SERUAN Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang kian gencar agar AS merebut atau memperoleh Greenland memicu gelombang kritik baru, termasuk dari kalangan Partai Republik AS sendiri.
Sejumlah tokoh menilai wacana tersebut berpotensi merugikan kepentingan ekonomi Amerika Serikat serta memperkeruh hubungan dengan aliansi militer NATO.
Kritik itu disampaikan antara lain oleh Senator AS Thom Tillis dan Lisa Murkowski, yang tergabung dalam delegasi bipartisan anggota parlemen AS yang melakukan kunjungan ke Denmark untuk membahas kekhawatiran terkait Greenland, wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark.
Baca juga : Isu Greenland Memanas, Uni Eropa Siapkan Langkah Dagang Balasan ke AS
Baik Tillis maupun Murkowski secara terbuka mengecam ancaman tarif baru yang dilontarkan Trump pada Sabtu lalu terhadap sejumlah negara Eropa, termasuk Denmark, Jerman, Prancis dan Inggris. Tarif tersebut disebut akan diberlakukan hingga Amerika Serikat diizinkan membeli Greenland.
Murkowski menuliskan kritiknya melalui platform X dengan menyebut kebijakan tarif itu sebagai langkah yang keliru. Ia menilai ancaman tersebut muncul setelah sekutu NATO mengerahkan pasukan ke Greenland pada Kamis, menyusul pernyataan Trump yang tidak menutup kemungkinan merebut pulau Arktik itu secara paksa.
Tarif itu, menurut Murkowski, tidak perlu, bersifat menghukum dan merupakan kesalahan besar.
Baca juga : Ambisi AS Kuasai Greenland Disebut Rusia tak Bisa Dibendung
"Mereka akan semakin menjauhkan sekutu inti Eropa kita tanpa melakukan apa pun untuk memajukan keamanan nasional AS," tegasnya.
Lebih lanjut, Murkowski memperingatkan dampak strategis dari kebijakan tersebut terhadap NATO.
"Kita sudah melihat konsekuensi dari langkah-langkah ini secara langsung: sekutu NATO kita dipaksa untuk mengalihkan perhatian dan sumber daya ke Greenland, sebuah dinamika yang secara langsung menguntungkan (pemimpin Rusia Vladimir) Putin dengan mengancam stabilitas koalisi demokrasi terkuat yang pernah ada di dunia," sebutnya.
Murkowski pun mendesak Kongres untuk menggunakan kewenangannya dalam urusan tarif agar kebijakan tersebut tidak digunakan sebagai senjata yang merugikan aliansi kita dan melemahkan kepemimpinan Amerika.
Senator Thom Tillis juga melontarkan kritik keras melalui X.
"Tanggapan terhadap sekutu kita sendiri karena mengirim sejumlah kecil pasukan ke Greenland untuk pelatihan ini buruk bagi Amerika, buruk bagi bisnis Amerika, dan buruk bagi sekutu Amerika. Ini bagus untuk Putin, (pemimpin Tiongkok) Xi (Jiping) dan musuh-musuh lain yang ingin melihat NATO terpecah," tulisnya.
Tillis menambahkan bahwa secara aktif mendorong tindakan paksa untuk merebut wilayah sekutu adalah tindakan yang sangat bodoh.
"Ini merusak warisan Presiden Trump dan melemahkan semua pekerjaan yang telah dia lakukan untuk memperkuat aliansi NATO selama bertahun-tahun," tegas Tillis.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan mantan Wakil Presiden AS Mike Pence. Ia menilai pendekatan Trump saat ini berisiko merusak hubungan lama Amerika Serikat dengan para sekutunya.
"Sikap saat ini, mengancam untuk merusak hubungan yang kuat itu, tidak hanya dengan Denmark, tetapi dengan semua sekutu NATO kita," kata Pence dalam acara State of the Union CNN pada Minggu (17/1).
"Denmark adalah sekutu yang sangat kuat dari Amerika Serikat," lanjutnya.
Sementara itu, anggota DPR AS dari Partai Republik, Michael McCaul, juga menyuarakan keprihatinan atas kemungkinan intervensi militer AS di Greenland. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi membawa dampak serius bagi NATO.
Dalam wawancara di acara This Week ABC, McCaul menegaskan bahwa faktanya, presiden memiliki akses militer penuh ke Greenland untuk melindungi mereka dari ancaman apa pun yang mungkin muncul di wilayah Arktik tersebut.
"Jadi, jika dia ingin membeli Greenland, itu lain ceritanya," kata McCaul.
"Tetapi jika dia melakukan invasi militer, itu akan membalikkan NATO dan, pada intinya, memicu perang dengan NATO itu sendiri. Itu akan berakhir dengan menghapus NATO seperti yang kita kenal," tambahnya.
Trump sendiri berulang kali menyatakan bahwa penguasaan AS atas Greenland penting bagi keamanan nasional, dengan merujuk pada kekhawatiran atas meningkatnya pengaruh Rusia dan Tiongkok di kawasan Arktik.
Atas dasar itu, ia beberapa kali mengemukakan berbagai skenario untuk memperoleh Greenland, mulai dari pembelian hingga kemungkinan pengambilalihan secara militer.
Namun, tidak semua Republikan sependapat dengan pandangan tersebut. Senator Rand Paul, dalam wawancara di acara Meet the Press NBC pada Minggu, menyebut anggapan bahwa Greenland merupakan situasi darurat sebagai hal yang konyol.
"Tidak ada keadaan darurat dengan Greenland," kata Paul.
Meski demikian, Trump tetap bersikeras bahwa Denmark tidak dapat diandalkan untuk melindungi Greenland jika terjadi konfrontasi dengan Tiongkok atau Rusia.
Dia juga menyatakan bahwa sesuatu akan berhasil terkait masa depan tata kelola wilayah Denmark tersebut.
Delegasi bipartisan anggota parlemen AS yang bertemu Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyatakan tujuan utama kunjungan mereka adalah menegaskan penolakan Partai Republik terhadap gagasan bahwa Amerika Serikat harus merebut Greenland secara paksa.
Sejumlah jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Amerika Serikat juga menentang pengambilalihan kendali atas pulau tersebut.
Meski begitu, ada pula suara berbeda dari kalangan Republik. Mantan Ketua DPR AS Newt Gingrich menyatakan tidak terlalu khawatir dengan pendekatan Trump.
Dalam wawancara di program radio Cats Roundtable, Gingrich menyebut sikap Trump sebagai banyak gertakan untuk mempersiapkan negosiasi guna mendapatkan apa yang diinginkannya.
Yang dimaksud Trump, menurut Gingrich, adalah hak pariwisata, hak ekonomi, hak mineral dan hak keamanan nasional.
Gingrich menyoroti kekayaan sumber daya alam Greenland dan menyebut Tiongkok, Rusia, serta Amerika Serikat sama-sama berkepentingan terhadap akses mineral di wilayah tersebut.
Dia juga menilai cadangan minyak dan gas Greenland sebagai peluang ekonomi yang sangat besar. (The Guardian/H-3)

/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2025%2F11%2F24%2F6949c0f4-e21e-4b12-9a3f-ec72e38385d7_jpg.jpg)

