Krisis Tukang Menggila, Ramai Diburu-Gajinya Setinggi Langit

cnbcindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita
Foto: ilustrasi tukang kayu. (Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Buah pahit dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai dirasakan masyarakat dunia. Dampaknya merembet ke mana-mana, mulai dari gelombang PHK dan bursa kerja yang lesu, kelangkaan chip AI dan konvensional yang menyebabkan krisis dan meningkatkan harga perangkat elektronik konsumen, hingga kekhawatiran munculnya krisis air dan listrik untuk menjalankan data center AI.

Pembangunan data center AI terus berlanjut dan diprediksi akan meningkatkan permintaan listrik di Amerika Serikat (AS) hingga 106 gigawatt pada 2035 mendatang, menurut laporan dari perusahaan riset dan analisis BloombergNEF pada Desember 2025. Angka itu setara dengan peningkatan 36% dari proyeksi sebelumnya yang dipublikasikan hanya tujuh bulan lebih awal.


Pembangunan data center AI dihadapkan pada kendala serius dalam ketersediaan daya, material, peralatan, dan yang kemungkinan paling signifikan adalah kekurangan tenaga kerja seperti engineer, teknisi, dan tenaga ahli terampil. Kendala-kendala ini dapat mengubah booming data center menjadi kegagalan, dikutip dari IEEE Spectrum, Senin (19/1/2026).

Saat ini, tenaga kerja di bidang teknik jaringan listrik sedang menyusut, dan operator data center juga kekurangan tukang listrik terlatih. Laura Laltrello, kepala operasional Applied Digital, mengatakan permintaan untuk engineer sipil, mekanik, dan listrik, serta posisi manajemen dan pengawasan konstruksi telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Sebagai konteks, Applied Digital adalah pengembang dan operator data center yang sedang membangun dua kampus data center di dekat Harwood, North Dakota yang akan membutuhkan daya sebesar 1,4 gigawatt setelah selesai. Meningkatnya permintaan akan pekerja terampil telah memaksa perusahaannya untuk memperluas cakupan perekrutan.

"Karena kami mengantisipasi kekurangan tenaga ahli teknik tradisional, kami mencari tenaga ahli dari berbagai industri," kata Laltrello.

"Kami menemukan para ahli yang memahami tenaga dan pendinginan dari sektor-sektor seperti energi nuklir, militer, dan kedirgantaraan. Keahlian tidak harus berasal dari latar belakang data center," ia menambahkan, dikutip dari IEEE Spectrum.

Untuk setiap engineer yang dibutuhkan untuk mendesain, menentukan spesifikasi, membangun, memeriksa, mengoperasikan, atau menjalankan data center AI baru, puluhan posisi lain justru kekurangan tenaga kerja.

Menurut Laporan Kondisi Data Center 2025 dari Asosiasi Operasi dan Manajemen Komputer (AFCOM), 58% manajer data center mengidentifikasi operator data center multi-keterampilan sebagai area pertumbuhan utama, sementara 50% menunjukkan peningkatan permintaan untuk engineer pusat data. Spesialis keamanan juga merupakan kebutuhan yang sangat penting.

Krisis Tukang di Depan Mata

Hingga dekade ke depan, Biro Statistik Pekerja AS memproyeksikan kebutuhan tukang konstruksi menembus 400.000 pekerja pada 2033 mendatang. Sejauh ini, kebutuhan paling besar ada di tukang listrik, tukang pipa, infrastruktur daya, dan HVAC (mencakup instalasi, perawatan, perbaikan panas, ventilasi, dan sistem pendingin).

Sekitar 17.500 dibutuhkan khusus untuk engineer listrik dan elektronik. Kategori-kategori ini secara langsung dipetakan untuk keterampilan yang mencakup rancangan, pembangunan, dan pengoperasian data center modern.

"Tantangannya bukan cuma jumlah pekerja yang tersedia, tetapi momentum dan intensitas permintaan yang ada," kata Bill Kleyman, penulis laporan AFCOM dan CEO perusahaan infrastruktur AI, Apolo.

