Jakarta, VIVA – Pembahasan mengenai kesehatan pria kini tak lagi terbatas pada isu performa seksual, melainkan berkembang ke persoalan kualitas hidup secara menyeluruh. Salah satu faktor krusial yang sering luput dari perhatian adalah keseimbangan hormon, khususnya testosteron, yang berperan besar dalam metabolisme, kesehatan mental, hingga risiko penyakit kronis.
Seiring bertambahnya usia, perubahan hormon dapat memengaruhi energi, kestabilan emosi, hingga kemampuan berpikir jernih. Kondisi ini kerap tidak disadari karena prosesnya berlangsung perlahan dan gejalanya sering dianggap sebagai kelelahan biasa akibat aktivitas sehari-hari. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Data World Health Organization (WHO) dan Global Burden of Disease (GBD) mencatat, penyakit kardiovaskular (CVD) menjadi penyebab 19,8 juta kematian global pada 2022 atau sekitar 32 persen dari total kematian dunia. Sebanyak 85 persen di antaranya disebabkan serangan jantung dan stroke.
Founder Klinik Pratama Steros, dr. Ivonne Andriani Santoso, M.Biomed (AAM), menjelaskan bahwa penurunan hormon testosteron memiliki kontribusi signifikan terhadap meningkatnya risiko penyakit tersebut.
“CVD terjadi karena sokongan penurunan hormon testosteron yang tidak disadari kebanyakan pria,” ujar dr. Ivonne saat grand opening Steros Men`s Health & Anti-Aging Clinic di Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Menurutnya, testosteron bukan hanya hormon reproduksi, tetapi juga memengaruhi metabolisme tubuh. Kadar testosteron yang rendah dapat menyebabkan peningkatan lemak visceral, gangguan kolesterol dan gula darah, tekanan darah tinggi, serta inflamasi kronis.
Berada dalam ruang diskusi yang sama, Androlog sekaligus seksolog Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And., Subsp.SAAM, menekankan bahwa proses penuaan sejatinya berkaitan erat dengan perubahan hormon yang dapat dimulai sejak usia relatif muda.
“Perubahan level hormon mulai terjadi pada usia muda. Hal inilah lantas menjadi penyebab utama terjadinya proses penuaan. Manusia menjadi tua karena hormon berkurang, bukan sebaliknya,” kata Prof. Wimpie.
Ia membedakan usia kronologis—berdasarkan tahun kelahiran—dengan usia fisiologis yang mencerminkan fungsi organ tubuh. Ketimpangan antara keduanya dapat berdampak besar terhadap kesehatan dan kenyamanan hidup seseorang.
Menurut Prof. Wimpie, penyebab penuaan terbagi menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup ketidakseimbangan hormon, radikal bebas, kerusakan DNA, hingga penurunan sistem imun. Sementara faktor eksternal meliputi pola hidup dan diet tidak sehat, kebiasaan buruk, paparan polusi, serta stres berkepanjangan.




