REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyelesaikan pembangunan rumah hunian sementara (huntara) untuk korban banjir bandang dan tanah longsor di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Pembangunan ini selesai pada Sabtu dan mencakup 10 kopel rumah huntara untuk 50 kepala keluarga (KK).
Pembangunan huntara dimulai sejak 1 Januari 2026 di atas lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi dengan melibatkan perusahaan lokal. Setiap unit dilengkapi dengan fasilitas pendukung kebutuhan dasar seperti jaringan listrik dari PLN dan ketersediaan air bersih melalui pembangunan sumur bor.
Agus Marsanto, Tenaga Ahli BNPB, menyatakan bahwa huntara ini diperuntukkan bagi warga yang rumahnya rusak berat akibat bencana. Selain itu, pemerintah menyalurkan bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) bagi warga terdampak yang tidak menempati hunian sementara. Setiap unit huntara memiliki ukuran bangunan 3,6 meter x 4,8 meter, kamar mandi berukuran 1,2 meter x 1,2 meter, serta teras berukuran 1,2 meter x 3,6 meter.
Rencana Penambahan Huntara
Selain 10 barak yang telah rampung, BNPB merencanakan penambahan 13 rumah huntara untuk 65 KK dengan progres pembangunan saat ini mencapai sekitar 20 persen. Agus berharap keberadaan huntara ini dapat menjadi tempat tinggal sementara yang aman dan layak untuk mendukung proses pemulihan masyarakat terdampak bencana.
BNPB bersama pemerintah daerah berkomitmen mempercepat penyediaan hunian sementara di Kabupaten Pidie Jaya dengan target agar masyarakat terdampak bisa menempati huntara sebelum Februari, yang bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan.
.rec-desc {padding: 7px !important;} Konten ini diolah dengan bantuan AI.