Progres Smelter HPAL Vale: Pomalaa-Bahodopi Rampung 2026, Sorowako 2027

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengungkapkan progres pembangunan 3 proyek smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) yakni di Pomalaa Sulawesi Tenggara, Bahodopi Sulawesi Tengah, dan Sorowako Sulawesi Selatan.

Direktur Utama Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, mengatakan proyek pertama yaitu IGP Pomalaa berupa tambang dan smelter HPAL, bekerja sama dengan perusahaan China Zhejiang Huayou Cobalt dan perusahan AS Ford Motor.

"Progres sampai dengan saat ini, dua autoclave sudah datang, dan kemudian autoclave yang lain akan menyusul, ada lima autoclave yang akan datang, dan proyeksi mechanical completion itu akan dilakukan di bulan Agustus tahun 2026," jelasnya saat RDP Komisi XII DPR, Senin (19/1).

Bernardus mengatakan, pada Agustus 2026, smelter HPAL di Pomalaa sudah bisa menerima pasokan bijih nikel. Setidaknya, stockpile yang dibutuhkan untuk pasokan selama 3 bulan.

Smelter tersebut memiliki kapasitas 120 ribu ton MHP per tahun dan akan menerima pasokan bijih dari Blok Pomalaa yang dapat memproduksi 21 juta ton nikel limonite dan 7 juta ton nikel saprolite dalam setahun.

"Saat ini, konstruksi sudah mencapai 60 persen dan kita harapkan di bulan Agustus tahun 2026 itu dalam tanda kutip sudah bisa melakukan mechanical completion," imbuh Bernardus.

Proyek kedua adalah IGP Morowali di Bahodopi yang juga mencakup smelter HPAL dan tambang, bekerja sama dengan perusahaan China, GEM, dan perusahan Korea Selatan, Ecopro.

"Perkiraannya juga di kuartal IV tahun 2026 mechanical completion-nya sudah bisa dicapai, mudah-mudahan semua hal terkait dengan perizinan bisa cepat kami peroleh," ungkap Bernardus.

Bernardus memaparkan, kebutuhan smelter HPAL Bahodopi akan dipasok dari tambang yang memproduksi 5,5 juta ton nikel saprolite dan 10,4 juta ton nikel limonite per tahun. Smelter tersebut ditargetkan memproduksi 66 ribu ton MHP per tahun.

Sama halnya dengan smelter di Pomalaa, lanjut dia, smelter di Bahodopi ini membutuhkan stockpile bijih nikel untuk 3 bulan lamanya.

Terakhir yakni proyek IGP Sorowako Limonite mencakup tambang dan smelter HPAL, bekerja sama dengan perusahaan asal China Zhejiang Huayou Cobalt. Bernardus menargetkan proyek ini baru berjalan pada tahun 2027.

"Ini joint venture juga antara Vale dan Huayou, walaupun partner yang kemudian akan menjadi partner ketiga masih dalam assessment. Tapi ini mungkin secara progres ini yang paling terlambat dibandingkan dengan Pomala dan Bahodopi," ungkap Bernardus.

Adapun progres pembangunan smelter HPAL di Sorowako tersebut baru 17 persen, ditargetkan memiliki kapasitas produksi MHP 60 ribu ton per tahun. Total kebutuhan pasokannya 11,5 juta ton nikel limonite per tahun.

Bernardus pun meminta dukungan Komisi XII DPR terkait keberlanjutan pasokan bijih nikel Vale Indonesia untuk ketiga smelter tersebut yang tengah berprogres dengan baik dan sesuai rencana.

"Diharapkan di Pomalaa di Agustus bisa selesai paling tidak dua autoclave, dua line. Kemudian nanti secara reguler, secara bertahap akan di Januari 2027 itu sudah selesai semuanya. Kemudian yang di Bahodopi juga diperkirakan kuartal IV tahun ini juga jadi, dan kemudian yang di Sorowako diharapkan 2027," pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Banjir Jakarta dipastikan telah surut pada Senin pagi
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Ketegangan AS-Eropa Makin Panas, Bursa Asia Dibuka Melemah
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Seskab Teddy: Prabowo Ratas dari London, Bahas Satgas Penertiban Kawasan Hutan
• 9 menit lalukumparan.com
thumb
Eks Sekum FPI Munarman Jadi Advokat Immanuel Ebenezer
• 3 jam laluidntimes.com
thumb
Deklarasi Jadi Parpol, Gerakan Rakyat Ingin Anies Baswedan Jadi Presiden
• 13 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.