Harga emas dan perak mencetak rekor tertinggi pada perdagangan di Senin (19/1). Kenaikan didorong lonjakan permintaan aset aman menyusul ancaman tarif baru dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Dilansir dari Reuters, Selasa (20/1), Harga emas spot melonjak 1,7% ke US$4.672,49. Sementara emas berjangka naik 1,8% ke US$4.677,70.
Baca Juga: Tekanan Politik Lemahkan Dolar AS
Harga perak spot juga mencatat kenaikan tajam sebesar 5% ke US$94,41. Di pasar logam lainnya, platinum spot naik 1,5% ke US$2.362,65, sedangkan paladium menguat 1,1% ke US$1.819,99.
Trump sebelumnya mengancam akan memberlakukan serangkaian tarif yang meningkat terhadap beberapa sekutu kawasan euro jika pihaknya tidak diizinkan membeli Greenland. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar global dan mendorong investor beralih ke aset lindung nilai.
“Ketika risiko kebijakan dan institusional kembali muncul, pasar cenderung bereaksi cepat dengan mengalihkan portofolio ke aset aman dan emas kembali menjadi pilihan utama,” kata Analis Pasar Senior XS.com, Linh Tran.
Pelemahan dolar turut menopang kenaikan harga emas, seiring ancaman tarif terbaru meningkatkan minat investor terhadap aset safe haven. Emas umumnya berkinerja baik di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, serta dalam lingkungan suku bunga rendah.
Adapun Wakil Ketua Federal Reserve untuk Pengawasan, Michelle Bowman menyatakan kondisi pasar tenaga kerja yang rapuh dan berpotensi melemah dengan cepat membuat bank sentral perlu siap memangkas suku bunga kembali jika diperlukan.
Baca Juga: Lawan Dolar, India Dorong Integrasi Mata Uang Digital BRICS
Federal Reserve diperkirakan akan menahan suku bunga pada pertemuan 27–28 Januari. Namun tetap memperhitungkan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar dua puluh lima basis poin sepanjang tahun ini.




