Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, meminta pemerintah Indonesia tetap menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat, namun pada saat yang sama mengurangi ketergantungan politik, ekonomi, dan keamanan terhadap Negeri Paman Sam tersebut.
Menurut Dino, kemampuan untuk bersikap tegas dan melakukan pushback ketika ditekan merupakan esensi dari politik luar negeri bebas aktif Indonesia.
"Dalam sejarah diplomasi kita, kita sering sekali ditekan Amerika Serikat dan kita selalu bisa menjaga posisi kita. Kita pernah bilang tidak, misalnya saat invasi Amerika ke Irak. Itu tidak mudah, tapi kita melakukannya,” kata Dino dalam acara Outlook on Geopolitical Trends & Indonesian Foreign Policy, Senin (19/1).
Ia mengatakan, keberanian untuk mengatakan tidak dan mendorong balik tekanan pihak mana pun, termasuk Amerika Serikat, merupakan elemen penting dalam menjaga kedaulatan dan martabat politik luar negeri Indonesia. “Jangan pernah sungkan atau takut untuk say no to anybody,” ujarnya.
Jaga Kesepakatan DagangDalam konteks saat ini, Dino menyoroti pentingnya memastikan kesepakatan perdagangan dan tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat yang hampir rampung agar benar-benar adil dan mencerminkan prinsip kesetaraan. Ia mengingatkan, kesetaraan merupakan fondasi utama dalam setiap perjanjian diplomatik Indonesia, tanpa memandang besar kecilnya negara mitra.
“Yang saya khawatirkan dari politik luar negeri Amerika adalah mereka tidak peduli pada kesetaraan. Yang ada justru kecenderungan penundukan, subordinasi, dan pemaksaan kehendak dalam relasi yang tidak simetris,” katanya.
Dino pun mengingatkan agar kesepakatan dagang yang telah dinegosiasikan pemerintah Indonesia tidak membuat Indonesia berada dalam posisi tunduk atau tersubordinasi. Menurut dia, perjanjian tersebut harus memberi manfaat nyata bagi Indonesia dan menjaga posisi tawar nasional.
Menanggapi kekhawatiran bahwa sikap tegas terhadap Amerika Serikat bisa berdampak balik, Dino menyatakan bahwa ia telah berkali-kali mengatakan “tidak” kepada Amerika Serikat sepanjang karier diplomatiknya. “Tanggung jawab kita itu pada sejarah, bukan pada Presiden Trump,” ujarnya.
Tetap Jaga Hubungan Dengan ASDino menilai hubungan baik dengan Presiden Amerika Serikat tetap perlu dijaga. Namun hubungan tersebut harus bersifat dua arah dan setara, sebagaimana Indonesia menjalin relasi dengan negara-negara besar lain seperti Tiongkok, Rusia, India, dan Jepang.
Ia juga mengingatkan agar Indonesia mengurangi political exposure terhadap Amerika Serikat, terutama jika hubungan bilateral dibangun atas dasar tekanan politik. Dino mencontohkan kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap negara-negara Eropa terkait isu Greenland sebagai sinyal kuat bagaimana tekanan politik dapat berujung pada sanksi ekonomi.
Selain itu, Dino meminta pemerintah berhati-hati dalam kerja sama di bidang keamanan. Ia menyoroti kecenderungan meningkatnya “macho nationalism” dan “macho internationalism” dalam kebijakan Amerika Serikat, yang menurutnya bagian dari ancaman terhadap pihak yang berbeda pandangan.
“Kalau kamu berbeda pendapat dengan Amerika, kamu akan ditimpa. Ini yang harus kita waspadai,” ujarnya.
Dino juga menyinggung sejumlah intervensi Amerika Serikat di berbagai belahan dunia, seperti di Venezuela, Greenland, dan Iran, sebagai peringatan agar Indonesia menjaga jarak dari potensi relasi yang bersifat intervensionis.
"Bukan berarti kita mengakhiri hubungan dengan Amerika Serikat. Kita tetap harus menjaga hubungan baik. Tapi political exposure dan economic exposure kita harus dijaga, jangan sampai merugikan Indonesia,” ujar Dino lagi.




