Jakarta (ANTARA) - Co-founder Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia (FPCI) Dewi Fortuna Anwar mendorong pemerintah Indonesia untuk berperan lebih aktif dalam diplomasi di kawasan.
"Tidak mungkin membangun ketahanan kawasan tanpa bekerja sama secara erat dengan negara-negara tetangga," kata Dewi dalam Diskusi Publik FPCI bertajuk "Outlook on Geopolitical Trends & Indonesian Foreign Policy in 2026", Jakarta, Senin.
Pernyataan itu dia sampaikan mengingat pernyataan Presiden Prabowo tentang perlunya "good neighbor policy." Sementara, Presiden, kata Dewi, tidak pernah berbicara tentang kerja sama kawasan. Dia juga tidak pernah membahas ASEAN, katanya.
"Padahal, hal ini sangat penting. ASEAN adalah rumah Indonesia–lingkungan terdekat kita," katanya.
Dewi menambahkan bahwa semua negara ASEAN lainnya, saat ini tengah melihat dan menantikan Indonesia untuk menghadirkan kerangka acuan yang jelas terkait ASEAN Outlook on Indo-Pacific (AOIP).
"Ia (Presiden Prabowo) telah melewatkan East Asia Summit dan juga melewatkan ASEAN Indo-Pacific Forum," kata Dewi.
Menurut dia, ketidakhadiran Presiden di dalam beberapa pertemuan tersebut dapat mengirimkan pesan yang keliru bahwa Indonesia tidak memberikan perhatian yang cukup kepada ASEAN.
Oleh karenanya, Dewi mendorong pemerintah untuk berperan lebih aktif di kawasan pada masa yang akan datang. "Jadi, uruslah kawasan Anda terlebih dahulu, sebelum Anda mencoba memperbaiki dunia," katanya.
"Indonesia telah banyak mendorong norma dan nilai (di ASEAN). Jadi, ada berbagai cara, dan Indonesia selama ini sangat berprinsip dalam berbagai hal. Karena itu, ketika terjadi pelanggaran terhadap Piagam ASEAN, misalnya, Indonesia seharusnya bersuara," imbuh Dewi.
Ketua sekaligus FPCI Dino Patti Djalal menambahkan bahwa PR besar bagi pemerintahan Prabowo saat ini adalah meyakinkan kawasan bahwa Indonesia benar-benar memandang ASEAN secara serius.
"Karena suka atau tidak, dalam satu tahun terakhir berkembang banyak pembicaraan bahwa Indonesia tidak memprioritaskan ASEAN dan justru lebih suka tampil di
panggung global," kata dia.
Oleh karena itu, Dino berpendapat Indonesia perlu bekerja lebih keras untuk meyakinkan bahwa hal tersebut tidaklah demikian.
Baca juga: FPCI dorong Indonesia kurangi ketergantungan terhadap AS
"Tidak mungkin membangun ketahanan kawasan tanpa bekerja sama secara erat dengan negara-negara tetangga," kata Dewi dalam Diskusi Publik FPCI bertajuk "Outlook on Geopolitical Trends & Indonesian Foreign Policy in 2026", Jakarta, Senin.
Pernyataan itu dia sampaikan mengingat pernyataan Presiden Prabowo tentang perlunya "good neighbor policy." Sementara, Presiden, kata Dewi, tidak pernah berbicara tentang kerja sama kawasan. Dia juga tidak pernah membahas ASEAN, katanya.
"Padahal, hal ini sangat penting. ASEAN adalah rumah Indonesia–lingkungan terdekat kita," katanya.
Dewi menambahkan bahwa semua negara ASEAN lainnya, saat ini tengah melihat dan menantikan Indonesia untuk menghadirkan kerangka acuan yang jelas terkait ASEAN Outlook on Indo-Pacific (AOIP).
"Ia (Presiden Prabowo) telah melewatkan East Asia Summit dan juga melewatkan ASEAN Indo-Pacific Forum," kata Dewi.
Menurut dia, ketidakhadiran Presiden di dalam beberapa pertemuan tersebut dapat mengirimkan pesan yang keliru bahwa Indonesia tidak memberikan perhatian yang cukup kepada ASEAN.
Oleh karenanya, Dewi mendorong pemerintah untuk berperan lebih aktif di kawasan pada masa yang akan datang. "Jadi, uruslah kawasan Anda terlebih dahulu, sebelum Anda mencoba memperbaiki dunia," katanya.
"Indonesia telah banyak mendorong norma dan nilai (di ASEAN). Jadi, ada berbagai cara, dan Indonesia selama ini sangat berprinsip dalam berbagai hal. Karena itu, ketika terjadi pelanggaran terhadap Piagam ASEAN, misalnya, Indonesia seharusnya bersuara," imbuh Dewi.
Ketua sekaligus FPCI Dino Patti Djalal menambahkan bahwa PR besar bagi pemerintahan Prabowo saat ini adalah meyakinkan kawasan bahwa Indonesia benar-benar memandang ASEAN secara serius.
"Karena suka atau tidak, dalam satu tahun terakhir berkembang banyak pembicaraan bahwa Indonesia tidak memprioritaskan ASEAN dan justru lebih suka tampil di
panggung global," kata dia.
Oleh karena itu, Dino berpendapat Indonesia perlu bekerja lebih keras untuk meyakinkan bahwa hal tersebut tidaklah demikian.
Baca juga: FPCI dorong Indonesia kurangi ketergantungan terhadap AS




