Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi cuaca ekstrem masih mengintai sejumlah wilayah Indonesia bagian selatan pada periode 20–26 Januari 2026, seiring kembali terbentuknya bibit siklon tropis di sekitar wilayah perairan Indonesia. BMKG menyebut peningkatan intensitas hujan terjadi dalam beberapa hari terakhir di berbagai daerah, dengan sejumlah wilayah mencatat curah hujan hingga kategori ekstrem.
Hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem tercatat di sejumlah daerah, antara lain DKI Jakarta dengan curah hujan mencapai 213,4 mm per hari, Sulawesi Selatan 101,2 mm per hari, Jawa Barat 86,7 mm per hari, Kota Tangerang 85,4 mm per hari, Lampung 83,0 mm per hari, DI Yogyakarta 78,4 mm per hari, Jawa Timur 67,5 mm per hari, serta Nusa Tenggara Barat 66,5 mm per hari. Kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi faktor atmosfer, terutama keberadaan sirkulasi siklonik dan penguatan monsun dingin Asia.
Sirkulasi siklonik yang sebelumnya terpantau di selatan Nusa Tenggara Barat sempat berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis 96S dan membentuk area konvergensi luas di wilayah selatan Indonesia, meliputi Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
"Meski sistem tersebut telah melemah dan dinyatakan punah, BMKG kembali memantau terbentuknya Bibit Siklon Tropis 97S di wilayah Laut Timor," tulis BMKG dalam keterangannya, Selasa, 20 Januari 2026.
Baca Juga: BMKG Peringatkan Rob dan Cuaca Ekstrem di 20 Wilayah Jawa Tengah
Sistem baru ini diprakirakan meningkatkan pola konvergensi dan mendukung potensi hujan lebat hingga sangat lebat, khususnya di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Selain pengaruh sistem siklonik, kondisi atmosfer juga dipengaruhi oleh aktifnya Monsun Asia yang membawa suplai udara lembap dari Laut Cina Selatan melalui Selat Karimata hingga ke Pulau Jawa. Penguatan angin baratan di wilayah selatan Indonesia turut mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah terdampak.
Dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan dinamika atmosfer global, regional, dan lokal masih berperan signifikan. Pada skala global, El Niño–Southern Oscillation terpantau berada pada fase negatif yang mengindikasikan La Niña lemah, dengan nilai Southern Oscillation Index cenderung positif. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Aktivitas Madden–Julian Oscillation diprakirakan aktif melintasi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Laut Flores, Laut Timor, dan Samudra Hindia selatan NTT, sehingga meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan.
Selain itu, gelombang Kelvin dan gelombang Rossby ekuator juga terpantau aktif, terutama di Samudra Hindia barat Sumatra, pesisir barat Bengkulu hingga Lampung, serta perairan selatan NTB hingga NTT, yang berkontribusi pada peningkatan aktivitas konvektif.
BMKG juga memantau keberadaan Siklon Tropis Nokaen di Laut Filipina, utara Maluku Utara, yang diprakirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum 35 knot dan tekanan udara 1000 hPa, bergerak ke arah timur laut. Sistem ini memengaruhi pola angin di wilayah utara Indonesia bagian timur.
Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 97S diprakirakan bergerak persisten dengan kecepatan angin maksimum 20 knot dan tekanan udara 1000 hPa, membentuk daerah konvergensi dan konfluensi dari Pulau Timor, Laut Timor, hingga Laut Arafura.
Ilustrasi. Medcom
BMKG juga mengingatkan adanya potensi peningkatan seruakan dingin dari Benua Asia dalam sepekan ke depan. Kondisi ini ditandai dengan perbedaan tekanan udara yang tinggi di wilayah Asia dan peningkatan kecepatan angin di Laut Cina Selatan, sehingga memperkuat masuknya monsun Asia melintasi ekuator melalui Selat Karimata.
Dampaknya, potensi cuaca ekstrem diperkirakan meningkat di wilayah selatan Indonesia, khususnya Sumatra bagian selatan dan Pulau Jawa.
Untuk periode 20–22 Januari 2026, cuaca di Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga lebat. BMKG menetapkan status siaga hujan lebat hingga sangat lebat di Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.
Sementara itu, status awas hujan sangat lebat hingga ekstrem ditetapkan untuk wilayah Nusa Tenggara Timur. Potensi angin kencang juga diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, Jawa, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Tenggara, Nusa Tenggara, Maluku, serta Papua bagian tengah dan selatan.
Pada periode 23–26 Januari 2026, hujan ringan hingga lebat masih berpotensi terjadi di berbagai wilayah, dengan peningkatan hujan intensitas sedang di antaranya di Sumatra Selatan, Bengkulu, DI Yogyakarta, Bali, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan dan Tenggara, Maluku, serta Papua.
"BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem," ungkap BMKG.
Masyarakat diminta berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, khususnya perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang. Informasi cuaca terkini dapat dipantau melalui situs resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial resmi BMKG.