"Data center berkembang pesat pada saat yang sama ketika sektor utilitas, manufaktur, energi terbarukan, infrastruktur jaringan listrik, dan konstruksi semuanya bersaing untuk mendapatkan tenaga kerja terampil yang sama, dan AI memperkuat tekanan ini," ia menambahkan.

Pengembang data center seperti Lancium dan perusahaan konstruksi seperti Crusoe menghadapi permintaan untuk membangun lebih cepat dan besar untuk fasilitas-gasilitas padat daya. Misalnya, mereka terlibat dalam pengembangan proyek Stargate di Abilene, Texas, untuk Oracle dan OpenAI.

Proyek tersebut telah membangun dua fasilitas yang mulai beroperasi sejak Oktober 2025, dengan enam sisanya dijadwalkan untuk rampung pada pertengahan 2026 ini. Keseluruhan kampus data center AI, setelah rampung, akan membutuhkan daya sebesar 1,2 gigawatt.

Michael McNamara, CEO Lancium, mengatakan bahwa dalam satu tahun perusahaannya dapat membangun infrastruktur pusat data AI yang membutuhkan daya sebesar satu gigawatt. Perusahaan-perusahaan teknologi besar, katanya, menginginkan angka ini dinaikkan menjadi 1 gigawatt per kuartal dan akhirnya 1 gigawatt per bulan atau kurang.

Percepatan pembangunan tersebut membutuhkan puluhan ribu engineer. Kelangkaan talenta engineer berbarengan dengan kurangnya pekerja operasional data center dan profesional di bidang manajemen fasilitas, listrik, dan teknisi mekanik. Begitu juga dengan engineer untuk sistem listrik, serta teknisi HVAC yang berpengalaman untuk sistem pendingin. Selain itu, terdapat pula krisis untuk tukang yang spesialis dan familiar dengan integrasi mekanik, listrik, dan pipa (MEP) yang kompleks, menurut Matthew Hawkins, direktur pendidikan untuk Uptime Institute.

"Permintaan untuk setiap kategori meningkat cepat dan signifikan, melebihi suplai yang ada," kata Hawkins.

Perguruan tinggi teknik dan program pendidikan terapan termasuk di antara penggerak paling efektif untuk pertumbuhan tenaga kerja di industri data center. Mereka berfokus pada keterampilan praktis, operasi fasilitas, sistem daya dan pendinginan, serta kesiapan kerja di dunia nyata.

Dengan banyaknya data center baru yang dibangun di Texas, program pelatihan tenaga kerja bermunculan di seluruh negara bagian tersebut. Salah satu contohnya adalah program Magister Sains dalam Rekayasa Sistem Data Center (MS DSE) di Sekolah Teknik Lyle SMU di Dallas.

Program ini menggabungkan teknik elektro, TI, manajemen fasilitas, keberlanjutan bisnis, dan keamanan siber. Ada juga program teknisi data center AI selama 12 minggu di Dallas College dan program serupa di Texas State Technical College di dekat Waco.

"Perguruan tinggi teknik memimpin upaya untuk mendatangkan talenta baru ke industri yang mengalami pertumbuhan eksponensial dengan kebutuhan yang hampir tak terbatas akan pekerja terampil," kata Wendy Schuchart, manajer asosiasi di AFCOM.

Vendor dan asosiasi industri juga secara aktif mengatasi kesenjangan talenta. Akademi Data Center Microsoft adalah kemitraan publik-swasta yang melibatkan perguruan tinggi komunitas di wilayah tempat Microsoft mengoperasikan fasilitas data center. Google mendukung organisasi nirlaba dan perguruan tinggi lokal yang menawarkan pelatihan di bidang TI dan operasi data center, serta Amazon menawarkan program magang data center.

Program Siemens Educates America telah melampaui 32.000 program magang di 32 negara bagian, 36 laboratorium, dan 72 organisasi buruh industri mitra. Perusahaan telah berkomitmen untuk melatih 200.000 teknisi listrik dan pekerja manufaktur listrik pada tahun 2030.

Demikian pula, National Electrical Contractors Association (NECA) mengoperasikan Electrical Training Alliance; Society of Manufacturing Engineers (SME) menawarkan ToolingU-SME, yang bertujuan untuk memperluas tenaga kerja manufaktur; dan program Uptime Institute Education berupaya mempercepat kesiapan teknisi dan operator.

