Harga batu bara acuan (HBA) dengan kalori tertinggi pada periode kedua Januari 2026 mencapai US$ 104,03 per ton. Angka ini naik US$ 0,74 per ton dibandingkan periode pertama Januari 2026 sebanyak US$ 103,30 per ton.
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan Bisman Bakhtiar mengatakan kenaikan harga ini utamanya dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap pengetatan produksi yang dilakukan pemerintah tahun ini.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah memangkas jumlah produksi batu bara tahun ini menjadi sekitar 600 juta ton. Hal ini dilakukan melalui revisi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perusahaan batu bara.
Pemangkasan ini bertujuan untuk menjaga harga komoditas bagus. Indonesia pada 2025 telah memproduksi 790 juta ton batu bara dengan komposisi 65% untuk ekspor dan 32% dialokasikan kebutuhan domestik.
“Ketidakpastian ini mendorong pelaku pasar melakukan antisipasi dengan menahan penjualan atau mengamankan pasokan lebih awal,” kata Bisman kepada Katadata, Senin (19/1).
Kenaikan harga turut dipengaruhi juga dengan kondisi iklim Indonesia yang saat ini berada di fase musim hujan. Hal ini berpengaruh terhadap kegiatan produksi dan logistik yang terganggu.
Selain faktor di atas, kenaikan HBA juga didukung oleh tingkat permintaan batu bara dari pasar Asia yang relatif terjaga, meskipun tidak ada lonjakan harga yang signifikan.
Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 12.K/MB.01/MEM.B/2026, harga batu bara acuan dibedakan menjadi empat golongan:
- HBA dengan nilai kalor 6.322 kilo kalori (kcal) per kilogram (kg) GAR mencapai US$ 104,03 per ton. Naik US$ 0,74 per ton dibandingkan periode pertama Januari 2026 sebanyak US$ 103,30 per ton.
- HBA I dengan nilai kalor 5.300 kcal per kg GAR turun dari US$ 72,23 per ton menjadi US$ 71,61 per ton.
- HBA II dengan nilai kalor 4.100 kcal per kg GAR naik tipis dari US$ 47,05 per ton menjadi US$ 48,39 per ton.
- HBA III dengan nilai kalor 3.400 kcal per kg GAR naik dari US$ 35,13 per ton menjadi US$ 35,38 per ton.
Batu bara dengan nilai kalori 6.322 kcal/kg GAR, digunakan sebagai acuan harga jual untuk kebutuhan penyediaan listrik dan bahan bakar industri, kecuali untuk industri pengolahan dan pemurnian mineral logam.
Harga Mineral AcuanMenteri ESDM juga menetapkan harga mineral acuan berbagai komoditas mineral sebagai patokan periode kedua Januari 2026. HMA nikel dipatok US$ 16.426,54 per metrik ton kering (dmt). Kemudian kobalt US$ 53.440 per dmt dan timbal US$ 1.969,58 per dmt.
Berikut Daftar HMA komoditas lainnya:
- Seng: US$ 3.095,62 per dmt
- Aluminium: US$ 2.994,12 per dmt
- Tembaga: US$ 12.557,27 per dmt
- Emas sebagai mineral ikutan: US$ 4.415,85 per troy ounce
- Perak sebagai mineral ikutan: US$ 73,73 per troy ounce
- Ingot timah Pb 300: settlement price ICDX dan JFX pada hari penjualan
- Ingot timah Pb 200: settlement price ICDX dan JFX pada hari penjualan
- Ingot timah Pb 100: settlement price ICDX dan JFX pada hari penjualan
- Ingot timah Pb 050: settlement price ICDX dan JFX pada hari penjualan
- Ingot timah 4NINE: settlement price ICDX dan JFX pada hari penjualan
- Logam emas: LBMA Gold PM Fix pada hari penjualan
- Logam perak: LBMA Silver Fix pada hari penjualan
- Mangan: US$ 3,48 per dmt
- Bijih besi laterit/hematit/magnetit: US$ 1,58 per dmt
- Bijih krom: US$ 6,37 per dmt
- Konsentrat titanium: US$ 8,72 per dmt



