Veronika, Bukti Kalau Sapi Ternyata Bisa Lebih Pintar dari yang Kita Duga

detik.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Sapi perah Brown Swiss berusia 13 tahun ini bernama Veronika. Dia tinggal di Desa Nötsch, Pegunungan Carinthia, Austria selatan. Veronika adalah hewan peliharaan seorang petani setempat yang bebas berkeliaran di padang rumput.

Layaknya hewan peliharaan lain, Veronika menikmati ketika punggungnya digaruk, dan jika tidak ada manusia ramah yang bisa melakukannya, bukan masalah baginya. Veronika mampu menggunakan sikat atau tongkat untuk menggaruk dirinya sendiri. Dia mengambil benda-benda seperti tongkat, garu, atau sikat dengan mulutnya, lalu menggunakannya untuk menjangkau dan menggaruk berbagai bagian tubuhnya.

Oleh karena itu, Veronika menjadi sapi pertama yang pernah diamati mempraktikkan hal yang disebut "embodied tooling," atau penggunaan alat pada tubuhnya sendiri.

Tak hanya itu, saat diberi sikat gosok, Veronika menggunakan kedua sisi alat tersebut untuk menggaruk dirinya. Dia bisa memilih bagian tubuh mana yang ingin dijangkau.

Hal unik ini dianggap sebagai "penggunaan alat multipurpose". Sesuatu yang sebelumnya hanya pernah tercatat pada simpanse di Afrika Tengah (dan manusia).

Alice Auersperg dan Antonio Osuna-Mascaro dari University of Veterinary Medicine di Wina merekam dan menganalisis perilaku Veronika. Mereka mempublikasikan temuan tersebut dalam sebuah studi baru di jurnal Current Biology pada 19 Januari 2026.

Berawal dari keinginan untuk membuktikan video Veronika nyata atau AI

Sebagai seorang pakar, Auersperg awalnya menerbitkan sebuah buku tentang perilaku dan inovasi hewan pada Februari 2025.

Setelah itu, dia dibanjiri pesan dari orang-orang yang menceritakan perilaku inovatif yang diklaim pernah terlihat pada kucing atau burung peliharaan mereka.

Namun, ada satu video yang secara khusus menarik perhatiannya. Dalam video tersebut, seekor sapi cokelat (Veronika) terlihat menggunakan garu tua untuk menggaruk punggungnya, di sebuah kawasan dengan latar desa Austria yang asri, yang "terlihat seperti adegan dari Sound of Music," kata Auersperg kepada DW.

Barulah dia dan Osuna-Mascaro pergi ke rumah Veronika di Nötsch untuk memastikan apakah video itu nyata atau tidak. Alasannya sederhana. AI kini telah tersebar di mana-mana, sehingga perlu dipastikan bahwa aktivitas sapi itu adalah kejadian sungguhan atau rekayasa.

"Kita tidak bisa begitu saja mempercayai anekdot seperti itu," jelas Auersperg. "Anda bisa membuat deepfake, atau perilaku yang dilatih secara intensif."

Karena itu, dia dan rekannya memutuskan untuk melihat sendiri sapi pengguna alat tersebut.

Hasilnya, Veronika benar-benar sapi sungguhan. Pemiliknya, Witkar Wiegele, sebelumnya juga memelihara ibu Veronika sebagai hewan peliharaan. Kini, Veronika sendiri mulai melenguh keras setiap kali melihat Wiegele datang.

Veronika mampu maksimalkan alat untuk tujuan berbeda

Saat mengamati Veronika, Auersperg dan Osuna-Mascaro menyantap makanan apple strudel bersama keluarga Wiegele.

Setelah beberapa hari, Auersperg harus kembali ke Wina, tetapi Osuna-Mascaro tinggal di Nötsch selama beberapa pekan dan melakukan 70 percobaan dengan Veronika.

Dalam percobaan-percobaan itu, Veronika berulang kali memperagakan penggunaan alat multipurpose dengan sikat gosok yang disediakan peneliti.

"Veronika lebih menyukai ujung sapu dibandingkan gagangnya, dia menggunakannya 2,5 kali lebih sering," jelas Osuna-Mascaro kepada DW.

