Happy Valentine, Cromboloni!

detik.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Aku menulis cerita ini untuk menggambarkan begitu berartinya waktu yang kita lalui bersama. Aku masih mengingat dengan jelas hari-hari awal kita bertemu, masih teringat dengan jelas juga bagaimana senja adalah hal yang selalu aku nantikan.

Bahkan macetnya Mega Kuningan dan Jalan Rasuna Said seakan tiada masalah bagiku asal berjumpa denganmu setelah jam kantor. Semua berawal dari coffee shop kecil di gedung perkantoran Rasuna Said, lalu kita mulai menjajaki Mega Kuningan hingga kedai makanan di bilangan Setiabudi Rasuna Said.

Kita juga mulai menjajaki daerah-daerah di luar Rasuna Said dan Mega Kuningan seiring tumbuhnya perasaan antara aku dan kamu. Rasa yang sering kita sederhanakan dengan nama "bittersweet". Aku menyadari perasaan itu sejak kita berbagi tawa, berbagi hal konyol, hingga menjajal hal-hal baru seperti kuliner di Jalan Sabang hingga Glodok yang sering kita sebut dengan sebutan Kota.

Rasa itu juga tumbuh bukan melalui tawa saja, tetapi kita juga berbagi kesedihan. Jujur saja, kamu itu seperti cromboloni. Mungkin hampir seluruh orang akan teringat rasa manis di pikirannya jika terbayang cromboloni, tapi jika cromboloni dirasakan dengan sungguh-sungguh, sesungguhnya cromboloni memiliki dua sisi, yakni sisi tawar dan sisi manis.

Rasa itu selalu ada bukan saja karena kamu memiliki manisnya saja, tetapi kamu juga memiliki bagian tawarnya, persis seperti cromboloni yang memiliki dua sisi: satu sisi manis dan penuh gula-gula, dan satu sisi tawar dan hambar.

Sampai hari ini aku selalu merindukanmu karena kamu adalah misteri terindah yang hadir dalam hidupku. Kadang saat aku ingin menikmati sisi manisnya hidup yang penuh gula-gula, justru aku mendapat bagian tawarnya. Tapi sebaliknya, gula-gulamu hadir saat aku menemui hari-hari yang tawar.

Jika sekarang aku ditanya apa rasanya cromboloni, maka belum tentu manis jawabku. Aku pun teringat hari-hari saat aku sangat merindukan bagian manis dalam dirimu, namun yang muncul adalah bagian tawar yang berakhir dengan lamunanku.

Boleh kubilang, setelah aku meresapi hidup dalam cromboloni, maka iklan yang menggambarkan manisnya cromboloni yang tak putus dengan berbagai gula-gulanya adalah bohong besar! Cromboloni itu belum tentu manis, tapi kita berharap menemukan manisnya.

Ketika aku menulis kisah ini, sejenak aku melamun, membayangkan perjalanan kita yang cukup jauh. Aku teringat sepotong cerita ketika aku sedang di luar negeri dengan maksud menikmati gula-gula bersamamu, dan apa yang terjadi? Aku mendapatkan bagian tawarnya. Aku tak menemukanmu. Itulah mengapa kukatakan bahwa cromboloni itu kamu.

Kamu adalah perjalanan yang harus dinikmati sekaligus tujuan yang ingin kugapai sekarang dan selamanya. Apa yang dilakukan hampir semua orang saat mendapat bagian tawar cromboloni? Aku yakin mereka akan meneruskan menggigit cromboloni hingga menemukan bagian manisnya.

Suatu ketika lamunanku mengembara saat aku menikmati matcha sambil menikmati wajah manismu di tengah cuaca mendung. Lamunanku mengembara pada apa yang akan dilakukan sebagian besar orang jika menggigit bagian manis dan gula-gula cromboloni.

Tentu saja mereka akan rindu pada bagian tawar cromboloni atau merindukan pahitnya kopi di cangkir sebelah atau segarnya jus buah. Lalu kubayangkan lagi bagaimana jika cromboloni itu semua bagiannya manis atau berisi gula-gula. Tentu itu tidak sehat dan tidak menarik lagi, pikirku.

Aku selalu menantikan hari-hari bersamamu. Aku selalu menyebut bahwa kebersamaan denganmu adalah ikigai-ku. Ikigai adalah filosofi dari Jepang tentang tujuan dan makna hidup. Setelah melalui hari-hari bersamamu, aku melengkapinya menjadi ikigai dan kintsugi.

Aku melengkapinya dengan kintsugi yang merupakan filosofi yang berasal dari Jepang juga, yang artinya menyempurnakan apa yang tidak sempurna agar selalu terlihat indah. Aku belajar makna kintsugi dari bagian tawar crombolonimu, sekaligus aku menjadikan ikigai bagian manis dan gula-gulamu.

Nama cromboloni untukmu kudapat saat aku antre di sebuah kafe artisan di dekat tempatku bekerja. Saat itu mataku tertuju pada sepotong kue cromboloni yang nampak manis dan menarik seperti kamu.

Ketika menanti dalam antrean untuk memilih kue, di depanku masih berjajar banyak orang yang sedang mengantre kue cromboloni dan kopi artisan. Sejenak perasaan waswas timbul dalam hatiku, sedikit khawatir jika kue cromboloni yang ingin aku nikmati sore itu dipilih orang terlebih dahulu.

"Mau pesan apa, Kak?" tanya barista kafe itu dengan ramah.
"Saya mau cromboloni yang ini," ujarku sambil menunjuk cromboloni yang aku inginkan dengan lega. Entah mengapa aku lega karena kue cromboloni yang aku inginkan masih dalam etalase.
"Minumnya apa, Kak?" tanya barista itu lagi.
"Satu es americano tanpa gula," ujarku sambil membayar pesananku.

Ketika duduk di bangku kafe siang itu, aku melanjutkan lamunanku. Memang benar, kamu adalah cromboloni bagiku. Persis seperti perasaan waswas saat mengantre tadi, terbersit rasa tidak ingin berbagi cromboloni yang aku inginkan dengan orang lain, bahkan kehilangan cromboloni itu.

Aku menikmati cromboloni yang aku pilih dan kunikmati manis dan tawarnya lapis demi lapis sambil menikmati senja di sebuah kafe artisan di Jakarta yang sesak dengan kemacetan pada jam-jam pulang kantor seperti sore ini.

Sore itu dari balik jendela kafe artisan tempatku melepas lelah saat ini, kulihat banyak dekorasi Valentine di sebuah pusat pertokoan. Dekorasi menyambut Hari Valentine selalu menggunakan metafora hati, bunga, boneka lucu, hingga cokelat. Kembali aku tenggelam dalam anganku.

Sore itu aku berpikir, apakah mereka yang merayakan Valentine akan selalu merasakan manisnya kebersamaan sehingga digambarkan dengan cokelat, atau mereka akan selalu romantis sehingga cocok dengan penggambaran aneka bunga, terutama mawar yang selalu dikapitalisasi menjelang Hari Valentine, batinku.

Bahkan apakah mereka akan selalu tertawa lucu seperti boneka-boneka khas Valentine. Bagiku, Valentine lebih tepat jika menggunakan metafora cromboloni. Aku punya alasan mengapa Valentine lebih tepat digambarkan dengan cromboloni.

Alasanku adalah cromboloni berbeda dengan cokelat yang akan selalu memberikan rasa manis pada tiap bagiannya. Cromboloni juga bukan boneka Valentine yang selalu tersenyum. Kamu itu seperti cromboloni yang belum tentu manis pada setiap potongnya seperti cokelat.

"Stuck on you, I've got this feeling down, deep in my soul, that I just can't lose," sayup-sayup kudengar lagu Stuck on You yang dinyanyikan oleh Lionel Richie. Saat semburat senja telah berganti dengan malam, kusadari bahwa bagiku Valentine itu kamu dan bagiku Valentine itu cromboloni, bukan cokelat, bunga, atau boneka lucu. Barangkali cokelat, bunga, atau boneka lucu hanya untuk anak baru gede yang baru mulai tahu rasanya jatuh cinta.

Bagi aku, Valentine itu kamu dan cromboloni itu kamu. Tidak peduli di titik tersedihku atau di hari-hari bahagiaku, aku akan selalu mencarimu untuk menumpahkan kegundahan, kekhawatiran, atau sekadar pamer hal-hal konyol.

Happy Valentine, Cromboloni... aku akan selalu merindukanmu dalam manis, tawar, atau bagian gula-gulamu. Bergegas kubuka laptopku dan kutuliskan cerita pendek tentangmu, Cromboloni, karena mungkin saat ini cerita inilah ucapan Valentine termanis yang bisa aku berikan.

"Maaf, Kak, kami sudah close order," sapa salah satu barista kafe itu ramah, tepat ketika aku selesai mengirimkan surel ke media yang akan memuat cerpen berjudul Happy Valentine, Cromboloni! Setelah mengirim ke media, aku berharap cerita tentang cromboloni akan memiliki sekuelnya.

Rio Christiawan, lahir di Kediri, 18 Maret 1981. Kolumnis dan cerpenis. Pengajar creative writing yang beberapa cerpennya telah diterbitkan oleh Kelompok Penerbit Kompas Gramedia.




(akn/ega)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Desa Sejahtera Astra Perkuat Produksi Batik Masyarakat Singkawang
• 10 jam laluidntimes.com
thumb
Imigrasi Ungkap Love Scamming di Tangerang Sasar Warga Korea Selatan
• 13 jam laluidntimes.com
thumb
Harga Batu Bara Acuan Naik Tipis Dipicu Pengetatan Produksi 2026
• 10 jam lalukatadata.co.id
thumb
5 Gerakan Sederhana Pengganti Squat untuk Menjaga Kekuatan Kaki di Usia 60-an
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Mentan Tegaskan Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Bone Demi Sejahterakan Peternak dan Dorong Ekonomi Daerah
• 17 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.