Pensiun Nggak Susah! Bank DBS Indonesia Ungkap Cara Menyiapkan Masa Tua

medcom.id
9 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Perubahan struktur usia penduduk kini menjadi tantangan nyata di Indonesia. Seiring meningkatnya angka harapan hidup, kesiapan masyarakat dalam menghadapi masa pensiun masih perlu diperkuat. 
 
Menjawab tantangan tersebut, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation meluncurkan kampanye “Pensiun Gak Susah” untuk mendorong perencanaan pensiun sejak dini agar masa tua dapat dijalani dengan lebih tenang, sejahtera, dan bermakna. Indonesia menuju era masyarakat menua Dalam dua dekade ke depan, struktur demografi Indonesia diperkirakan mengalami pergeseran signifikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada 2035 lebih dari 14 persen penduduk Indonesia akan berusia di atas 60 tahun. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 20 persen atau sekitar 63 juta jiwa pada 2045.
 
Perubahan ini menandai berakhirnya bonus demografi dan meningkatnya urgensi membangun ekosistem pendukung lansia, mulai dari kebijakan, infrastruktur, hingga kesiapan finansial. 

Dengan dukungan yang tepat, kelompok lanjut usia tetap dapat menjalani proses penuaan yang sehat, inklusif, dan produktif. Pensiun sebagai bagian perjalanan hidup Sejalan dengan aspirasi Best Bank for a Better World, DBS Foundation menjadikan isu ageing society sebagai salah satu fokus utama. Pendekatan ini menekankan bahwa usia harapan hidup yang lebih panjang perlu diimbangi dengan kualitas hidup yang baik.
 
“Perubahan demografi yang terjadi hari ini menuntut pergeseran cara pandang dalam mempersiapkan masa depan. Pensiun tidak lagi bisa diposisikan sebagai fase akhir yang dipikirkan belakangan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang perlu dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan,” ujar Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika dalam keterangan tertulis, Selasa, 20 Januari 2026.
  Baca juga: Lebih dari 50% Lansia di Indonesia Belum Merdeka Finansial Panduan awal menyiapkan pensiun Sebagai bagian dari kampanye tersebut, Bank DBS Indonesia menghadirkan Retirement Goal Calculator. Alat ini membantu masyarakat memproyeksikan kebutuhan dana pensiun secara lebih komprehensif, tidak hanya mencakup kebutuhan dasar, tetapi juga gaya hidup yang ingin dipertahankan saat pensiun.
 
Inisiatif ini sejalan dengan misi Live more, Bank less, yang bertujuan menyederhanakan perencanaan keuangan agar masyarakat dapat lebih fokus menikmati hidup dan menatap masa depan dengan percaya diri. Simulasi kebutuhan dana pensiun Sebagai ilustrasi, Reza berusia 30 tahun berencana pensiun di usia 55 tahun dengan estimasi harapan hidup hingga 71 tahun. 
 
Dengan tabungan dan investasi awal, serta asumsi inflasi 3,1 persen dan imbal hasil investasi tahunan rata-rata 5,57 persen, Reza diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp2,52 miliar untuk menopang kebutuhan pensiun selama 16 tahun.
 
Estimasi tersebut mencakup kebutuhan dasar seperti makanan dan utilitas, hingga kebutuhan lain seperti olahraga dan liburan, dengan kebutuhan bulanan sekitar Rp19,5 juta dalam nilai hari ini. Pensiun bukan sekadar soal dana Kesiapan pensiun tidak hanya berkaitan dengan jumlah tabungan. Masa pensiun sering kali membawa perubahan besar dalam rutinitas, peran sosial, dan tujuan hidup. Tanpa perencanaan matang, transisi ini dapat terasa menantang.
 
Founder & CEO, Lead Financial Trainer at QM Financial Ligwina Hananto mengatakan, banyak orang menunda perencanaan pensiun karena menunggu momen yang dianggap ideal, seperti penghasilan stabil, tanggungan berkurang, atau kondisi ekonomi membaik. 
 
Padahal, perencanaan pensiun tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesinambungan. Baik dimulai di usia 20-an maupun 40-an, menurutnya, keputusan paling krusial adalah memulai sekarang dengan pendekatan yang relevan terhadap kondisi saat ini agar strategi yang dibangun tetap adaptif dan mampu bertumbuh seiring perubahan fase hidup. 
 
"Salah satu strategi praktis yang bisa diterapkan adalah formula pos pengeluaran 10/20/30/40. Dari pendapatan bulanan, idealnya minimal 10 persen dialokasikan untuk menabung atau investasi, maksimal 20 persen untuk gaya hidup, maksimal 30 persen untuk cicilan, dan sisanya 40 persen untuk kebutuhan rutin sehari-hari," ucap Ligwina.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Polisi Pantau Data WNA di Bali lewat Aplikasi Cakrawasi, Antisipasi Turis Nakal
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Gibran Janji Bantu Korban Banjir Bekasi, Warga Antusias tapi Masih Trauma
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Kepala BGN Sebut Program MBG Awal 2026 Tembus 21.102 Unit SPPG
• 6 jam lalueranasional.com
thumb
Purbaya Bantah Pencalonan Thomas Djiwandono untuk Intervensi Kebijakan dan Independensi BI
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan yang Berkaitan dengan Bencana Sumatra
• 1 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.