jpnn.com, ACEH - Pemerintah bersama TNI mempercepat proses perbaikan infrastruktur jembatan yang rusak pascabencana banjir yang melanda wilayah Aceh.
Langkah ini dilakukan guna memastikan mobilitas masyarakat dan distribusi logistik kembali berjalan normal.
BACA JUGA: 179 Jalan dan 79 Jembatan Rusak Akibat Banjir Pulau Sumatra
Komandan Batalyon Zeni Tempur (Danyon Zipur) 16 Letkol CZI Rudy Haryanto menjelaskan bahwa berdasarkan data posko penanganan bencana, sedikitnya terdapat 492 jembatan di Aceh yang mengalami kerusakan atau terputus akibat banjir.
Kerusakan tersebut bervariasi, mulai dari jembatan permanen hingga jembatan gantung.
BACA JUGA: Banjir, Longsor, dan Jembatan Rusak Terjadi di Garut
"Dari 492 ini kami memprioritaskan untuk jembatan-jembatan yang memang jembatan nasional ataupun jalan alternatif yang memang tercepat untuk dapat membuka jalan ke daerah yang saat ini dibilang terisolasi. Itu daerah Bener Meriah dan Takengon," kata Rudy dikutip dari keterangan tertulis Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Senin.
Rudy mengatakan proses pembangunan jembatan darurat tidak berjalan mudah. Banyak jembatan tertutup material banjir berupa kayu, puing rumah, bahkan ada yang hanyut sepenuhnya. Di sejumlah lokasi, ada jembatan yang masih berdiri, tetapi akses jalan menuju jembatan tergerus aliran sungai yang meluap.
BACA JUGA: Tinjau Jembatan Rusak di Kendal saat Hujan Deras, Ganjar: Kami Harus Cepat Merespons
"Seperti yang kami buat di Teupin Mane, di daerah Juli (Bireuen), sebelumnya sungai dengan kelebaran 120 menjadi 180 meter. Itu merupakan tantangan tersendiri untuk dapat, pertama membersihkan wilayah kerjanya dulu, setelah itu kita mempersiapkan untuk memasang jembatan darurat agar dapat menghubungkan jalan yang terputus itu," ujarnya.
Rudy menyampaikan bahwa setelah banjir terjadi pada 26 November, personel TNI di wilayah segera turun melakukan pemantauan. Begitu air mulai surut, jajaran Kodim setempat bersama masyarakat dan pemerintah daerah langsung melakukan pembersihan.
Batalyon Zipur 16 yang bermarkas di Banda Aceh mulai masuk ke lokasi pada awal Desember untuk mempersiapkan pemasangan jembatan pengganti.
Dalam kondisi keterbatasan alat berat, prajurit mengandalkan tenaga manusia. Dukungan alat berat dari pemerintah daerah dan Kementerian Pekerjaan Umum turut membantu mempercepat pembersihan material yang menyangkut di jembatan.
"Perintahnya adalah segera untuk membangun jembatan. Di sana kita juga sebelumnya melihat kondisi masyarakat yang harus menyeberang menggunakan sampan, bahkan ada yang membentangkan tali dan menggunakan keranjang. Melihat kondisi seperti itu hati kami terketuk," kata Rudy.
Ia menegaskan, prajurit bekerja siang dan malam dengan sistem shift selama 24 jam agar jembatan dapat segera digunakan masyarakat. Salah satu lokasi tersulit adalah Jembatan Teupin Reudeup di wilayah Awe Geutah, jalur alternatif strategis Bireuen-Lhokseumawe.
Keterbatasan ruang kerja serta material yang merupakan gabungan dari struktur lama menuntut improvisasi agar jembatan tetap aman dilalui.
Rudy menyatakan keberhasilan pembangunan jembatan tidak lepas dari kerja sama lintas instansi, termasuk dukungan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh dan Kementerian PUPR dalam penyediaan material dan logistik.
"Jadi, kita saling bantu-membantu untuk logistik. Alhamdulillah kita tercukupi juga, sehingga anggota tetap bisa melaksanakan pemasangan jembatan dengan kondisi yang ibaratnya tercukupi untuk logistiknya," tuturnya.(antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean



