PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 4.000 ton CO2 sebagai bagian dari komitmen pelestarian lingkungan dan pembangunan pariwisata berkelanjutan di Indonesia.
Direktur Utama InJourney Maya Watono mengatakan, komitmen tersebut sejalan dengan visi perseroan untuk mengintegrasikan ekosistem aviasi dan pariwisata nasional menjadi satu kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.
“Sebagai holding BUMN aviasi dan pariwisata, kami memiliki tanggung jawab besar untuk melestarikan Indonesia, baik dari sisi budaya maupun alam. Inilah legacy yang ingin kami wariskan untuk generasi penerus,” ujar Maya usai konferensi pers ‘4 Tahun InJourney: Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia’, di Jakarta, Senin (19/1).
Maya menjelaskan, InJourney mengelola aset berskala besar di seluruh Indonesia, mulai dari 37 bandara, destinasi pariwisata, hingga hotel. Pada 2024, destinasi di bawah InJourney mencatat sekitar 98 juta kunjungan, sementara bandara yang dikelola melayani 157 juta penumpang. Skala operasi tersebut turut menghasilkan jejak karbon yang signifikan.
“Karbon footprint kami besar, tetapi tanggung jawab kami juga besar. Karena itu hari ini kami berkomitmen menurunkan emisi karbon sebesar 4.000 ton CO2 melalui aksi nyata,” katanya.
Pengurangan emisi tersebut akan dilakukan melalui empat pilar utama. Pertama, pemanfaatan panel surya (solar panel) di bandara. Saat ini, solar panel telah terpasang di Bandara Soekarno-Hatta dan I Gusti Ngurah Rai, dengan kontribusi pengurangan emisi sekitar 2.000 ton CO2. Ke depan, penggunaan energi surya akan diperluas ke 37 bandara yang dikelola InJourney.
Kedua, penerapan manajemen limbah (waste management) di seluruh hotel dan destinasi wisata. Ketiga, penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di kawasan destinasi untuk menekan emisi dari transportasi internal. Keempat, program penanaman pohon, termasuk pengembangan mangrove di Mandalika serta penanaman di berbagai aset destinasi InJourney.
“Seluruh inisiatif ini kami ukur secara akurat. Kami memiliki dashboard di seluruh aset untuk memantau emisi karbon dan upaya pengurangannya. Ini bukan sekadar program kosmetik, tetapi pelestarian yang dilakukan secara fundamental,” ujar Maya.
Ia menegaskan, komitmen keberlanjutan tersebut merupakan bagian dari nilai living legacy yang diusung InJourney sejak didirikan pada 13 Januari 2022. Dalam empat tahun perjalanannya, InJourney terus mendorong transformasi pariwisata dan aviasi dengan menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
“Yang ingin kami lakukan adalah membangun pariwisata berkualitas. Dampak ekonominya besar, tetapi dampaknya terhadap lingkungan bisa kami minimalkan,” kata Maya.
Lebih jauh ia menjelaskan pentingnya kolaborasi dan gotong royong dengan berbagai pihak, termasuk komunitas, sektor swasta, dan media, dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan pariwisata Indonesia.




