Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat menilai tekanan terhadap pasar tenaga kerja Indonesia tidak lagi bersifat siklikal, melainkan telah berubah menjadi persoalan struktural yang semakin mengkhawatirkan.
Bahkan, masalah ini tidak hanya tercermin dari meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK), namun juga dari semakin sulitnya pencari kerja baru memperoleh pekerjaan formal, terutama bagi generasi muda alias gen Z.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menilai persoalan ketenagakerjaan saat ini mencerminkan melemahnya kapasitas pasar kerja dalam menyerap tenaga kerja baru.
Menurutnya, kesulitan mencari pekerjaan kini tidak hanya dialami pekerja yang terkena PHK, tetapi juga lulusan baru yang baru memasuki pasar kerja.
“Ini permasalahan yang saya pikir bukan hanya karena ada lonjakan PHK, tetapi juga kesulitan bagi para pencari kerja baru untuk mendapatkan pekerjaan, terutama pekerjaan formal,” kata Faisal kepada Bisnis, Senin (19/1/2026).
Faisal menuturkan, masalah tersebut sejatinya telah muncul sebelum pandemi, terutama pada kelompok usia muda, namun semakin memburuk setelah pandemi.
Baca Juga
- Pemangkasan Kuota Impor Daging Diintai PHK Massal
- Kuota Impor Daging Sapi Dipangkas dari 180.000 Ton jadi 30.000 Ton, PHK Mengintai
- Pengusaha Teriak Kuota Impor Daging Sapi Dipangkas: Bisa Picu PHK & Kenaikan Harga
“Ini tidak bersifat siklikal, ini permasalahan yang semakin meningkat, khususnya pasca pandemi. Sebelum pandemi juga, terutama untuk pencari kerja muda atau youth unemployment,” ujarnya.
Dia melihat kondisi ini tercermin dari perubahan struktur ketenagakerjaan nasional, di mana proporsi pekerja informal meningkat tajam hingga sekitar 60%, sementara pekerja formal menyusut menjadi sekitar 40%. Peningkatan sektor informal tersebut menunjukkan terbatasnya peluang kerja formal di dalam negeri.
Faisal menambahkan, pelemahan pasar kerja juga sejalan dengan berbagai hasil survei Bank Indonesia (BI). Dari sejumlah indikator keyakinan ekonomi yang dirilis BI, sambung dia, indeks keyakinan terhadap ketersediaan lapangan kerja ke depan tercatat sebagai yang paling pesimis.
Dia juga memperingatkan dampak lanjutan terhadap daya beli dan konsumsi rumah tangga.
Selain itu, dia menilai generasi muda atau Gen Z yang baru lulus dari perguruan tinggi justru berpotensi mengalami masa tunggu kerja yang lebih panjang sebelum memperoleh pekerjaan formal. Alhasil, kondisi ini berisiko menekan daya beli dan konsumsi dalam jangka menengah, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Dari sisi sektoral, Core memproyeksi tekanan PHK paling banyak terjadi di industri padat karya, yang selama ini menjadi penyerap tenaga kerja terbesar.
Faisal menyebut industri tekstil, produk tekstil, dan alas kaki menjadi sektor yang menghadapi tekanan berat akibat meningkatnya persaingan dengan barang impor serta kenaikan biaya produksi. Imbasnya, banyak perusahaan terpaksa mengurangi kapasitas produksi hingga menutup usaha, yang berujung pada PHK dan pergeseran tenaga kerja ke sektor informal.
“Ini kan pengangguran baru kalau di-PHK, ini mereka kemudian masuk ke sektor informal akhirnya dari sektor formal,” ujarnya.
Ilustrasi wawancara kerja
Lebih lanjut, dia menyatakan tekanan di sektor padat karya akan terus berlanjut jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang tepat, terutama dalam mengendalikan arus impor, memperbaiki iklim usaha, dan meningkatkan efektivitas strategi investasi.
