JAKARTA, KOMPAS.com - Dominasi ikan sapu-sapu di kali atau sungai, salah satunya seperti di Sungai Ciliwung, bukanlah pertanda membaiknya kualitas lingkungan sungai.
Sebaliknya, fenomena ini justru menjadi sinyal peringatan serius atas krisis kualitas air kali atau sungai di kawasan tersebut.
Untuk diketahui, Ikan sapu-sapu yang umum ditemukan di sungai dan kali di Indonesia umumnya berasal dari genus Pterygoplichthys (keluarga Loricariidae).
Ikan ini asli Amerika Selatan, terutama Lembah Sungai Amazon, dan masuk ke Indonesia diperkirakan melalui perdagangan ikan hias, lalu dilepas atau lolos ke perairan umum, seperti kali atau sungai.
Berdasarkan riset terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ledakan populasi ikan sapu-sapu ini mencerminkan rusaknya keseimbangan ekosistem akibat pencemaran yang berlangsung lama dan semakin kompleks.
Sungai kehilangan kemampuan alaminya untuk menahan dan mengurai beban limbah, sehingga hanya organisme yang toleran terhadap kondisi ekstrem yang mampu bertahan, salah satunya ikan sapu-sapu.
Oleh sebab itu, semakin banyaknya ikan sapu-sapu di sebuah kali atau sungai di saat ikan lainnya tampak berkurang, dapat menjadi alarm terkait kualitas air kali atau sungai di kawasan tersebut.
Baca juga: BRIN: Ledakan Ikan Sapu-sapu Tanda Sungai Ciliwung Kian Tercemar
Kualitas Air MemburukSungai Ciliwung menjadi salah satu kali atau sungai yang menampakan masifnya populasi ikan sapu-sapu.
Peneliti senior BRIN dari Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM), Dyah Marganingrum, menegaskan bahwa kualitas air Sungai Ciliwung terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu.
“Kualitas air Sungai Ciliwung semakin menurun disebabkan oleh banyak sumber dan faktor,” ujar Dyah saat dihubungi Kompas.com, Kamis (15/1/2026).
Menurut Dyah, pencemaran Sungai Ciliwung tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari berbagai sumber pencemar yang saling berkelindan.
Baca juga: Saat Gaji Kalah Cepat dari Harga Hunian, Pekerja Jakarta Hidup dari Kos ke Kos
Limbah Domestik Jadi Penyumbang TerbesarDyah menjelaskan, terdapat tiga sumber utama pencemar Sungai Ciliwung, yakni limbah domestik atau rumah tangga, limbah industri, dan limbah pertanian. Dari ketiganya, limbah domestik menjadi penyumbang terbesar.
Sekitar 80 persen air bersih yang digunakan rumah tangga akan berubah menjadi limbah cair.
Namun, hingga kini pemerintah belum mampu menyediakan sistem pengolahan air limbah domestik secara menyeluruh.
Akibatnya, air limbah rumah tangga masuk langsung ke badan sungai, baik secara langsung maupun melalui saluran drainase.




