EtIndonesia. Saat masih kuliah, Profesor Wan—dosen yang mengajar kami—sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tampak sepele dan seolah tanpa maksud khusus.
Suatu kali, Profesor Wan bertanya : “Gunung tertinggi di dunia itu gunung apa?”
Pertanyaan yang terasa terlalu mudah untuk ukuran mahasiswa ini tentu saja dianggap remeh.
Dengan suara setengah malas, kami menjawab serempak : “Gunung Everest.”
Tak disangka, profesor langsung melanjutkan : “Kalau begitu, gunung tertinggi kedua di dunia apa?”
Sekejap, seluruh kelas terdiam. Kami benar-benar kebingungan.
Ada yang mencoba berkilah : “Sepertinya tidak pernah dibahas di buku pelajaran.”
Profesor tidak berkomentar, lalu kembali bertanya : “Kalau begitu, siapa manusia pertama yang pergi ke luar angkasa?”
Kali ini, tidak seorang pun berani menjawab. Bukan karena kami lupa nama Yuri Gagarin, melainkan karena kami sudah bisa menebak pertanyaan berikutnya—dan yang menyakitkan adalah, kami tidak tahu siapa orang kedua yang pergi ke luar angkasa. Maka, dengan senyum tipis, profesor kembali mengajukan beberapa pertanyaan serupa.
Anehnya, jawaban untuk pertanyaan pertama hampir selalu diketahui semua orang, tetapi jawaban untuk pertanyaan kedua nyaris tak ada yang tahu.
Profesor tampak sangat puas, seolah baru saja menyelesaikan sebuah tugas besar. Kami justru semakin bingung, tidak mengerti apa maksud semua ini. Untungnya, profesor lalu berbalik menghadap papan tulis dan dengan cepat menuliskan satu kalimat besar:
“Berada di posisi kedua tidak ada bedanya dengan tidak dikenal sama sekali!”
Barulah kami paham—ternyata profesor sedang mendorong kami untuk selalu berjuang menjadi yang terbaik.
Profesor kemudian menceritakan hasil sebuah eksperimen yang pernah dia lakukan. Dua belas tahun sebelumnya, dia pernah meminta para mahasiswanya untuk masuk ke sebuah aula besar tanpa urutan tertentu, lalu memilih tempat duduk sendiri-sendiri.
Setelah dilakukan berulang kali, profesor menemukan pola yang menarik. Ada mahasiswa yang selalu memilih duduk di barisan depan, ada yang duduk secara acak di mana saja, dan ada pula yang tampaknya sangat menyukai duduk di barisan belakang. Profesor mencatat nama-nama mereka satu per satu.
Sepuluh tahun kemudian, profesor melakukan penelusuran terhadap kehidupan mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan mahasiswa yang gemar duduk di barisan depan jauh lebih tinggi dibanding dua kelompok lainnya.
Profesor juga menjelaskan mengapa banyak perusahaan besar menganggapnya sebagai “pencari bakat”. Saat diminta membantu sebuah perusahaan merekrut karyawan, dia selalu membiarkan para pelamar memilih tempat duduk sendiri tanpa penjelasan apa pun.
Ketika ditanya alasannya, profesor hanya tersenyum santai dan berkata : “Sesungguhnya, kemampuan dan pengetahuan para pelamar itu hampir sama. Mana mungkin saya tahu siapa yang benar-benar unggul? Saya hanya tahu siapa yang suka duduk di barisan depan.”
Hikmah Cerita / Renungan
Bukan berarti semua orang harus berebut duduk di barisan depan. Yang terpenting adalah sikap mental yang positif dan penuh inisiatif.
Dalam perjalanan hidup yang panjang, kita harus memiliki semangat selalu ingin menjadi yang terbaik. Hanya dengan mentalitas seperti itulah kita akan terus berkembang, melampaui batas diri sendiri, dan akhirnya mencapai puncak keberhasilan dalam hidup dan karier.(jhn/yn)




