Nurra mengungkapkan bahwa peran ini menjadi tantangan besar baginya. Pasalnya, di kehidupan nyata, ia mengaku sebagai sosok yang gagap teknologi alias gaptek.
"Aku untuk mendalami karakter ini sebenarnya karena aku sangat jauh dari teknologi. Aku tuh kebetulan cukup gaptek ya," ujar Nurra saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (19/1/2026).
Tak ingin setengah-setengah, putri dari Ine Febriyanti ini memilih terjun langsung ke lapangan. Ia meluangkan waktu untuk mengobservasi cara kerja para ahli teknologi, mulai dari mempelajari bahasa pemrograman hingga mengamati gerak-gerik para teknisi.
"Aku banyak ngobrol sama teman-teman aku yang memang orang teknologi, yang kerjanya IT gitu-gitu. Aku belajar tentang bahasa-bahasa coding dan gimana sih cara hacker itu berfungsi," tuturnya.
Menariknya, Nurra bahkan sempat mendatangi ITC untuk merasakan atmosfer dunia teknisi ponsel dan komputer secara langsung.
"Jujur sempet sempet nongkrong dan melihat orang-orang nge-coding-coding di ITC tuh aku sempet," jelas Nurra.
"Ada ada juga kayak teman aku ngasih yang underground-underground (hacker) yang gitu-gitu aku cukup sempet visit. Bergaul sama hacker lumayan," sambungnya.
Dedikasi Nurra ini pun memancing komentar lucu dari lawan mainnya, Ringgo Agus Rahman. Dengan gaya bercandanya yang khas, Ringgo menyebut kemampuan baru Nurra tersebut sampai bisa digunakan untuk memperbaiki barang elektronik miliknya.
"Ganti LCD Nokia gue digantiin loh sama Nurra langsung," canda Ringgo yang disambut tawa para pemain lainnya.
Film Esok Tanpa Ibu yang juga dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo, Ringgo Agus Rahman, dan Ali Fikri ini dijadwalkan akan tayang serentak di bioskop mulai 22 Januari 2026.
Film besutan sutradara Ho Wi Ding ini menceritakan kisah Rama (Ali Fikri), seorang remaja yang dunianya runtuh setelah sang ibu, Laras (Dian Sastrowardoyo), jatuh koma.
Rama dibantu sahabatnya, Zila (Aisha Nurra Datau), mencoba menghidupkan kembali memori sang ibu melalui teknologi kecerdasan buatan bernama "i-BU". Meski program tersebut mampu meniru suara dan wajah Laras secara akurat, Rama segera menyadari bahwa kehangatan ibu tak bisa tergantikan.
Film ini menjadi perjalanan emosional bagi Rama dan ayahnya untuk saling memahami, berdamai dengan duka, dan menemukan kembali makna keluarga di tengah ketergantungan pada teknologi.(*)
Artikel Asli