"Setiap universitas yang kami ajak bicara sedang memikirkan tantangan ini dan menggeser kurikulumnya untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi masa depan infrastruktur digital," kata Laltrello.

"Cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan membangunnya," ujarnya.

Gaji Selangit

Terpisah, beberapa saat lalu CEO Nvidia Jensen Huang sudah mengumbar soal peluang pekerja teknis seperti tukang listrik dan pipa yang akan banyak dicari di era pengembangan AI.

"Jika Anda adalah tukang listrik, tukang ledeng, atau tukang kayu, akan dibutuhkan ratusan ribu tenaga untuk membangun pabrik," kata Huang kepada Channel 4 News, beberapa saat lalu.

Menurut Huang, pengembangan AI membutuhkan fasilitas data center raksasa di mana-mana. Untuk itu, dibutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar dalam membangun data center tersebut.

"Segmen kerajinan terampil di setiap perekonomian akan mengalami lonjakan. Pertumbuhannya harus berlipat ganda, berlipat ganda, dan berlipat ganda setiap tahunnya," ia menuturkan, dikutip dari Yahoo Finance.

Baru-baru ini, Nvidia mengumumkan investasi senilai US$100 miliar ke OpenAI untuk membiayai pengembangan data center berbasis prosesor AI Nvidia. Secara industri, pengeluaran belanja modal untuk data center diproyeksikan mencapai US$7 triliun pada 2030 mendatang, menurut McKinsey.

Satu fasilitas data center seluas 250.000 kaki persegi digadang-gadang bisa memperkerjakan 1.500 tenaga konstruksi selama pembangunannya. Mayoritas bisa mendapatkan gaji US$100.000 (Rp1,6 miliar), belum termasuk uang lembur.

Pekerjaan konstruksi ini tidak membutuhkan gelar sarjana. Setelah pembangunan selesai, ada 50 pekerja penuh yang dibutuhkan untuk merawat fasilitas tersebut. Masing-masing pekerjaan tersebut memacu 3,5 lapangan pekerjaan lain di perekonomian sekitarnya.

Huang bukan satu-satunya pengusaha raksasa teknologi yang memiliki pemikiran ini. Pada awal 2025, CEO BlackRock Larry Fink mengungkapkan kekhawatirannya kepada Gedung Putih soal deportasi pekerja imigran, ditambah kurangnya ketertarikan kaum muda AS di sektor konstruksi data center.

"Saya bahkan mengatakan kepada tim Presiden Donald Trump bahwa kita akan kehabisan teknisi listrik yang dibutuhkan untuk membangun data center AI," kata Fink.

Selanjutnya, CEO Ford Jim Farley juga mengemukakan kecemasan serupa. Ia menyorot ketimpangan antara ambisi manufaktur Washington dan tenaga kerja di lapangan.

"Saya rasa niatnya ada, tapi tidak ada yang bisa menggantikan ambisi itu. Bagaimana kita bisa memindahkan semua ini ke tempat lain jika kita tidak punya orang untuk bekerja di sana?" ujar Farley.

Menurut unggahan Farley di LinkedIn pada Juni 2025, AS sudah kehilangan 600.000 pekerja pabrik dan 500.000 pekerja konstruksi.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Urgensi Keberlanjutan Saat Kebutuhan Listrik Meledak Era AI

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dian Sastro Tenang saat Jatuh dari Kuda, Kru Film Tegang Banget
• 2 jam lalugenpi.co
thumb
Bikin Panik! Tanggul di Pantai Bakti Bekasi Jebol, Aktivitas Warga Lumpuh Karena Banjir
• 5 jam laludisway.id
thumb
BEI Pelototi Pergerakan 6 Saham Emiten, Ada Apa?
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Terus Melimah, Menkeu Purbaya Optimis Dampak ke Ekonomi akan Minimum
• 2 jam lalufajar.co.id
thumb
Seorang Pekerja PT. Eastern Logistics di Lamongan, Klaim Jadi Korban PHK Sepihak tanpa Pesangon
• 1 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.