FAJAR.CO.ID — Peristiwa jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan menambah panjang catatan tragedi kecelakaan pesawat mematikan di Indonesia. Setidaknya ada 10 tragedi penerbangan mematikan sejak tahun 1997 hingga 2026 ini.
Tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 yang dioperasikan maskapai Indonesia Air Transport (IAT) terjadi pada Sabtu, 17 Januari 2026. Pesawat yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan ini awalnya dilaporkan hilang kontak pukul 13.17 WITA.
Upaya pencarian Badan SAR Gabungan memastikan pesawat dengan rute penerbangan Yogyakarta-Makassar ini terjatuh di Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, tepatnya di sekitar puncak Gunung Bulusaraung.
Pesawat sewaan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu mengangkut tiga penumpang yang seluruhnya pegawai KKP dan 7 kru pesawat.
Berikut ini ini daftar tragedi mematikan dalam dunia penerbangan di Indonesia yang menelan korban jiwa:
- Pesawat ATR 42-500
Pesawat ATR 42-500 dioperasikan maskapai penerbangan Indonesia Air Transport (IAT) dan dilaporkan hilang kontak di perbatasan Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan.
Pesawat dengan rute Yogyakarta-Makassar ini membawa 10 penumpang, yaitu 7 kru dan 3 pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Pada Minggu, 18 Januari 2026, tim gabungan berhasil menemukan serpihan pesawat. Pada hari yang sama, tim juga kembali menemukan bagian badan pesawat berukuran besar.
Hingga kini, tim masih terus melakukan pencarian korban serta serpihan pesawat lainnya yang belum ditemukan.
- Sriwijaya Air SJ182
Tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air terjadi pada 9 Januari 2021 lalu. Insiden ini mengakibatkan korban jiwa sebanyak 62 orang meninggal dunia.
Pesawat Sriwijaya Air SJ182 rute penerbangan Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Internasional Supadio, Pontianak dilaporkan hilang kontak sebelum akhirnya dinyatakan jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021.
Dalam penerbangan Sriwijaya Air SJ182 ini tercatat membawa 62 orang dengan rincian, 50 orang (7 anak-anak dan 3 bayi), 12 orang kru.
KNKT menyebutkan bahwa penyebab pesawat ini terjatuh karena disebabkan adanya gangguan mekanikal sistem throttle yang tidak dipantau dengan benar.
- Lion Air JT-610
Tragedi mematikan dalam dunia penerbangan juga dicatatkan maskapai penerbangan Lion Air. Pesawat Lion Air 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang dilaporkan hilang kontak pada 29 Oktober 2018 sebelum akhirnya diketahui terjatuh di Tanjung Pakis, Karawang.
Bangkai pesawat ditemukan di lepas pantai Laut Jawa.
Penyebab kecelakaan terkait pengetahuan pilot yang minim terkait sistem terbaru pada pesawat.
KNKT menyimpulkan penyebab kecelakaan pesawat ini, salah satunya adalah karena tak ada panduan pelatihan atau informasi mengenai MCAS di buku panduan pilot sehingga pilot tak mengetahui soal sistem terbaru itu.
Pesawat ini mengangkut 181 penumpang dan 8 kru. Tidak ada satu orang pun yang selamat dalam insiden kecelakaan ini.
- Trigana Air Service
Kecelakaan pesawat juga terjadi pada maskapai Trigana Air Service pada 16 Agustus 2015 silam. Sebanyak 54 orang meninggal dunia. Mereka menjadi korban insiden pesawat Trigana Air Service Penerbangan 267 menabrak Gunung Tangok dalam rute Jayapura ke Oksibil.
Serpihan pesawat ditemukan oleh penduduk desa sekitar di malam hari.
Jumlah korban tewas mencapai 54 orang, Trigana Air Service Penerbangan 267 ini menjadi kecelakaan dengan jumlah korban tewas terbanyak yang melibatkan ATR 42.
Kecelakan ini juga menjadi insiden mematikan dalam sejarah Trigana Air.
- AirAsia Indonesia 8501
Salah satu kecelakaan pesawat terburuk dalam dunia penerbangan Indonesia adalah tragedi jatuhnya pesawat AirAsia Indonesia 8501 pada 28 Desember 2014 silam. Sebanyak 162 orang menjadi korban kecelakaan pesawat mematikan itu.
Tragedi kecelakaan AirAsia Indonesia 8501 berawal dari dinyatakan hilang kontak di sekitar Laut Jawa dekat Selat Karimata.
Pesawat dengan rute penerbangan Indonesia-Singapura ini terbang dari Surabaya pada 28 Desember 2014.
Total seluruh penumpang 162 dengan rincian 155 orang dan awak 7 kru dinyatakan tewas dalam kecelakaan tersebut.
Dilaporkan bahwa pesawat QZ8501 mengalami stall, sebuah keadaan di mana pesawat kehilangan daya angkat yang umumnya disebabkan oleh tinggi hidung pesawat.
Tragedi QZ8501 juga termasuk tragedi dunia penerbangan terburuk ketiga dalam sejarah Indonesia.
