Rencana Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara merestrukturisasi perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai tak bisa ditunda lagi. BUMN sebagai pilar ekonomi nasional disebut perlu segera disembuhkan agar mampu menopang perekonomian Indonesia secara optimal.
Di antara langkah restrukturisasi tersebut, yang paling nyaring terdengar adalah penggabungan usaha atau merger perusahaan-perusahaan BUMN dan entitas turunannya. Berdasarkan penjelasan sejumlah pejabat Danantara, ada lebih dari 1.064 entitas anak dan cucu usaha yang akan dirampingkan menjadi sekitar 200 perusahaan.
Aksi restrukturisasi dilakukan di tengah nasib beberapa perusahaan pelat merah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia berada di ujung jurung. Dua perusahaan BUMN PT PP Properti Tbk (PPRO) dan PT Indofarma Tbk (INAF) terancam delisting atau dihapus pencatatan sahamnya di pasar modal Indonesia.
Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah mengingatkan, BUMN sejak lama diposisikan sebagai tumpuan ekonomi nasional. Adapun aksi merger terhadap perusahaan BUMN memang sudah dikumandangkan sejak lama, sejak BUMN masih berstatus sebagai Kementrian hingga saat ini berubah menjadi Badan Pengaturan.
“BUMN kita seharusnya menjadi tulang tumpu, menjadi bagian dari solusinya kita. Dan oleh karena itu, restrukturisasi BUMN itu adalah sebuah keharusan kalau kita memang ingin mengoptimalkan perekonomian kita,” kata Piter kepada Katadata.co.id, Rabu (14/1).
Menurut Piter, BUMN pada idealnya menjadi solusi atas berbagai persoalan ekonomi karena memiliki keunggulan baik dari segi fasilitas hingga dukungan negara sehingga dapat menjadi jawaban dari persoalan ekonomi nasional. Namun kenyataannya, banyak BUMN justru bermasalah. Sehingga menurut dia, rencana restrukturisasi tersebut perlu dilakukan secara cepat dan sungguh-sungguh.
Ia menilai, langkah penataan BUMN tak bisa diseragamkan. Setiap perusahaan menghadapi masalah dan karakter yang berbeda. Tergantung kepada bidang usaha dan permasalahan yang dihadapi oleh BUMN tersebut. Menurutnya tidak ada satu solusi yang bisa menjawab seluruh permasalahan perusahaan BUMN.
“Pasti solusinya akan disesuaikan dengan kondisi BUMN-nya. Ada BUMN yang mungkin memang harus ditutup, ada BUMN yang harus digabungkan, ada BUMN yang diangkat, dinaikkan, tergantung kondisinya,” ujar Piter.
Piter juga mengingatkan agar proses restrukturisasi tidak hanya melihat laporan keuangan atau laba rugi. Sebab ada perusahaan yang tampak sehat, tetapi beroperasi jauh di bawah potensinya.
“Maka itu harus dilakukan restrukturisasi juga, agar supaya dia bisa memberikan manfaat yang jauh lebih besar,” ujarnya.
Tahapan Penyaringan Restrukturisasi oleh DanantaraSementara itu, Managing Director Business Danantara Indonesia Febriany Eddy memaparkan pendekatan lembaganya dalam memilah perusahaan BUMN yang akan direstrukturisasi. Menurut dia, penyederhanaan tidak dilakukan secara serampangan atau sekadar memangkas jumlah entitas.
Febriany menyebut beberapa dimensi penilaian dalam restrukturisasi, salah satunya adalah melihat kembali tujuan awal pendirian BUMN tersebut. Jika perusahaan BUMN sudah tidak relevan dan kinerjanya terus merugi, opsi penggabungan atau penutupan terbuka perlu dilakukan.
Pertimbangan lain adalah praktik kompetisi internal antar BUMN. Febriany menyoroti banyak entitas yang berada dalam sektor dan model bisnis sama, tetapi saling berebut pasar.
Danantara juga mengindentifikasi beberapa anak usaha yang tidak memiliki nilai tambah dan mendorong kinerja induk usaha. Menurutnya, entitas seperti itu dinilai lebih efisien jika dilebur kembali. Ada pula perusahaan yang dibentuk untuk sektor tertentu, tetapi justru bertumpang-tindih dengan entitas lain.
“Misalnya ada banyak sekali di yang seribu itu yang berkompetisi di antara dirinya sendiri. Bisnis modelnya sama, industri sama, sektornya sama, pokoknya sama persis gitu. Terus ngapain? Saling berkompetisi dia, saling berebut gitu,” ujar perempuan yang akrab disapa Feby tersebut dalam acara bertajuk Danantara dan Transformasi BUMN Menuju Korporasi Kelas Dunia di Jakarta, Rabu (14/1)..
Dari hasil kajian tersebut, Danantara membuka ragam opsi untuk skema restrukturisasi, mulai dari merger, konsolidasi, likuidasi bagi entitas yang sakit berat hingga monetisasi melalui penjualan aset apabila dinilai lebih optimal.
Ia menegaskan restrukturisasi bukan sekadar mengurangi jumlah perusahaan, tetapi memperkuat skala usaha dan daya saing global. Febriany mencontohkan konsolidasi aset jalan tol yang berpotensi menciptakan pemain besar di kawasan.
“Bisa jadi the largest in Southeast Asia, bahkan di Asia,” kata dia.
Meski demikian, Danantara menekankan proses restrukturisasi dilakukan dengan hati-hati karena dampaknya menyentuh banyak pihak, termasuk karyawan dan pemangku kepentingan lainnya.
Danantara Sebut Restrukturisasi Mendapat Respons Positif PasarSementara itu, Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani mengatakan proses restrukturisasi perusahaan BUMN mendapat respon positif dari pasar. Menurut Rosan, hal tersebut tercermin dari pergerakan harga saham sejumlah emiten BUMN yang sudah direstrukturisasi yang mulai menunjukkan sinyal pemulihan.
Danantara mencatat sejumlah emiten yang menjalani restrukturisasi, seperti PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Timah Tbk (TINS) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mulai mendapatkan kembali kepercayaan investor. Kebangkitan saham-saham tersebut dinilai menjadi indikasi positif terhadap efektivitas program restrukturisasi.
“Contohnya yang kita lakukan ada di beberapa BUMN, tapi mungkin yang paling besar salah satunya di Garuda, di Telkom, di Krakatau Steel, yang dimana itu responnya sangat positif,” kata Rosan dalam diskusi bertajuk Peran Danantara Indonesia Mendorong Pertumbuhan Berkualitas di Jakarta, Rabu (14/1).
Rosan menjelaskan, Danantara sedang melakukan transformasi besar-besaran terhadap perusahaan BUMN, khususnya dalam segi Sumber Daya Manusia. Dia berharap, rencana tersebut dapat terealisasi pada BUMN dari yang besar hingga ke bawahnya.
Rosan mencontohkan saham Telkom yang bergerak naik signifikan 81% dalam kurun waktu enam bulan terakhir dengan valuasi saham yang meningkat hingga Rp 115 triliun. Padahal, kata Rosan, nilai valuasi saham Telkom turun dalam lima tahun ke belakang. Menurutnya, saham Telkom telah merespon positif terhadap transformasi yang dilakukan Danantara khususnya di bidang digital.
“Kita dengan adanya teknologi baru, AI, blockchain dan kita harus bertransformasi dan beradaptasi dengan itu. Kalau tidak ya kita nanti akan ketinggalan,” ujar Rosan.




