GOWA, FAJAR — Ketimpangan sangat menganga. Warga dataran tinggi meminta percepatan pemekaran Kabupaten Gowa.
Dengan membentuk Kabupaten Gowa Raya, pemerataan diharapkan akan lebih terwujud. Pembangunan yang bertumpu pada dataran rendah membuat warga pelosok Gowa merasa dianaktirikan.
Pemekaran wilayah dataran tinggi Gowa dinilai sebagai harapan untuk mempercepat pemerataan pembangunan. Gap infrastruktur, terutama kondisi jalan di desa-desa pelosok, disebut telah dirasakan masyarakat selama puluhan tahun tanpa perbaikan yang optimal.
Di Kecamatan Tombolo Pao, keluhan warga tidak hanya pada jalan poros penghubung antarwilayah, tetapi juga jalan-jalan desa dan dusun yang menjadi akses utama aktivitas harian masyarakat yang dominan petani.
“Mayoritas petani, Pak. 90 persen petani,” ucap Hamsa Pasu, tokoh masyarakat Desa Tonasa, Kecamatan Tombolo Pao, Senin, 19 Januari 2026.
Kondisi tersebut kian menyulitkan saat musim hujan karena jalan rusak dan berlumpur sehingga sulit dilalui kendaraan. Pembangunan memang ada, namun belum menyentuh sebagian besar wilayah, utamanya jalan tani.
Karena itu, muncul harapan agar wacana pemekaran wilayah dapat menjadi solusi untuk mempercepat perhatian pemerintah terhadap kawasan pegunungan yang selama ini dinilai tertinggal.
“Memprihatinkan, Pak, iye. Ada beberapa desa dan dusun itu yang sangat perlu diperhatikan dari segi sarana jalannya itu. Ada beberapa desa memang masih perlu dibenahi begitu,” katanya.
Kerusakan jalan di wilayah pelosok sudah berlangsung sangat lama dan kini kondisinya makin parah. Jalan-jalan tersebut bahkan sudah tidak layak dilalui, terutama ketika hujan turun.
“Di tempat kami yang terakhir, Pak, ada itu kalau masuk di pelosok-pelosok dusun, wah, puluhan tahun baru rusak sekarang. Memang sudah tidak bisa lagi ditolerir, apalagi kalau hujan-hujan begini, masyaallah luar biasa,” ujar tokoh Muhammadiyah Gowa itu.
Mayoritas masyarakat Tombolo Pao menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Namun keterbatasan infrastruktur, terutama jalan tani, menjadi kendala utama dalam mengangkut hasil pertanian dari kebun ke pusat distribusi.
Memang jalan poros di wilayahnya relatif sudah memadai, namun kondisi tersebut tidak berbanding lurus dengan jalan-jalan tani yang justru masih sangat minim perhatian. Padahal, jalan tani memiliki peran penting dalam menunjang aktivitas ekonomi warga.
“Nah, ini sebetulnya mau jadi perhatian Pak, jalan-jalan tani. Kalau jalan poros alhamdulillah sudah bagus,” kata Hamsa.
Dia berharap, jika wacana pemekaran wilayah Gowa Pegunungan benar-benar terwujud, pemerataan pembangunan dapat lebih cepat dirasakan oleh masyarakat di kawasan gunung, baik dari sisi infrastruktur maupun pelayanan publik.
“Bisa saja, Pak, karena ini pemerataan pembangunan itu lebih cepat (dengan pemekaran),” ucapnya. (an)


