Berita kecelakaan pesawat ATR 42-500 PK-THT di kawasan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, mengguncang Neltje Maramis yang tinggal di Minahasa, Sulawesi Utara. Putrinya, Florencia Lolita (32), sedang bertugas mengawaki pesawat yang dikabarkan hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) itu.
Keesokan harinya, Minggu (18/1/2026), Neltje sudah berada di Bandara Sam Ratulangi. Tiket Batik Air tujuan Makassar yang diberangkatkan pada 16.45 Wita sudah dikantonginya.
Didampingi suaminya, ayah tiri Florencia, Neltje yang sedang berduka akan membantu tim identifikasi korban musibah (DVI) mengenali Florencia yang belum diketahui nasibnya.
”Terakhir (telepon) sama Olen (Florencia) dua malam berturut-turut sebelum dia berangkat,” ujar Neltje kepada para wartawan yang menemuinya di bandara.
Ia mengatakan, Florencia sudah lama berkarier sebagai pramugari, termasuk sekitar 14 tahun di Lion Air. Dua bulan terakhir, dia baru mulai bekerja di Indonesia Air Transport (IAT).
”Tapi, terbangnya baru satu bulan ini,” kata Neltje sembari menambahkan bahwa putrinya itu menetap di Jakarta untuk pekerjaan tersebut.
Florencia adalah satu dari 10 korban kecelakaan pesawat yang terjadi di wilayah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan itu. Hingga senin (19/1/2026) malam, tim DVI Polri telah mengumpulkan data antemortem, atau deskripsi keadaan fisik korban sebelum meninggal, dari keluarga delapan korban.
Sejauh ini, tim pencarian dan penyelamatan (SAR) gabungan telah menemukan dua jenazah korban. Pencarian disebut sangat menantang karena tertutup kabut tebal di lereng gunung. Menurut Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Seorjanto Tjahjono, pesawat kemungkinan besar menabrak gunung.
Melihat kondisi puing-puing pesawat yang tercerai-berai di beberapa lokasi, Neltje dan keluarga besarnya sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, sebagaimana dikatakan bibi Florencia, Suly Mandang.
”Tapi kita, kan, tidak boleh mendahului penyampaian dari Basarnas,” tambahnya.
Sekalipun tinggal di Jakarta, Florencia disebut Suly dekat dengan keluarga di Minahasa yang tinggal di Desa Kendis, Kecamatan Tondano Timur.
”Biasanya kami video call group. Itu cara untuk tetap update biarpun jauh, ya,” ujarnya.
Menurut Suly, keluarga di Kendis mendengar kabar soal kecelakaan pesawat yang diawaki Florencia dari kakak Florencia yang juga seorang pramugari. Neltje pun menangis tanpa henti karena duka.
”Kami coba hibur. Kami bilang, siapa tahu ada keajaiban,” katanya.
Ia menambahkan, keluarga hanya bisa berdoa sambil terus mengharapkan yang terbaik. ”Semoga proses evakuasi bisa berlangsung baik sampai kami mendapatkan kabar yang benar-benar fixed. Tapi, sebagai orang yang percaya, kami yakin bahwa apa yang sudah terjadi itu pasti baik, baik untuk Florencia dan keluarga,” tutur Suly.
Di tengah kekalutan keluarga korban, pengamat sekaligus pembuat konten digital seputar industri penerbangan, Alvin Lie, mengimbau semua instansi yang berkewenangan menangani kecelakaan pesawat untuk membentuk pusat krisis. Tujuannya, menyediakan informasi yang dibutuhkan keluarga korban.
Ini meliputi perkembangan terkini mengenai kecelakaan, evakuasi, dan kondisi korban. Pada saat yang sama, masyarakat luas pun harus dilayani agar dapat memahami apa yang terjadi. ”Fokusnya terutama adalah kepada keluarga korban, juga pendampingan, karena pasti mereka mengalami guncangan jiwa,” kata Alvin.
Pusat krisis itu juga harus berfungsi sebagai pendukung tim SAR dan DVI untuk memperlancar evakuasi dan investigasi. ”Yang paling penting dalam kecelakaan pesawat dari segi public relations adalah seperti itu, dengan harapan dapat menghasilkan rekomendasi untuk mencegah kecelakaan serupa,” ujarnya.