Veronika menggunakan ujung berbulu itu untuk menggaruk bagian belakang dan bagian atas tubuhnya dengan sapuan panjang dan lebar.

"Namun, dari waktu ke waktu, dia juga menggunakan ujung gagang," papar peneliti tersebut. "Pada awalnya, kami mengira itu akibat kesalahan. Tetapi ternyata dia menggunakan ujung gagang dengan cara yang bermanfaat, dia memakainya untuk menggaruk bagian tubuh yang kulitnya lembut dan sensitif, seperti ambing, lipatan pusar, dan perutnya."

Saat menggunakan ujung gagang, Veronika juga menggaruk dengan cara berbeda, yakni lebih berupa gerakan menusuk dengan hati-hati.

"Kita berasumsi sapi itu bodoh"

Osuna-Mascaro mengatakan bahwa mengenal Veronika merupakan sebuah "pengalaman yang intens."

"Kadang-kadang sapi berperilaku agak seperti kucing," sebutnya. "Mereka tidak seperti anjing yang langsung mendekat. Anda perlu mendapatkan kepercayaan (Veronika)."

Namun, mengapa sapi di pedesaan Austria ini menunjukkan perilaku yang sebelumnya belum pernah terlihat, atau setidaknya belum pernah tercatat secara ilmiah, pada jenis sapi mana pun?

Salah satunya karena para peneliti perilaku hewan tidak terlalu memberi perhatian pada sapi.

"Veronika bukan termasuk spesies eksotis yang biasanya kami cari untuk penelitian penggunaan alat," beber Auersperg. Sapi adalah "spesies ternak yang telah didomestikasi selama 10.000 tahun. Mereka ada di mana-mana di sekitar kita. Kita hanya berasumsi mereka bodoh karena mereka adalah hewan ternak."

Hanya saja, penggunaan alat oleh Veronika menunjukkan bahwa manusia mungkin telah meremehkan sapi. Auersperg dan Osuna-Mascaro juga tidak menganggap ini sebagai kasus satu-satunya.

"Kami tidak percaya bahwa Veronika adalah Einstein versi sapi," tegas Auersperg.

Sebaliknya, mereka menduga bahwa kondisi hidup Veronika-lah yang memungkinkan penggunaan alat multipurpose tersebut.

"Tidak seperti hampir semua sapi di planet ini, Veronika tidak dipelihara untuk produksi (susu atau daging), melainkan sebagai hewan peliharaan keluarga yang dicintai," sambung Auersperg.

Pemiliknya mengatakan bahwa Veronika membutuhkan waktu bertahun-tahun berlatih dengan tongkat untuk menyempurnakan penggunaan alat garuk. Sebagian besar sapi tidak hidup hingga usia 13 tahun.

"Dia adalah hewan peliharaan, dia mendapatkan banyak stimulasi, banyak benda di sekitarnya yang bisa diambil dan diajak berinteraksi, dan dia diberi umur yang panjang," papar Auersperg.

"Kami sama sekali tidak memiliki bukti bahwa sapi adalah hewan bodoh," lanjutnya. "Bahwa kemampuan ini tidak teramati mungkin berkaitan dengan cara kita memelihara hewan-hewan ini."

Mungkin kita akan lebih sering melihat sapi menggunakan alat jika kita memberi mereka kebebasan untuk berkeliaran dan bereksplorasi.

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Muhammad Hanafi

Editor: Prihardani Tuah Purba

width="1" height="1" />




(ita/ita)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Terkendala Cuaca, Evakuasi Dua Jenazah Pesawat ATR 42-500 Bakal Dilakukan Terpisah
• 5 jam lalukompas.id
thumb
Tiba di KPK, Maidi Umbar Senyuman tanpa Masker di Wajah
• 19 jam lalurealita.co
thumb
Rombongan Investor Rusia Mau Masuk RI, Incar Jawa dan Daerah Ini
• 28 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
VinFast Mengklaim Sukses Catatkan Penjualan Domestik Sebanyak 147.450 Unit, Tertinggi se-Vietnam
• 19 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pramono Anung Tak Masalah Buruh Gugat UMP Jakarta ke PTUN: Silakan, Ini Negara Demokrasi
• 18 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.