, yang terasa jauh, yang jarang tersenyum; di malam hari, cintanya hadir kembali melalui ibu. Melalui masakan hangat, doa panjang, nasihat pelan, dan kesabaran yang seolah tak habis-habis. Matahari mungkin tak disukai saat siang, tapi ia tetap setia menyinari bulan agar malam tidak sepenuhnya gelap.

Dan di antara keduanya, berputarlah bumi: anak-anak.

Bumi adalah tempat segala kemungkinan. Tempat kehidupan tumbuh, atau perlahan mati. Anak-anak menyerap panas matahari dan kelembutan bulan tanpa pernah benar-benar memilih. Dari ayah, mereka belajar keteguhan, daya tahan, dan disiplin. Dari ibu, mereka belajar empati, keindahan, dan bahasa perasaan.

Terlalu banyak panas, bumi mengering. Terlalu dingin, kehidupan membeku. Keseimbangan adalah kuncinya, dan keseimbangan itu lahir dari tarian sunyi antara matahari dan bulan.

Tanpa matahari, tak ada kehidupan. Tanpa bulan, tak ada keindahan.

Keluarga pun demikian. Ayah tidak selalu harus dimengerti, seperti matahari yang tak perlu ditatap. Ibu tidak selalu harus kuat sendiri, seperti bulan yang sesungguhnya hanya memantulkan. Dan anak-anak—bumi kecil itu—adalah saksi bahwa cinta tidak selalu datang dalam bentuk yang sama. Ada yang membakar agar kita tumbuh. Ada yang menyejukkan agar kita bertahan.

Di langit keluarga, cinta jarang sempurna. Namun, selama matahari dan bulan tetap setia pada orbitnya, bumi akan terus berputar. Menumbuhkan kehidupan, kenangan, dan harapan baru, dari generasi ke generasi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Warga Denmark-Greenland Serentak Demo Tolak AS: Hands Off Greenland!
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Didorong Kendaraan Listrik, Ekspor Mobil China Tembus 7 Juta Unit
• 2 jam lalugenpi.co
thumb
Bripda Rio Desersi Brimob Aceh Gabung Tentara Rusia Sudah Dipecat Tidak Hormat
• 6 jam lalumerahputih.com
thumb
Penguatan Ekosistem Digital Dukung Pertumbuhan Kreativitas Anak Bangsa
• 8 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Titi Anggraini Prediksi Hak Rayat Memilih Presiden akan Dicabut
• 8 jam lalufajar.co.id
Berhasil disimpan.