- Sukhoi Superjet 100
Kecelakaan Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) terjadi di Gunung salak pada 9 Januari 2012. Sebanyak 45 orang dilaporkan tewas dalam kecelakaan tersebut. Lima orang di antaranya merupakan wartawan yang sedang menjalankan tugas peliputan.
Pesawat Sukhoi Superjet 100 hilang dalam penerbangan demonstrasi yang berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Pada tanggal 10 Mei 2012, serpihan pesawat tersebut terlihat di tebing Gunung Salak.
Laporan menunjukkan bahwa pesawat menabrak tepi tebing di ketinggian 6.250 kaki (1.900 m), meluncur menuruni lereng dan berhenti di ketinggian 5.300 kaki (1.600 m).
- Merpati Nusantara Airlines 9760
Kecelakaan pesawat Merpati Nusantara Airlines 9760 terjadi pada 2 Agustus 2009 silam. Sebanyak 16 orang dilaporkan tewas dalam kecelakaan pesawat tersebut.
Merpati Nusantara Airlines Penerbangan 9760 rute Jayapura – Oksibili dilaporkan hilang kontak dari rute yang seharusnya dilalui.
Serpihan pesawat ditemukan beberapa mil dari Oksibil dua hari kemudian. Seluruh penumpang tewas, terdiri dari 13 penumpang dan 3 kru.
Penyebab dari kecelakaan pesawat ini kemungkinan karena kesalahan pilot.
Laporan Merpati Nusantara Airlines juga menyatakan tak sepenuhnya bekerja sama dengan KNKT.
Hal ini dikarenakan mereka tidak memberikan rincian lengkap pada penyidik mengenai pemeriksaan keadaan awak pesat serta pelatihan yang dilakukan.
- Garuda Indonesia Penerbangan 200
Insiden selanjutnya dialami oleh Garuda Indonesia Penerbangan 200 pada 7 Maret 2007 silam. Sebanyak 21 orang tewas dan 119 selamat
Pesawat dengan rute Jakarta-Yogyakarta ini mengalami kecelakaan saat mendarat di Bandara Adisutjipto.
Pesawat Boeing 737-497 tersebut meluncur keluar landasan pacu hingga berhenti di daerah persawahan yang lokasinya berdekatan dengan ujung landasan pacu.
Akibatnya, kondisi badan pesawat pun terbakar. Sebanyak 21 orang tewas dan 119 lainnya selamat.
- Adam Air 574
Pesawat Adam Air 574 dengan rute penerbangan Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado. Pesawat jatuh di Selat Makassar pada 1 Januari 2007 silam.
Sebanyak 102 orang dilaporkan tewas serta bangkai pesawat tak pernah ditemukan.
Peristiwa jatuhnya pesawat Adam Air menjadi salah satu kecelakaan paling mematikan dalam dunia penerbangan Indonesia.
Penyebab kecelakaan ini dilaporkan pilot kehilangan kendali atas pesawat setelah sibuk memecahkan masalah di sistem navigasi dan secara tak sengaja memutus sambungan autopilot.
Secara rinci, pesawat Adam Air Penerbangan 574 membawa 96 orang penumpang. Terdiri dari 85 dewasa, 7 anak-anak dan 4 bayi. Pesawat diterbangkan pilot Kapten Refri Agustian Widodo dan co-pilot Yoga Susanto, disertai pramugari Verawati Chatarina, Dina Oktarina, Nining Iriyani dan Ratih Sekar Sari. Pesawat tersebut juga membawa 3 warga Amerika Serikat.
Setelah 7 bulan pesawat dinyatakan hilang, kotak hitam Adam Air Penerbangan 574 akhirnya ditemukan pada 27 Agustus. Benda tersebut diitemukan di perairan Majene, Sulawesi Barat pada pukul 12.19 WIB. Selain perekam data penerbangan atau FDR ini, juga ditemukan perekam suara kokpit di kedalaman 2.000 meter.
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT Tatang Kurniadi memastikan dalam penemuan kotak hitam Adam Air di perairan Majene, Sulawesi Barat itu, tidak ditemukan serpihan-serpihan bekas tubuh manusia. Adapun Pencarian dan pengangkatan kotak hitam pesawat dari dasar laut ini, dilaporkan memakan biaya lebih dari Rp 27 miliar.
Setelah 14 bulan kemudian pasca-insiden, pada Selasa, 25 Maret 2008 KNKT mengumumkan kesimpulan mereka bahwa kecelakaan pesawat Adam Air pada Januari 2007 dipicu adanya penyimpangan pada sistem navigasi di pesawat. Fokus konsentrasi pilot pada malfungsi IRS mengalihkan perhatian terhadap instrumen lain sehingga pesawat lepas kendali.
- Garuda Indonesia 152
Tragedi penerbangan paling mematikan terjadi pada kecelakaan pesawat Garuda 152 dengan rute penerbangan Jakarta-Medan. Pesawat ini jatuh ketika hendak mendarat pada 26 September 1997 silam.
Kecelakaan ini telah menewaskan semua penumpang yang berjumlah 234 orang (222 penumpang dan 12 kru).
Hingga saat ini, kecelakaan tersebut menjadi tragedi penerbangan terburuk dalam sejarah Indonesia. (*)