Dia menyebut, penurunan tingkat serapan tenaga kerja dari investasi menjadi sinyal perlunya pembenahan kebijakan yang lebih menyeluruh. Pasalnya, ujar dia, permasalahan ketenagakerjaan bersifat multidimensi, yakni mulai dari tren teknologi hingga kebijakan yang belum sepenuhnya mendukung penciptaan lapangan kerja.
Di samping itu, Core memandang sektor teknologi juga menghadapi risiko penyerapan tenaga kerja yang lebih rendah, salah satunya perusahaan rintisan (startup).
“Bukan hanya di sektor padat karya, juga di sektor teknologi terutama ketika kemarin banyak bubble. Banyak startupyang juga berguguran, jadi itu juga menjadi potensi juga untuk yang sektor-sektor yang terkait dengan teknologi,” ungkapnya.
Di sisi lain, Faisal menuturkan sektor yang berbasis konsumsi domestik seperti ritel dan barang konsumsi relatif lebih mampu bertahan lantaran ditopang oleh besarnya pasar dalam negeri.
Manufaktur Tertekan, PHK Berpotensi BerlanjutDihubungi terpisah, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara juga menilai lonjakan PHK yang terjadi saat ini memperkuat indikasi melemahnya struktur pasar tenaga kerja formal di Indonesia.
Menurut Bhima, industri manufaktur sebagai penyerap tenaga kerja formal terbesar terus mengalami tekanan, yang tercermin dari posisi Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang tertinggal dibandingkan negara ASEAN lain seperti Thailand dan Vietnam.
Dia memperkirakan sejumlah sektor berisiko mengalami PHK pada 2026, antara lain industri smelter nikel, pakaian jadi dan alas kaki, rokok, kertas, produk olahan kayu, furnitur, serta industri karet dan kulit.
“Upaya untuk menahan tekanan di beberapa sektor itu adalah memfokuskan insentif fiskal, menahan laju barang impor terutama barang jadi, dan memfasilitasi pencarian pasar ekspor alternatif,” ujar Bhima kepada Bisnis.
Untuk itu, Bhima menilai pentingnya penajaman insentif fiskal, pengendalian impor barang jadi, serta perluasan akses pasar ekspor melalui percepatan perjanjian dagang internasional.
Lebih lanjut, Celios menyebut menyusutnya sektor formal diperparah oleh lemahnya efek penciptaan lapangan kerja dari program hilirisasi.
Di sisi lain, menurutnya, hilirisasi tambang belum mendorong industrialisasi pada level industri menengah (mid-stream), sehingga kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja masih terbatas. Bahkan, sepanjang 2025 tercatat puluhan smelter nikel menghentikan operasinya akibat kelebihan pasokan dan penurunan harga di pasar global.
“Kondisi struktural yang bermasalah diperburuk oleh instabilitas geopolitik, tren harga komoditas yang rendah, banjirnya barang impor, serta APBN yang ekspansif tapi tidak berkualitas,” ujarnya.
Pekerja terkena dampa PHK
Setali tiga uang, Pakar Kebijakan Publik Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah menilai kondisi pasar tenaga kerja Indonesia mencerminkan persoalan struktural yang kompleks.
Trubus memandang penyempitan lapangan kerja berlangsung seiring dengan meningkatnya PHK, khususnya di sektor ritel dan manufaktur yang bersifat padat karya.
“Karena kan persoalan di Indonesia ini persoalan daya beli. Sedangkan masyarakat daya belinya kan turun terus karena masyarakat kita desil 1, desil 2 itu banyak, semakin hari makin banyak,” ucap Trubus kepada Bisnis.
Dia melihat perubahan pola konsumsi masyarakat ke arah belanja daring serta melemahnya daya beli menjadi faktor utama tekanan di sektor ritel. Di sisi lain, sektor manufaktur menghadapi tantangan daya saing akibat kalah bersaing dengan produk impor.




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F19%2F01e46c3836d5e58ad63059803735f922-1001938307.jpg)
