Oleh: Lorensia Stepania,
Mahasiswa Magang Fajar Unhas
Tradisi Ma`Nene merupakan ritual adat unik dari Suku Toraja untuk merawat jenazah leluhur dengan cara membersihkan dan membungkus kembalinya kembali yang hingga saat ini masih dijaga oleh masyarakat Suku Toraja.
Tradisi ini umumnya dilaksanakan setiap 3 tahun sekali dan dilakukan setelah musim panen, tepatnya pada sepanjang bulan Agustus, hal ini menjadi momen yang penting bagi keluarga besar untuk berkumpul. Dalam praktiknya, Ma`Nene dilakukan dengan cara membuka makam keluarga (patane/liang), membersihkan area makam, serta memakaikan jenazah dengan kain/pakaian yang baru.
Dalam penelitian Antropologi Sisilia Christiani Octavia Oroh menjelaskan bahwa Ma`Nene bukan hanya sekedar ritual adat, melainkan memiliki makna sosial dan spiritual yang mendalam bagi masyarakat Toraja.
“Tradisi Ma`Nene merupakan wujud rasa terima kasih dan penghargaan kepada nggota keluarga yang telah meninggal,sekaligus sebagai sarana mempererat hubungan kekeluargaan yang diyakini tidak akan terputus meskipun dipisahkan oleh kematian.” Tulis Sisilia dalam penelitiannya.
Dalam perkembangannya, MaNene dikenal dalam dua versi, yakni versi kepercayaan leluhur Aluk Todolo dan versi Kristen. Pada Aluk todolo, MaNene atau yang disebut Mantada dimaknai sebagai ritual memohon berkat kepada arwah nenek moyang. Sedangkan dalam Kristen, MaNene dikenal sebagai Maputu atau “membungkus kembali”, yang lebih menekankan pada nilai syukur dan kasih tanpa unsur pemujaan kepada roh leluhur.
Bagi masyarakat Ma`Nene juga menjadi arana menjaga solidaritas sosial. Warga sekitar turut membantu pelaksannaan ritual, baik melalui tenaga maupun sumbangan bahan makanan.
Meski sering dianggap unik dan ekstrem oleh masyarakat luar,bagi orang toraja Ma`Nene adalah bol penghormatan tinggi kepada leluhur. Tradisi ini mencerminkan keyakinan bahwa manusia tetap harus “dimanusiakan”un telah meninggal dunia.
“Bagi masyarakat Toraja, tidak ada kematian yang benar-benar memisahkan. Ma`Nene adalah cara menjaga relasi kasih antara yang hidup dan yang telah tiada.” tulis Sisilia dalam kesimpulannya. (*/)




